Selamat Datang di Sabda Hairus Saleh

Monday, May 21, 2012

Benarkah Tuhan itu Ada?

(Argumen Ontologis, Kosmologis, Teleologis dan Moral)

Pendahuluan
Problem  manusia yang selalu menjadi permalahan sampai sekarang ialah tentang wujud Tuhan. Para saintis telah mencurahkan segala upayanya untuk memecahkan masalah itu. Namun semakin usaha itu ditingkatkan, semakin banyak pula permasalahan yang ditemukan tentang ketuhanan itu.
Kajian tentang keTuhanan, tidak hanya dikaji sejak zaman yunani kuno, tetapi jauh sebelum itu, gagasan, pencarian akan argumen keberadaan Tuhan sudah berlangsung, barangkali sejak lahirnya manusia pertamakali. Tetapi ironisnya, belum dan bahkan tidak ada argumen yang memadahi untuk membuktikan keberadaan Tuhan secara keseluruhan. Tidak ada argumen universal yang mampu meluluhkan segala rasionalitas manusia, sehingga manusia bisa menerimanya dengan rasional.
Anehnya, walau pun tidak ada argumen yang kuat tentang keberadaan Tuhan itu, manusia tetap meyakini bahwa Tuhan itu ada. Manusia tetap beribadah kepada Tuhan, memohon kepadanya dan rela berkorban deminya. Dan tidak sedikit yang menganut kepercayaan itu. Ternyata, menurut Karen Amstrog dalam bukunya “Sejarah Tuhan” bahwa manusia menerima keberadaan Tuhan itu bukan dari rasionalitas, tetapi dari keyakinan atau hati atau menerima argumen ketuhanan yang sesuai dengannya.
Meskipun demikian, segala usaha telah dilakukan oleh para saintis. Mereka mecoba membuktikan keberadaan Tuhan itu dari berbagai perspektif. Secara garis besar bisa diklasifikasikan menjadi argumen ontologis, kosmologis, teleologis dan moral.
Pemahasan ini lah yang akan disajikan dalam makalah ini. Kami akan mencoba menggali argumen-argumen itu secara mendalam, aktif dan berkobar. Sehingga diharapkan mampu merangsang budi, hati dan jiwa audien untuk terus menggali dan menggali gagasan tentang keilmuan secara luas.
A.  Argumen Ontologis
Dalam bukunya Prof. Dr. Amsal Bakhtiar, M.A. Ontologis berarti, Ontos = sesuatu yang berwujud, ontology = teori / ilmu tentang wujud tentang hakikat yang ada. Argumen  ontologis  tidak banyak berdasar pada alam nyata, tetapi argument ini berdasarkan pada logika semata. Argumen ontologis  ini dipelopori oleh Plato (428- 348) dengnan teori idenya.  Yang dimaksud ide ialah definisi atau konsep universal dari setiap sesuatu. Menurut Plato yang ada di alam ini hanyalah bayang semata, dan mempunyai ide. Dan ide tersebut yang merupakan hakikat dari sesuatu itu. Ide tersebut sekaligus menjadi dasar wujud sesuatu itu.  Ide bersifat kekal, ide tersebut berada tersendiri yaitu alam ide.  Benda-benda di alam nyata senantiasa berubah ini, bukanlah hakikat tetapi hanya bayangan, gambaran dari ide-idenya yang ada dalam alam ide, yaitu Zat paling sempurna.  Dengan kata lain, benda-benda yang dapat ditangkap, diraba dengan pancaindra dan berubah ini bukanlah benda-benda yang asli, bukanlah hakikat tetapi hanya bayangan.  Benda berwujud karena ide-ide. Ide-ide adalah tujuan dan sebab dari wujud benda-benda. Ide-ide terkumpul atau bersatu dalam ide tertinggi yang diberi nama ide kebiakan atau the Absolute God, yaitu yang mutlak baik. Yang mutlak baik itu adalah sumber, tujuan dan sebab dari segala yang ada. Yang Mutlak baik itu disebut juga Tuhan.
