Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

PERKEMBANGAN SAINS DALAM ISLAM

Sains yang selama ini dikenal masyarakat modern menampakkan diri sebagai ilmu yang berasal dari Barat, Sehingga sains selalu identik dengan pengetahuan Barat yang maju. Jika ditelusuri lebih jauh, pada masa kegelapan Barat, mereka mencampakkan sains dan pada saat itu justeru umat Islam menyelamatkannya melalui penerjemahan besar-besaran. Kegigihan umat Islam dalam mempelajarinya membuat umat Islam maju di berbagai pengetahuan. Untuk memahami lebih detail tentang perkembangan sains dalam Islam, silahkan simak ulasan Prof. Mulyadi Kartanegara pada group facebooknya.
Perkembangan Sains dalam Islam

Pengertian Sains dalam Islam

Meskipun kata sains kadang dipakai dalam arti umum sebagai terjemahan dari ilmu, tapi khusus untuk diskusi ini, sains dipakai dalam arti ilmu-ilmu alam (natural sciences). Sains dalam arti ini meliput seluruh bidang ilmu yang berkenaan dengan objek-objek fisik, atau terkait langsung dengan fisik, sekalipun mungkin pada dirinya bukan fisik.

Perkembangan Ilmu Sains dalam Islam

Sains masuk ke dunia Islam tidak terlalu lama setelah Nabi kita, Muhammad s.a.w. meninggal dunia. Ia masuk dari berbagai penjuru dunia, terutama India dan Yunani, melalui penerjemahan naskah-naskah ilmiah yang mereka cari dari berbagai tempat dan mereka simpan dalam koleksi mereka.
Sebenarnya disiplin ilmiah yang pertama digemari oleh para penguasa pada masa itu adalah sains yang berimplikasi praktis, seperti alkemi, astrologi dan kedokteran. Alkemi sangat penting bagi mereka (terutama para penguasa), karena bisa menghasilkan berbagai unsur kimia yang sangat diperlukan untuk kehidupan sehari-hari, seperti untuk pembuatan sabûn, minyak wangi bahkan sebagai eliksir. Salah seorang penguasa yang dikenal mengabdikan dirinya pada studi alkemi adalah Mu‘âwiyyah b. Yazîd dari Dinasti ‘Ùmayyah, yang karena frustasi tidak jadi penguasa, memalingkan perhatiannya pada alkemi. Alkemi adalah ilmu terapan dari kimia, yang mencoba memanfaatkan daya-daya kimiawi untuk kepentingan dan kesejahteraan manusia, sebagai pemakainya.
Astrologi adalah sejenis ilmu yang sangat diperlukan oleh para penguasa, bahkan bisa sangat menentukan langkah-langkah besar apa yang harus diambil oleh mereka, terutama dalam keadaan yang genting, seperti mengadakan perang ataupun pengangkatan penguasa baru. Astrologi merupakan ilmu terapan dari astronomi, yang ingin memanfaatkan daya-daya astronomis yang dipelajari dari astronomi. Sekalipun status keilmuannya sering diragukan, tetapi penerapannya oleh para penguasa sangat meluas, termasuk penguasa yang terkenal rasional, seperti al-Ma’mûn.
Tentu saja kedokteran sangat diperlukan oleh para penguasa, terutama untuk memelihara kesehatan dan kesejahteraan dirinya dan keluarganya agar pelaksanaan dan penyelenggaraan negara dapat dijamin. Tidak diragukan lagi bahwa semua penguasa pasti memerlukan disiplin ilmu yang satu ini. Dikatakan bahwa kedokteran merupakan cabang dari fisika, dan memanfaatkan pengetahuan ilmu fisik ini untuk kepentingan pemeliharaan kesehatan manusia.
Tetapi lama-kelamaan mereka semakin menyadari pentingnya ilmu teoritis dari mana ketiga ilmu praktis tadi bersumber. Maka dipelajarilah kimia, astronomi dan fisika oleh para sarjana Muslim, atas dukungan penguasa, termasuk al-Kindî dan al-Razi (w. 313 H/925 M) dan generasi berikutnya oleh al-Fârâbî, Ibn Sînâ, Ibn Haytsâm (w. 430 H/1038 M) al-Bîrûnî (w. 432 H/1041 H). Berbagai karya kuno di bidang-bidang ini telah diterjemahkan dan diberi komentar, seperti the Element karya Euclid di bidang matematika dan Almagest karangan Ptolemius.
Namun segera mereka pun sadar bahwa ketiga disiplin ini merupakan cabang dari ilmu yang lebih luas lagi yaitu filsafat, yang dipahami pada saat itu sebagai sumber dari semua ilmu rasional (al-‘ulûm al-‘aqliyyah) yang oleh Ibn Khaldun dikontraskan dengan ilmu-ilmu agama (al-‘ulûm al-naqliyyah). Apa yang sekarang kita pahami sebagai sains, pada masa klasik dimasukkan sebagai ilmu-ilmu filsafat, karena filsafat biasanya menjadi basis rasional bagi sains-sains alamiah. Oleh karena itu perkembangan sains tidak bisa dipisahkan dari perkembangan filsafat, dan nyatanya kebanyakan saintis besar adalah juga filosof.
Hairus Saleh
Hairus Saleh Akademisi jadi blogger. Blogger menjadi tempat untuk tuangkan berbagai gagasan dan pemikiran.

Post a Comment for "PERKEMBANGAN SAINS DALAM ISLAM"

close