Selamat Datang di Sabda Hairus Saleh

Tuesday, May 29, 2012

Fenomenologi Husserl

Pendahuluan
Sebagai mahasiswa falsafah, kita sudah cukup dibingungkan oleh berbagai metode pemikiran para filusuf yang sangat spekulatif. Entah apa yang menyebabkan kebingungan tersebut. Apakah kebingungan itu disebabkan oleh penulis buku-buku falsafah yang menjelaskannya begitu rumit karena penulis juga tidak begitu paham terhadap yang ia tulis. Atau karena mahasiswa yang mempunyai IQ rendah sehingga ia tidak mampu mengorek pesan tersirat dalam tulisan sehingga mahasiswa tidak faham terhadap pemikiran filusuf. Atau mahasiswa mempunyai IQ tinggi tetapi malas untuk membacanya.
Apapun itu, yang jelas memahami semua pemikiran para tokoh filusuf merupakan suatu yang sangat penting mengingat kita adalah mahasiswa falsafah.
Minggu yang lalu, kita telah belajar tentang pemikiran Karl Marx dan Feuer Bach yang merupakan Hegelian sayap kiri. Mereka yang membumikan idealism hegel karena dianggap tidak ada gunanya membahas hal tersebut.
Namun sekarang kita akan membahas tentang pemikiran femomenologi Edmund Husserl dan Max Scheler. Pemikiran kedua filosuf ini jelas tidak sama dengan pemikiran sebelumnya. Karena pemikiran ini merupakan suatu respon terhadap pemikiran sebelumnya yang dianggap sudah menjauh dari kebenaran yang hakiki tentang benda itu sendiri.
Penjelasan itu hanyalah sedikit saja dari penjelasan fenomenologi yang sangat luas dan mendalam. Dan tidak wajib kita mempelajarinya karena bukan rukun Islam. Tetapi kita harus mempelajarinya agar faham terhadapnya dan tidak ketinggalan ketika seseorang yang membicarakannya.
Dalam mempelajari pemikiran suatu tokoh, kita tidak harus mengikutinya. Namun kita cukup paham saja. Dan mencoba mengetahui metode yang digunakannya. Sehingga kita suatu saat akan mempunyai metode has yang lebih unggul dari sebelumnya. Inilah tujuan yang sangat mendasar penulis menyajikan makalah ini.
Fenomenologi Edmund Husserl
Fenomenologi berasal dari dua kata yaitu fenomenon dan logos. Fenomenon  mempunyai makna sama dengan akar kata fantasi yaitu sesuatu yang bersinar. Dari sinar tersebut muncullah pengertian sesuatu yang tampak karena bercahaya. Atau lebih pasnya kita sebut dangan gejala. Gejala dalam kamus bahasa Indonesia (edisi keempat) berarti keadaan yang menjadi tanda-tanda akan timbulnya sesuatu.
Dari penjelasan di atas sudah terlihat tendensi fenomenologi yang akan kita bicarakan. Bahwa fenomenologi akan berbicara bagaimana manusia mendapatkan realita semurni-murninya tanpa harus ada campur tangan subjek, orang lain ataupun segala sesuatu di luar fenomen itu sendiri. Artinya, kebenaran tersebut hanya ada pada fenomen itu sendiri yang tampak pada kesadaran manusia.
Manusia mengenal realita yang sebenarnya ketika antara manusia bertemu dan bersatu dengan realitas. Keadaan inilah yang oleh Edmund Husserl disebut sebagai sebuah fenomena (belum murni) atau fenomen untuk lebih mudahnya. Kita sebut dengan fenomen belum sempurna karena dalam keadaan ini, selain menampakkan dirinya, fenomen juga menyembunyikan dirinya. Baik ketersembunyiannya itu disebabkan oleh fenomen itu sendiri ataupun oleh  subjek itu sendiri. sehingga fenomen tersebut masih terselubungi oleh kabut-kabut. Kira-kira demikian maksudnya.
Oleh karena itu manusia harus terus-menerus bertanya, menganalisis terhadap fenomen tersebut guna untuk mendedah realitas yang sebenarnya, sehingga tersingkaplah kabut tersebut dan tampaklah pengertian tentang fenomen yang sebenarnya.
Dalam pembahasan fenomenologi ini, kita bisa menguraikannya dalam dua perbedaan yaitu fenomenologi sebagai sebuah metode dan fenomenologi sebagai sebuah ajaran.
Fenomenologi sebagai Sebuah Metode
