Selamat Datang di Sabda Hairus Saleh

Tuesday, April 12, 2016

Menelisik Biografi Abdurrahman Wahid

         Oleh Hairus Saleh
Nama Abdurrahaman Wahid sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Abdurrahman Wahid dikenal juga dengan nama Gus Dur. Gus adalah panggilan kehormatan untuk putra dari keluarga Kiai. Gus itu sendiri adalah kependekan dari kata bagus. Di Madura, gus (bagus) dikenal dengan istilah lora. Dia adalah anak pertama dari enam bersaudara dari pasangan priyai terkemuka di Indonesia. Bapaknya, Kiai Abdul Wahid Hasyim adalah putra Kiai Hasyim Asy’ari yang merupakan pendiri oraganisasi Islam terbesar di Indonesia, bahkan di dunia, jamʻiyah Nahdlatul Ulama (NU). Sedangkan ibunya, Nyai Sholehah, adalah putri dari tokoh besar NU dan juga seorang Kiai terkemuka, Kiai Bisri Syamsuri.[1]
Mengenai hari kelahiran Gus Dur, beberapa penulis berbeda pendapat. Tim Institute of Culture and Religion Studies (INCRES), id.wikipedia.org dan beberapa penulis menyebutkan bahwa tanggal kelahirannya bertepatan pada 4 Agustus 1940 M. Sedangkan Greg Barton menyebutkan bahwa pada 7 September adalah tanggal kelahiran Gus Dur. Alasannya, penanggalan kelahiran Gus Dur berdasarkan pada penanggalan Islam, yaitu 4 Sya’ban yang bertepatan pada tanggal 7 September 1940 M.[2]
Tetapi Greg Barton dan Tim Institut of Culture and Religion Studies (INCRES) sepakat bahwa Gus Dur adalah keturunan dari Lembu Peteng (raja Brawijaya VI) melalui Jaka Tingkir (putera Lembu Peteng), pangeran Bawana (putera Jaka Tingkir).[3] Jaka tingkir adalah tokoh yang pertamakali dianggap sebagai orang yang memperkenalkan Islam di daerah pantai timur laut pulau Jawa. Sedangkan pangeran Bawana merupakan orang yang rela meninggalkan kemegahan kerajaan demi mengajar sufisme kepada masyarakat.[4]
Sejak belajar bersama kakeknya, Gus Dur memang sudah terbiasa hidup sederhana. Dalam pendidikan ia justru belajar di sekolah-sekolah sederhana. Di masa kecil ia belajar di pondok pesantren yang diasuh kakeknya. Ketika di Jakarta, ia belajar di sekolah dasar KRIS (Jakarta Pusat) dan pindah ke SD Matraman Pertiwi.[5] Untuk tingkat sekolah menengah pertama ia sekolah di Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP) Tanah Abang, dan pindah ke SMEP Yogyakarta. Di samping itu ia juga belajar ilmu agama kepada Kiai pengasuh pondok pesantren seperti KH. Maksum Ali, KH. Fatah, KH. Masduki dan KH. Bisri Syamsuri.[6]
Selain kakeknya, ayah Gus Dur, Wahid Hasyim (pemimpin Islam sekaligus pejabat kementerian agama) mempunyai jasa yang besar terhadap perkembangan intelektual Gus Dur. Ayahnyalah yang mengajarkannya banyak hal, terutama dalam hal pluralitas dan toleransi. Karena Gus Dur adalah orang yang selalu menemani Wahid Hasyim dalam setiap aktivitasnya dengan berbagai golongan, termasuk dengan Tan Malaka.[7]
Gus Dur memang sosok yang mempunyai kebiasan berbeda dengan lainnya. Sejak kecil ia sudah terbiasa berbaur dengan berbagai golongan dan keadaan sebagaimana diajarkan kakek dan ayahnya. Kebiasaan ini turut memperkaya khazanah intelektualnya, karena setiap orang yang pernah berinteraksi dengannya pasti membawa budaya, ideologi serta kemampuan intelektualnya. Seperti Willem Buhl, di samping mengajarinya bahasa Belanda, ia juga menyuguhkan musik klasik ala Eropa.[8] Inilah modal awal Gus Dur yang akan menyadarkanya tentang pentingnya saling menghormati dan pentingnya memanusiakan manusia.
Dari aspek intelektual, Gus Dur juga merupakan sosok yang mempunyai kebiasaan berbeda dengan orang lain seusianya. Ketika di Jakarta, ia sering membaca buku di Perpustakaan Umum dan akrab dengan berbagai majalan, surat kabar, novel, filsafat, dokumen sejarah manca negara, cerita silat hingga fiksi sastra.[9] Hal itu didukung oleh anjuran ayahnya untuk membaca buku apa saja yang disukai dan kemudian secara terbuka membicarakan ide-ide yang mereka temukan.[10]
