Selamat Datang di Sabda Hairus Saleh

Thursday, May 20, 2010

Tafsir Surat At Tiin Ayat 4-6

A. At Tiin Ayat 4

“Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”

Manusia bukanlah makhluk yang tercipta dengan sendirinya sebagaimana yang dikemukakan materialisme, tetapi manusia adalah makluk yang diciptakan oleh Tuhan (Allah). Di ayat ini Tuhan menggunakan kata kami, menunjukkan adanya keterlibatan pihak selain Tuhan dalam penciptaan ini, dalam hal ini yang terlibat adalah ibu, dan bapak manusia.

Sedangkan yang dimadsud dengan bentuk yang sebaik-baiknya adalah bahwa manusia diciptakan Tuhan dibekali keistimewaan yang tidak dimiliki makhluk lain berupa kesempurnaan yang melebihi makhluk lainya. Dalam pemahaman kesempurnaan disini meliputi kesempurnaan fisik ideal tegak lurus seperti yang kita ketahui dalam kehidupan sehari-hari, tangan yang memudahkan manusia mengambil sesuatu dengan mudah, dan kesempurnaan jiwa, dan akal yang digunakan untuk mengontrol segala perbuatan yang baik atau buruk, atau kita bisa meringkas kesempurnaan-kesempunaan manusia tersebut dengan kata kesempurnaan fisik, dan psikis.

B. At Tiin Ayat 5

“Kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya.”

Manusia diciptakan Tuhan melalui dua tahap. Tahap pertama yaitu tahap pembentukan tubuh (fisik), kedua, tahap penghembusan Ruh Ilahiyah yang bersumber lagsung dari Tuhan.

Seperti diketahui, pada manusia diciptakan dengan menyempurnakan fisiknya terlebih dahulu melalui proses ilmiah, yaitu dimulai dengan sari pati bumi, kemnudian pertemuan antara ovum, dan sperma, kemudian berdempetnya zyghot kedinding rahim, kemudian segumpal daging, dan tulang, dan setelah fisiknya disempurnakan baru ditiupkanlah Ruh kepadanya.

Fisik beraktivitas untuk mempertahankan hidup jasmani, dan keturunan, sedangkan roh mengantarkan hubungan dengan penciptanya, dan inilah yang menunjukkan kebutuhan-kebutuhan jasmaninya sesaui dengan tuntunan Ilahi. Ruh Ilahi adalah daya tarik yang mengangkat manusia ke tingkat kesempurnaan. Manusia mencapai tingkat setinggi-tingginya apabila terjadi perpaduan antara kebutuhan jasmani, dan rohani, antara kebutuhan fisik, dan jiwa. Tetapi, apabila ia hanya memperhatikan, dan melayani kebutuhan-kebutuhan jasmaninya saja, ia akan kembali atau dikembalikan kepada proses awalnya, sebelum Ruh Ilahi itu menyentuh fisiknya, ia kembali ke asfala safilin.

E. At Tiin Ayat 6

“Kecuali orang-orang yang beriman, dan mengerjakan amal saleh; Maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.”

Namun di pembahasan ayat ini dijelaskan bahwa orang-orang yang beriman, dan beramal shalehlah yang tidak dijatuhkan ketempat yang serendah-rendahnya tadi, karena ia mempertahankan kehadiran iman dalam kalbunya, dan beramal shaleh dalam kehidupan sehari-hari.

Maksud dari kata (ممنون) disini adalah terputusnya krisis atau kesulitan yang dihadapi sang penerima disebabkan adanya nikmat yang diberikan Tuhan kepadanya. Penjelasan ini bisa diambil dari pengembalian kata ممنون terambil dari kata منن yang mempunyai arti memutus atau memotong. Dengan demikian ghairu mamnun berarti tidak putus-putusnya. Kata منة yang mengandung makna nikmat/karunia juga berasal dari kata yang sama, sehingga dapat disimpulkan dengan penafsiran seperti yang sudah dipaparkan.

DAFTAR PUSTAKA

Ash Shiddieqy, Hasbi, Tafsir Al Qur’anul Majid An Nuur, jilid 2, Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2000
Shihab, M. Quraish, Tafsir Al Mishbah, jilid 5, Jakarta: Lentera Hati, Cet. IX, 2002
Asy-Syanqithi, Syaikh, Tafsir Adhwa’ul Bayan, jilid 2, diterjemahkan oleh Bari, dkk, Jakarta: Pustaka Azzzam, Cet I, 2007
Departemen Agama, Al Qur’an, dan Tafsirnya, Jakarta: PT., dana Bhakti Wakaf, 1990



4 comments:

al-anshori said...

boleh dijelaskan dengan detail tidak???

sabdakhairus said...

yang mana yang harus dijelaskan lebih detail kawan...

rey dylanza said...

terima kasih

Hairus Saleh said...

okk..sip..sama sama

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost Review