Untuk mengetahui dan faham metode ini. Sangat begitu penting mengetahui tujuan Husserl bahwa metode tersebut tidak lain untuk menerangkan bahwa pengertian kita tentang sesuatu betul-betul real. Yaitu kita mengerti dan dalam pengertian itu kita berkata bahwa pengertian itu mempunyai objek. Pembahasan ini sangat erat kaitannya dengan persoalan kebenaran pengertian ilmiah secara umum.
Dalam pemaparan yang lain dan bahkan di atas sudah sedikit disinggung bahwa dalam menggapai kebenaran manusia tidak memunyai hak mencampuradukkan pengetahuannya tentang fenomen –yang hendak diketahui kebenarannya- dengan fakta atau gejala yang berasal dari fenomen itu sendiri. Husserl juga mengatakan bahwa teori-teori atau pengetahuan yang sudah tertanam dalam sanubari manusia tidak akan membantu tersingkapnya kebenaran yang hakiki dari fenomen tersebut, bahkan ia yang akan mensuramkannya. Ia yang akan memunculkan makna-makna baru diluar fenomen tersebut.
Dengan demikian, manusia harus mengurung (menahan) segala sesuatu yang tidak berhubungan dengan objek atau fenomenal –istilah tepatnya menyaring hal yang tidak penting- sehingga yang tersisa murni hanyalah fenomen itu sendiri. Namun, di sini muncul suatu pertanyaan bagaimana caranya? Tidak ada cara lain kecuali manusia menetapkan fenomen sebagai suatu sumber satu-satunya yang akan menebarkan penjelasan murni.
Penjelasan seperti ini kadang disalah artikan-sebagai suatu pengetahuan spontan terhadap objek. Misalnya kita menangkap suatu fenomen sebutlah itu kera, anjing dan Helmy. Ketika melihat objek-objek tersebut, kita mengklaim bahwa apa yang di dapat dari objek tersebut merupakan pengetahuan yang real. Maksud Husserl tidak demikian, karena pengetahuan spontan seperti itu masih ada suatu campur tangan subjek. Ini dibuktikan dengan pembicaraan tentang hal itu karena penampakan yang seakan penampakan tersebut tidak dihiraukan sehingga yang kita sebenarnya memandang realita diluar fenomen tersebut kemudian kita justifikasikan sebagai fenomen yang sesungguhnya karena itu sudah menjadi kebiasaan.
Tetapi Husserl mempunyai keinginan lebih jauh dari itu. Dimana manusia bisa mampu memahami keseluruhan dari fenomen semurni mungkin tanpa ada yang mencampurinya. Langkah yang dilakukan selain yang sudah dijelaskan di atas, manusia harus menganalisis segala yang intisari yang berhubungan dengan fenomen. Sedangkan yang tidak penting dan diluar fenomenal kita harus menyaringnya atau menahannya atau kalau perlu dibuang saja. Sehingga pada akhirnya sampailah pada idea yang menjelaskan secara real tentang hakikat sesuatu.
Fenomenologi sebagai Ajaran
Fenomenologi sebagai ajaran Husserl ini pada akhirnya mengarah pada pandangan idealisme meskipun tidak sama persis dengan pemikiran idealisme Hegel dan kawan-kawa. Kesimpulan ini berasal dari akhir analisis Husserl tentang realitas yang sebenarnya. Analisis Husserl terhadap realita tersebut menghasilkan suatu yang transenden. Suatu yang trasenden tersebut tidak lagi terikat dengan suatu yang empiris, tetapi lepas darinya.
Alasan-alasan yang mendasari statement tersebut adalah karena memang ketika realitas dunia dianalisis ternyata yang lahir hanyalah keraguan. Kebenaran tentang barang-barang dunia tidak bisa dipertanggung jawabkan. Menurut Husserl objek empiris tersebut memang tidak ada yang benar atau real. Sehingga apapun yang masih melekat pada dunia empiris tidak akan pernah bisa memberikan suatu penjelasan tentang suatu realitas.
Mungkin akan ada pertanyaan tentang bagaimana ketika kita memandang sudut-sudut kursi seperti panjang, lebar, berkaki empat dan lain sebagainya? Itu semua bukan realitas tetapi hanya sebauh penampakan. Yang real adalah bukan cirri-ciri kursi tetapi totalitas dari kursi yang merupakan pemangku dari semua itu yang pada akhirnya hanya ada kata kursi.
Kursi disini bukan secara empiris. Kursi secara empiris hanyalah sebuah gejala awal. Tetapi kursi yang real itu adalah sesuatu yang ditangkap oleh kesadaran kita. Apa yang kita sebut sebagai realitas supraempiris. Kursi yang ada tersebut adalah kursi yang kita tanggap dengan kesadaran kita.