Maka dari itu, menjadi sangat wajar jika dalam usia 15 tahun saja ia sudah membaca buku-buku berat seperti Das Kapital karya Karl Marx, buku-buku filsafat Plato, Thales, novel-novel William Bocher dan Romantisme Revolusioner karangan Lenin Vladimir Ilych.[11] Bacaannya tentang pemikiran filsafat barat juga diteruskan sampai ia kuliah di Universitas Baghdad Iraq. Ia banyak membaca pemikiran Emile Durkheim dan filosof-filosof Barat lainnya.[12] Tetapi yang tidak kalah bahwa ia juga belajar dengan tekun tentang buku-buku Islam tradisional sejak keberadaannya di pondok pesantren, Universitas al-Azhar Mesir dan Universitas Baghdad. Serta banyak membaca tentang sastra dan kebudayaan Arab, dan teori sosial.[13]
Meskipun Gus Dur banyak membaca buku tentang pemikiran-pemikiran barat, tetapi tidak kemudian melupakan bacaan-bacaan dan ajaran Islam tradisional yang merupakan identitas ideologinya. Pemikiran-pemikiran barat tampak banyak memengaruhinya, sehingga ia mampu berpikir secara sistematis. Yaitu kajian-kajian yang dikelutinya dilakukan secara empiris dengan menggunakan pisau mitodologi yang tajam. Ia juga tetap mempertahankan ajaran spritualitas dengan mengunjungi makam para wali. Di samping itu ia mendapat pengokohan ajaran spiritualitasnya dengan menggeluti ajaran Imam Junaidi al-Baghdadi.[14]
Dalam pandangannya mengenai Islam, ia banyak mengaji mengenai Islam tradisional dan menghormati kebudayaan lokal. Hal itu yang menjadikan Gus Dur tidak terbatasi oleh ideologi, sehingga ia mempunyai ruang yang lebih luas di ranah nasional dibandingkan dengan Kiai lain. Dengan demikian ia dijuluki dengan sebutan Kiai ketoprak.[15]
Tidak puas-puasnya Gus Dur belajar. Meskipun sudah menjabat sebagai presiden, ia tetap tidak gengsi untuk terus belajar pada orang-orang yang dianggap lebih hebat darinya. Orang yang dijadikannya guru selain guru di pesantren ialah Presiden Kim Dae Jung yang merupakan Presiden Seoul dan Sulakhshi Bharaksa dari Thailand. Keduanya ialah guru Gus Dur yang masih hidup di masanya. Sedangkan gurunya yang sudah meninggal di antaranya Ialah Sun Yat Sen, Jose Rizal, Jawaharal Nehru, Mahatma Gandhi dan Soekarno.[16]
Sepulangnya ke Indonesia, Gus Dur banyak berkiprah di dunia penulisan dan aktivitas akademis lainnya. Misalnya ia aktif menulis di Majalah Tempo, Jurnah Prisma, Kompas dan Pelita.[17] Kemudian dia mendirikan Forum Demokrasi (FORDEM). Sekaligus penggagas berdirinya Gerakan Anti Diskriminasi (Gandi).
Gus Dur juga pernah menjadi salah seorang presiden pada Konfrensi Dunia untuk Agama dan Perdamaian yang berkedudukan di Jenewa, Swiss. Ia juga pernah menjadi anggota Pembina Simon Pereze untuk Perdamaian yang Bermarkas di Tel Aviv, Israel dan menjadi dewan penasehat pada Internasional Dialoque Foundation on Perspective Studies of Syariah and Secular Law, di Den Haag, Belanda.[18]
Berbagai penghargaan juga pernah dinobatkan kepadanya. Salah satunya ialah penghargaan Nobel Asia yang disebut Hadiah Ramon Magsaysay yang digelar di Manila, Filipina. Penghargaan tersebut diberikan berdasarkan keterlibatan yang besar dan mempunyai komitmen yang tinggi terhadap demokrasi serta upaya menumbuhkan toleransi antar umat beragama di Indonesia.[19] Penghargaan yang diterima tersebut tidak salah, karena selama hidupnya Gus Dur memang memerjuangkan kemanusiaan lewat demokrasi. Menurut putrinya, Yenny Zannuba Wahid, di sambutan dalam suatu buku, bahwa Gus Dur adalah orang yang sepanjang hidupnya berjuang untuk kemanusiaan.[20]


