Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

BIOGRAFI SEYYED HOSSEIN NASR

Seyyed Hossein Nasr lahir pada tanggal 7 April 1933 di kota Teheran, Iran. Ayahnya seorang guru dan dokter pada masa dinasti Qajar bernama Seyyed Valiullah Nasr yang juga seorang ulama terkenal di Iran. 

Nasr mendapat gelar Seyyed dari raja Syah Reza Pahlevi sebagai tanda kebangsawanan Iran. Nasr dan keluarganya adalah penganut aliran Syi'ah tradisional yang menjadi aliran teologi Islam mayoritas penduduk Iran. Dominasi paham Syi'ah di Iran bertahan sampai sekarang karena didukung oleh banyak ulama terkenal dan berpengaruh.[1]

Nasr memperoleh pendidikan tradisional di Iran, baik secara informal dan formal. Pendidikan informalnya dia dapat dari keluarganya, terutama dari ayahnya. Sedangkan pendidikan tradisional formalnya diperoleh di madrasah Teheran. Selain itu, Nasr juga belajar di lembaga atau madrasah pendidikan di Qum yang diasuh oleh Allamah Thabathaba'i untuk belajar filsafat, teologi dan tasauf serta mendapat pelajaran tentang hafalan Al-Qur’an dan pendidikan tentang seni Persia klasik. Untuk memahami ajaran agama, di dalam paham Syi’ah digunakan beberapa metode yaitu, metode formal agama, metode intelektual dan penalaran intelektual, metode intuisi atau penyingkapan spiritual. 
Seyyed Hossein Nasr
Seyyed Hossein Nasr
Metode-metode tersebut merupakan tahapan belajar untuk memahami aspek-aspek ajaran Islam dalam Syi'ah. Metode pertama digunakan untuk mempelajari ilmu-ilmu keislaman formal yang mencakup hukum-hukum dalam fiqh, mempelajari al-Qur’an dan Hadis.[2]

Dalam pembelajan formal, para murid diajari cara menggali hukum-hukum fikih dengan baik dan benar dan sesuai dengan dalil-dalil dari al-Qur’an dan Hadis. Yaitu menggali agar mengetahui hal mana yang boleh dilakukan dan hal mana yang tidak boleh dilakukan. Dengan kata lain pendidikan tentang syariah Islam dilakukan di tahap awal untuk melandasi para murid tentang akhlak, cara beribadah hingga cara hidup bermasyarakat. 

Pada tataran berikutnya digunakan metode intelektual yang berusaha membimbing para muridnya untuk dapat menggunakan logika intelektual aqliyyah untuk memahami realitas-realitas hingga dapat diterima secara rasional dan mudah dalam memahami. Pelajaran tentang filsafat, kalam dan logika diberikan dengan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Ajaran agama tidak dapat diterima dengan lebih baik tanpa diajarkannya ilmu-ilmu tersebut. Hal ini penting karena dalil-dalil keagamaan yang ada harus dijelaskan dengan benar dan diterima oleh rasio sebelum dilakukan. 

Doktrin dalam pelajaran sariat formal di atas harus diterima akal yang kemudian diyakini dengan sepenuhnya. Pada tahap ketiga para murid diajarkan tentang ilmu rasa yang berbasis pengetahuan intuisi. Pelajaran ini membimbing para murid untuk mengetahui dan memahami Dunia Atas dan Realitas Tertinggi dengan melakukan penapakan-penapakan jalan kerohanian. Pelajaran tasauf menjadi ilmu utama yang diajarkan guna membimbing murid memahami dan melakukan hal ini. 

Ketajaman intuisi dan peningkatan kadar spiritualitas menjadi target utama untuk menuju al-Haq atau Yang Maha Benar. Pada tingkat pendidikan pertama dan kedua di atas murid telah terarahkan menuju kadar keimanan yang mantap, sedangkan ditataran pembelajaran yang ketiga ini para murid diajak memasuki dunia makna dan kebenaran hakiki yang tidak terbantahkan lagi baik oleh akal dan dalil-dalil formal yang masih memungkinkan mempunyai kesalahan. 

