Selamat Datang di Sabda Hairus Saleh

Friday, November 12, 2010

Tafsir Surat al A'raf ayat 175-176

Oleh Hairus Saleh
Mahasiswa Filsafat UIN Jakarta 
 
PENDAHULUAN
Manusia adalah makhluk yang menggantikan Tuhan sebagai khalifah dimuka bumi - sebagai mana disebutkan dalam tafsir al Mishbah jilid 2 - yang dilengkapi dengan keunggulan-keunggulan berupa keindahan potur tubuh, dan terutama akal yang tidak dimiliki makhluk lainnya temasuk malaikatpun tidak memilikinya.

Kelebihan – kesempurnaan – inilah yang menjadikan manusia sangat berperan, dan selalu dijadikan bahan perbincangan dalam kehidupan ini. Sebagai makluk yang lebih sempurna dibandingkan yang lainnya yang terutama dalam segi potensinya dalam berfikir, manusia tidak hanya diam tergeletak bersama dunia, akan tetapi dia berhadapan dengan dunia (Heiddeger). Manusia tidak hanya diam mengikuti alur pergerakan dunia, dan pasrah menerima nasipnya begitu saja selayaknya binatang yang hanya berjalan apa adanya mengikuti kodratnya tanpa ada perubahan apapun, dan sedikitpun dari kehidupannya dari dulu sampai sekarang, dan kemungkinan bEsar sampai masa yang akan datang. Akan tetapi manusia selalu bergerak berusaha melawan kodrat untuk mendapatkan perubaha-perubahan yang sesuai dengan kecendrungan yang dia inginkan yaitu menuju kebahagiaan, dan kehidupan yang lebih sempurna, baik didunia lebih-lebih dihadapan Tuhannya.

Dalam mencapai tujuan manusia yang paling utama (kebahagiaan akhirat). Manusia tidak dapat menghilangkan/mengabaikan kehidupan dunia, karena untuk mencapai kebahagiaan tersebut manusia harus menjalankan petunjuk-petunjuk yang diberikan Tuhan kepadanya dengan menggunakan potensi-potensi yang sudah Tuhan persiapkan/tanamkan dalam benak setiap manusia, baik petunjuk Tuhan secara langsung dari firmanNya, ataupun petunjukNya yang melalui lainnya yang berupa petunjuk dari pemahaman, dan petunjuk dari alam.

Untuk itu, pemakalah akan menjelaskannya dengan jelas berdasarkan petunjuk-petunjuk yang didapatkan langsung dari al Qur’an, dan diperkuat dengan tafsir-tafsir para mufassir yang keilmuannya diakui dunia. Dalam makalah ini akan dijelaskan tentang manusia seperti yang sudah terperinci diatas yang difokuskan pada surat al A’raf ayat 175-176, dan surah at Tiin ayat 4-6.

TENTANG MANUSIA

A. Surat al A’raf 175:

“Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang Telah kami berikan kepadanya ayat-ayat kami, Kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), Maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat.”

Ayat ini diperintahkan kepada Rasulullah oleh Allah untuk menyampaikan pesan Allah (al Qur’an) yang berisi petunjuk bagi orang-orang musyrik untuk memudahkan mereka mengetahui, dan memahami keesaan Tuhan yang Maha Esa (Allah) sehingga mereka mempunyai pedoman, dan pegangan dalam beraqidah, dan berisi tuntunan keagamaan yang diridhai Allah swt, akan tetapi mereka tidak peduli – mengabaikan - petunjuk tersebut, dan mengingkarinya, serta tidak mengamalkannya .

Dalam pembahasan ini, sebenarnya pengetahuan tentang keesaan Tuhan sudah menjadi fitrah yang sudah melekat dalam diri manusia, yang sewaktu-waktu bisa mereka kembangkan, dan mereka musnahkan. Namun ayat ini adalah sebagai perumpamaan terhadap orang-orang yang telah mengetahui kebenaran, dan dimilikinya akan tetapi mereka mengingkarinya, dan enggan mengikuti tuntunan kebenaran bahkan menyimpang darinya. Mereka itu melepaskan apa yang ada pada dirinya bagaikan ular melepaskan kulitnya – meninggalkan diri dari ayat tersebut, dan tidak mengamalkannya - maka mereka diikuti setan sampai mereka tergoda, sehingga jadilah mereka kelompok orang-orang yang sesat .