[1] Tim Institute of Culture and Religion Studies (INCRES), Beyond the Symbols: Jejak Antropologis Pemikiran dan Gerakan Gus Dur (Bandung: INCRES, 2000), Cet. Ke-1, h. 4.
[2] Greg Barton, Biografi Gus Dur, terj. Lia Hua (Yogyakarta: LKiS, 2003), Cet. Ke-1, h. 25.
[3] Tim INCRES, Beyond the Symbols, h. 6.
[4] Greg, Biografi Gus Dur, h. 27.
[5] Greg, Biografi Gus Dur, h. 70.
[6] Ahmad Bahar, Biografi Kiai Politik Abdurrahman Wahid: Gagasan dan Pemikiran (Jakarta: Bina Utama, 1999), h. 4-5.
[7] Greg, Biografi Gus Dur, h. 35.
[8] Tim INCRES, Beyond the Symbols, h. 6.
[9] Tim INCRES, Beyond the Symbols, h. 7.
[10] Greg, Biografi Gus Dur, h. 40.
[11] INCRES, Beyond the Symbols, h. 9.
[12] Greg Barton, Liberalisme: Dasar-dasar Progresivitas Pemikiran  Abdurrahman Wahid” dalam Greg Barton dan Greg Fealy (ed), Tradisionalisme Radikal: Persinggungan Nahdlatul Ulama-Negara, terj. Ahmad Suaedy dkk (Yogyakarta: LKiS, 1997), h. 170.
[13] Ibid, h. 168.
[14] Budi Hadrianto, 50 Tokoh Islam Liberal Indonesia Pengusung Ide Sekulerisme, Pluralisme, dan Liberalisme Agama (Jakarta: Hujjah Press, 2007), h. 18.
[15] Listiyono Santoso, Teologi Politik Gus Dur (Yogyakarta: al-Ruzz, 2004), h. 71.
[16] Tim INReS, Beyond the Symbols, h. 22.
[17] Ibid, h. 19.
[18] Ahmad, Biografi Kiai Politik Abdurrahman Wahid, h. 37.
[19] Mujamil Qamar, NU Liberal dari Tradisionalisme ke Universalisme Islam (Bandung: Mizan, 2002), h. 167.
[20] Yenny Zannuba Wahid, “Gus Dur: Seorang Pejuang Kemanusiaan,” Rumadi (ed), Damai Bersama Gus Dur (Jakarta: Kompas, 2010), h. xix.

0 comments:

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost Review