Dapat dilihat bagaimana Syi'ah mempunyai metode pembelajaran yang cukup baik dengan membimbing para muridnya menggunakan nalar bayani, burhani, dan irfani yang tersistematisasi. Belajar dari yang fisik menuju metafisik, dari realitas terendah menuju Realitas Tertinggi dan dari jasmaniah menuju ruhaniah.[3] Sistem inilah yang menjadi ciri khas dan tradisi keberagamaan kaum tradisional dan tentunya menjadi ciri khas. Keberagaman kaum tradisional dan tentunya menjadi ciri khas masyarakat Timur dalam memandang realitas.[4]

Pada masa ini arus modernisasi Barat sangat gencar menyerang dunia Timur. Secara sadar keadaan ini dipahami oleh Seyyed Valiullah Nasr untuk segera melakukan sesuatu. Hal yang harus dia lakukan adalah menyelamatkan puteranya agar tidak terkena imbasnya, sehingga beliau membekali Nasr dengan ilmu tradisional semenjak dini sebelum belajar ilmu lain. Selain itu keinginan membendung arus modernisasi ini harus dilakukan juga dengan mempelajarinya didunia asalnya, maka dikirimlah Seyyed Hossein Nasr untuk belajar di Barat, yaitu di Amerika. 

Obsesi Valiullah Nasr agar Hossein Nasr menjadi orang yang memperjuangkan kaum tradisional dan nilai-nilai ketimuran dimulai dengan memasukkan Hossein Nasr ke Peddie School di Hightstown, New Jersey lulus pada tahun 1950. Kemudian melanjutkan ke Massacheusetts Institute of Technology (MIT). Di institusi pendidikan ini Nasr memperoleh pendidikan tentang ilmu-ilmu fisika dan matematika teoritis di bawah bimbingan Bertrand Russel yang dikenal sebagai seorang filosof modern. Nasr banyak memperoleh pengetahuan tentang filsafat modern.[5]

Selain bertemu dengan Bertrand Russel, Nasr juga bertemu dengan seorang ahli metafisika bernama Geogio De Santillana. Dari tokoh kedua ini Nasr banyak mendapatkan informasi dan pengetahuan tentang filsafat Timur, khususnya yang berhubungan dengan metafisika. Dia. diperkenalkan dengan tradisi keberagamaan di Timur, misalnya tentang Hinduisme. 

Selain itu Nasr juga diperkenalkan dengan pemikiran-pemikiran para peneliti Timur, diantaranya yang sangat berpengaruh adalah pemikiran Frithjof Schuon tentang perenilaisme. Selain itu juga berkenalan dengan pemikiran Rene Guenon, A. K. Coomaraswamy, Titus Burchardt, Luis Massignon dan Martin Lings. Pada tahun 1956 Nasr berhasil meraih gelar Master di MIT dalam bidang geologi yang fokus pada geofisika. 

Belum puas dengan hasil karyanya, beliau merencanakan untuk menulis disertasi tentang sejarah ilmu pengetahuan dengan melanjutkan studinya di Harvard University. Dari sini terlihat adanya sebuah perubahan arah berpikir Nasr yang semula menekuni ilmu-ilmu fisika, menjadi kearah yang abstrak tentang sejarah pemikiran. Berpikir tentang sejarah ilmu pengetahuan dapat dipastikan harus bersinggungan denga filsafat yang pada ujungnya mengarah kepada metafisika. 

Hal ini dikarenakan adanya pengaruh para pemikir metafisis dan juga karena latar belakang tradisionalismenya yang khas Timur dan Syi'ah yang mendorong kearah berpikir dibalik yang fisik. Baginya berpikir fisika sudah membosankan karena banyak hal dibalik fisika yang perlu dipahami dan tidak dapat terelakkan untuk dipertanyakan dan dicari jawabannya.[6]


[1] Mehdi Aminrazavi, "Persia" dalam Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam, Seyyed Hossein Nasr dan Oliver Leaman,(Bandung: Mizan, 2003) h.1376-1380. 

[2] M. Thabathaba'i, Islam Syi'ah ,(Jakarta: Graffiti Press, 1989), h. 90. 

[3] Sayyed Hossein Nasr Loren Bagus, Kamus Filsafat (Jakarta: Gramedia, 2000), h. 1115-1116. 

[4] Ali maksum, Tasauf sebagai pembebasan manusia modern Signifikansi Konsep “Tradisionalisme Islam,” (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,2003), h. 83-86. 

[5] Frithjof Schuon, Islam dan Filsafat Perenial, terj. Rahmani Astuti (Bandung: Mizan,1995), h. 65-69 
[6] Ahmad Norma Permata, Tradisi dalam Perenialisme: Melacak Jejak Filsafat Abadi, (Yogyakarta Tiara Wacana, 1996), h. 161-166.
Hairus Saleh
Hairus Saleh Akademisi jadi blogger. Blogger menjadi tempat untuk tuangkan berbagai gagasan dan pemikiran.
close