Maksud kata menguliti (انسلخ) adalah mereka bukan hanya tidak mengamalkan petunjuk yang diberikan Allah kepada mereka, melainkan mereka memang benar-benar membuangnya jauh-jauh - benar-benar melupakannya/benar-benar menghilangkannya - dari hidup mereka. kesimpulan ini bisa ditarik dari asal kata tersebut, yaitu: kata انسلخ berasal dari kata سلخ yang bermakna membeset atau mengupas kulit sesuatu sehingga terpisah secara penuh, kulit, dan daging atau isi sesuatu.

Kata فا تبع الشيطان ada yang memahaminya dalam arti diikuti sehingga terkejar oleh setan lalu menggodanya 
sehingga ia terjerumus., dan ada juga yang memahaminya, bahwa yang bersangkutan demikian sangatlah bejat, dan durhaka, maka setan sang pendurhaka itu yang mengikutinya.

Sedangkan kata فكان من الغاوين (sehingga jadilah ia orang-orang yang sesat) menunjukkan bahwa kesesatanya sudah sangat jauh sehingga ia wajar dimasukkan dalam kelompok itu. Karena jika seseorang dimasukan dalam suatu kelompok tertentu, menunjukkan kemantapan serta kemampuannya yang luar biasa menyangkut profesi kelompok tersebut, sehingga redaksi semacam itu lebih dalam maknanya dari pada redaksi Dia adalah sesat .
B. Surat al A’raf 176:
“Dan kalau kami menghendaki, Sesungguhnya kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia, dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, Maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya, dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). demikian Itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Maka Ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.”

Tuhan adalah Maha segala-galanya, dialah Tuhan yang Maha kuasa atas segalanya, beliau bisa malkukan apa saja jika beliau menghendakinya, termasuk meninggikan derajat manusia dengan cara menyucikan jiwanya merupakan suatu hal yang sangat mudah baginNya, yaitu melalui petunjuk-petunjukNya yang tersirat dalam firmanNya. Dan perlu diketahui bahwasanya kehendak Allah tersebut mengikuti amal seseorang karena memang manusia dibekali potensi (kemampuan) untuk berusaha menemukan yang terbaik sesuai ataupun yang tidak sesuai dengan petunjuk Tuhan .

Ayat ini menjelaskan tentang orang-orang (Hina) yang sudah menpunyai pengetahuan – tentang ayat-ayat Allah - yang mendalam, namun ia melepaskan tuntunan pengetahuan tesebut, ia mendapatkan pengetahuan akan tetapi masih terjerumus mengikuti hawa nafsunya, yang akan mengarahkan ia kepada ketamakan terhadap dunia. Tidak peduli ia butuh atau tidak, ia sudah memiliki hiasan dunia maupun belum, ia terus menerus mengejar, dan berusaha mendapatkan, dan menambah perhiasan dunia, karena yang demikian itu sudah menjadi sifat bawaan yang diumpamakan seekor anjing yang selalu terengah-engah sambil menjulurkan lidahnya yang tidak hanya dalam kedaan letih, dan haus, tapi dalam keadaan apapun dia akan selalu seperi itu.

Klik untuk PDF artikel ini, DOWNLOAD

8 comments:

syafir said...

sip,,, artikel bermanfaat....

sabdakhairus said...

makasih bro..

Arikz Sevenfold said...

mantap boz....
izin mau baca,,

sabdakhairus said...

sip... di persilahkan kawan....

rizky said...

_
I )
/ I
/__',_
/( __ _)\
I ( __ _ ))
I ( __ _) ) sip sip sip..
\(___ _)/

Hairus Saleh said...

terimakasih gan...

Om Agus said...

Izin share ya

Hairus Saleh said...

siap.. dipersilahkan share sebanyak2nya sob..

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost Review