Selain Oleh Plato, argument Ontologis ini dikeluarkan juga oleh St. Agustinus ( 354-430M). Ia berpendapat bahawa di alam ini ada kebenaran. Pada saat yang sama, akal akan mengetahui hal yang benar, namun terkadang ragu-ragu bahwa apa yang diketahuinya itu benar. Dengan kata lain Akal manusia mengetahui bahwa di atasnya masih ada sesuatu kebenaran yang tetap, kebenaran yang tak berubah-ubah. Kebenaran ini lah yang menjadi sumber dan cahaya bagi akal dalam usaha mengetahui apa yang benar. Kebenaran yang tetap dan kekal itu merupakan kebenaran mutlak dan disebutlah dengan Tuhan. [1]
Kemudian argument ontologism ini dikeluarkan oleh St. Anselm dari Cantebury (1033-1109). Ia mengeluarkan konsep sesuatu yang Maha besar, maha sempurna, sesuatu yang tak terbatas. Zat yang serupa ini mesti mempunyai wujud dalam hakikat, sebab kalau ia tak mempunyai wujud dalam hakikat dan hanya mempunyai wujud dalam pikiran, zat itu tidak mempunyai sifat lebih besar dan sempurna dari yang lain. Mempunyai wujud dalam alam hakikat, lebih besar dan sempurna daripada mempunyai wujud dalam alam pikiran.  Yang maha sempurna dan sesuatu yang besar itu ialah Tuhan, dan karena sesuatu yang terbesar dan tersempurna tak boleh tidak mesti mempunyai wujud, maka Tuhan mesti mempunyai wujud. Tuhan mesti ada.[2]
B.  Kosmologi Membendung Keraguan terhadap Eksistensi Tuhan
Ada merupakan apa yang memiliki akualitas. Lorens bagus menyamakannya dengan eksistensi dalam pengertian secara umum.[3] Jadi ada itu tidak harus tampak pada indera atau ada itu tidak terbatas pada yang temporal saja, tetapi lebih dari itu juga termasuk yang metafisik, yang tidak tampak pada indera, yang mempunyai akualitas.
Kosmologi berarti alam semesta, dunia. Lebih luasnya, ia berpengertian ilmu tentang alam semesta sebagai suatu sistem yang rasional dan teratur. Dalam kajiannya, menyatakan bahwa alam adalah bersifat mungkin dan bukannya wajib dalam wujudnya. Alam adalah akibat dan setiap akibat tentu ada sebabnya.[4]
Kosmologi ini sering kali disebut dengan sebab akibat. Di dalam hukum sebab akibat, selalu ada yang lebih dahulu (prioritas). Setiap sebab akibat pasti ada yang mengatakan bahwa yang satu adalah sebab dan yang satu adalah akibat. Sedangkan sebab harus mendahului akibat.[5]
Oleh Ibnu Sina dikatakan bahwa alam pada dirinya adalah mumkin al-wujud. Kalau alam itu merupakan mumkinun wujud, maka tidak mungkin mengaktualkannya sendiri. Di mana terdapat mumkinul wujud, maka harus diaktualkan. Kalau mumkinul wujud itu dibiarkan, maka tidak pernah aktual karena sifat dasar dari wujud potensial itu adalah bahwa jika dia diaktualkan tetapi tidak bisa mengaktualkan dirinya sendiri.
Kalau alam yang pada dirinya adalah mumkin al-wujud, maka sampai kapan pun ia tidak akan mewujud kecuali ada yang mengaktualkannya dan yang mengaktualkannya sudah pasti ia adalah aktual, karena kalau ia potensi juga. Jangankan mengaktualkan orang lain, mengaktualkan dirinya sendiri saja tidak bisa? Jadi jika alam dibiarkan, tanpa bantuan Allah, ia hanya ada dalam potensi saja. Dengan bantuan Allah, kemudian alam menjadi seperti yang kita alami.
Al-Kindi tidak mau ketinggalan, ia juga membuktikan keberadaan Tuhan dengan tiga konsep kosmologinya, yaitu; barunya alam pembuktian adanya Tuhan, keragaman dalam ujun juga demikian dan kerapian alam tak terelakkan bahwa ia tak mungkin serapi itu tanpa ada yang merapikannya, ia pasti maha sempurna.[6] Terus, bagaimana tuhan itu? Al-Kindi mengatakan bahwa tuhan ialah kenegativan. Ia bukan benda, bukan pula bentuk, tidak mempunyai kwantitas, tidak mempunyai kwalitas dls.[7]
C.  Keberadaan Tuhan dalam Perspektif Teleologi
Teleologi itu berasal dari bahasa yunani telos yang berarti tujuan, akhir dan logos yang berarti doktrin. Istilah ini diperkenalkan oleh Christian Wolff pada abad ke-18. Dengan demikian teleologi merupakan studi tentang gejal-gejala yang memperlihatkan keteraturan rancangan, tujuan, akhir, maksud, kecenderungan, sasaran dan bagaimana hal ini dicapai dalam proses perkembangan.[8] Eksistensi ialah apa yang memiliki aktualitasa. Ia menekankan bahwa sesuatu itu ada.