Artinya, segala yang ada hanyalah apa yang kita tangkap dari pengalaman empiris kemudian ditransendenkan oleh kesadaran kita sehingga ia tidak lagi berada dalam dunia empiris tetapi berada dalam dunia non empiris yang pasti ada yang tidak terbantahkan lagi. Dengan kata lain, objek tersebut dibentuk oleh kesadaran kita.
Dari pemaparan diatas jelaslah pemikiran idealisme Husserl. Pemikiran yang berujung pada suatu yang dibenarkan oleh kesadaran kita. Dan diluar kesadaran tersebut adalah ketiadaan. Setelah pembahasan fenomenologi Husserl kini kita akan membahas fenomenologi Max Scheler.
Fenomenolgi Max Scheler
Max Scheler merupakan salah satu orang yang sangat mengagumi pemikiran Husserl tentang fenomenologi. Pada awalnya ia memang tidak setuju dan menentang seluruh aliran-aliran falsafah pada waktu itu, tentunya juga dengan metodenya. Buktinya, dari sekian lama ia memcari metode sendiri dan pada akhirnya ia menemukan metode yang menurutnya baik. Metode tersebut adalah metode yang dibawa oleh Husserl yaitu metode fenomenologi.
Dari situlah kita melihat bahwa Scheler sangat berutang budi pada Husserl. Namun, tidak berarti ia hanya mengkopi paste metode Husserl seperti layaknya mahasiswa AF-B yang jangan-jangan sukanya hanya mengkopi paste tulisan untuk dijadikan makalah, Mungkin juga saya.
Scheler mendasarkan metode fenomenologinya kepada hati dan perasaan. Maksudnya, untuk menggapai kebenaran hakiki manusia harus berinteraksi dengan objek sebagaimana teori Husserl. Namun, ketika manusia menghadapi fenomena, yang tampak sebagai kebenaran merupakan adalah sesuatu yang tampak pada hati dan perasaan. Mungkin Scheler tergila-gila dengan cinta atau terjerat virus-virus cinta. sehingga dalam menghadapi fenomen ia menghadapinya dengan cinta. demikianlah penjelasan dijelaskan Driyakarya.
Selain itu Scheler menambahkan sesuatu di metode fenomenologi Husserl. Inilah diantara yang menjadi cirri has metode Scheler. Scheler mengatakan manusia harus menahan segala sesuatu atau pengakuan dalam menghadapi realita. Manusia harus melepaskan diri dari dari kecendrungan ia atau tidak, begini atau begitu. Sehingga yang tersisa hanyalah realitas dari fenomen itu sendiri.
Selanjutnya, tidak hanya melepaskan dari apa yang telah dijabarkan di atas. Manusia juga harus melepaskan dirinya sendiri dari diri sendiri dan ikatan yang bersifat kegemaran, kesenangan dan terutama dari belenggu hidup yang rendah. Dalam hal ini Scheler tampak sebagai orang yang bijak sana. Karena ia menyarankan untuk melakukan sesuatu yang terpuji sepert jangan sombong, rendah hati dan lain sebagainya.
Kesimpulan
Jelas bahwa fenomenologi merupakan suatu respon terhadap isme-isme yang ada pada waktu itu. Karena kaum fenomenologi menganggap bahwa pemikiran ataupun metode faham-faham selain yang diyakini sudah keluar dari kebenaran tentang apa yang didefinisikan.
Kemudian, setuju atau tidak fenomenologi sudah sangat memberikan ilham dan sangat berpengaruh terhadap perkembangan berbagai ilmu pengatahuan berikutnya seperti psikologi humanistik seperti yang dijelakan Fuad Hassan, ilmu jiwa, sosiologi, estetika, ilmu budaya dan lain sebagainya. Tetapi yang mengilhami ilmu di atas adalah fenomenologi sebagai sebuah metode yang memang sebagai metode tidak bisa dilepaskan dari doktrin. Demikianlah kata penulis buku Esai-Esai Falsafah Pemikiran yang diterbitakan Gramedia.

Bahan Bacaan
Bagus, Loren. Kamus Falsafah, Jakarta: Gramedia, cet iv, 2005
Driyarkara, Esai-Esai Falsafah Pemikiran Yang Terlibat Penuh Dalam Perjuangan
 Bangsanya, Jakarta: PT Kompas, PT Gramedia, Kanisius dan Ordoserikat Jesus Provinsi Indonesia, 2006
Hassan, Fuad, Stadium General, Jakarta: Dunia Pustaka Jaya, cet ke-3, 2001
Nasution, Hasan Bakti, Falsafah Umum, Jakarta: Gaya Media Pertama, cet I, 2001


0 comments:

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost Review