Seperti yang dikatakan William Paley, manusia mempunyai membunyai tubuh dengan struktur yang seperna. Contohnya tangan, kaki, mata dsb. Ini merupakan alat tubuh yang sangat ideal. Kesempurnaan tubuh itu tidak lah kosong tanpa kegunaan tertentu, tatapi ia mempunyai tujuan yang sangat begitu penting sesuai dengan alat itu sendiri. Setiap alat tubuh mempunyai tujuan tertentu. Kita ambil sample mata, mata yang sempurna ini mempunyai tujuan yang sangat urgen bagi kehidupan manusia sebagai alat penglihat. Kita bayangkan bagaimana manusia bisa beraktivitas kalau tidak ada mata. Keadaan ini tidak hanya berlaku kepada manusia saja, tetapi seluruh alam pun juga demikian, mempunyai tujuan tertentu.
Dalam pandangan teleologi, segala sesuatu di pandang sebagai struktur (organisasi) yang tersusun dari bagian-bagian yang mempunyai hubungan erat dan bekerja sama untuk tujuan prganisme itu. jadi dunia ini bagi seorang teleologi tersusun dari bahan-bahan yang erat hubungannya satu dengan yang lainnya dan bekerja sama untuk tujuan yang tertentu.[9]
Tujuan alam yang dimaksud di sini ialah kebaikan dunia dalam keseluruhan. Dalam artian ia terus beredar dan berevolusi menuju kebaikan universal di bawah pimpinan manusia sebagai makhluk yang paling sempurna di muka bumi yang juga sebagai khalifahnya. Nah, kalau demikian, tidak mungkin alam berjalan sendiri menuju tujuan tertentu itu. oleh karena itu, dibalik kejadian tersebut, pasti terdapat yang zat menggerakkan atau menentukan tujuan tertentu. Zat itu tidak mungkin tidak sempurna, pasti jauh lebih sempur dari yang ditentukan. Zat yang maha sempurna ini lah yang disebut dengan Tuhan.
D.  Moralalitaspun tak Gentar MembuktikanNya
Mengenai wujud Tuhan dalam argument moral, Immanuel Kant berargumen bahwa menurutnya argument moral inilah yang benar-benar membawa kepada keyakinan.  Kant berpendapat bawaha manusia mempunyai perasaan moral yang tertanam dalam jiwa dan hati sannubarinya. Orang merasa bahwa ia mempunyai kewajiban untuk menjauhi perbuatan-perbuatan buruk dan menjalankan perbuatan-perbuatan baik.
Kant berpendapat bahwa perbuatan baik menjadi baik tidak karena akibat-akibat baik yang timbul dari perbuatan itu dan tidak pula karena agama mengajarkan bahwa perbuatan itu baik. Sesuatu perbuatan adalah baik, karena manusia tahu dari perasaan yang tertanam dalam jiwanya bahwa ia diperintahkan untuk mengerjakan yang baik itu. Berdasar pada pendapat ini, Kant mengatakan bahwa manusia mempunyai kemerdekaan, karena tiap hari manusia selalu mengadakan pilihan antara tunduk pada perintah hati sanubari dan patuh pada kemauan. Kant berpendapat bahwa logika tak dapat membawa keyakinan tentang adanya Tuhan dan oleh karena itu ia pergi kepada perasaan. Perasaan inilah yang dapat membuktikan dengan sejelas-jelasnya bahwa tuhan itu mesti ada. Kalau akal memberi kebebasan bagi manusia untuk percaya atau tidak percaya pada adanya Tuhan, hati sanubari member perintah kepadanya untuk percaya bahwa Tuhan itu ada.
Argument moral ini disederhanakan sebagai berikut, Kalau manusia merasa bahwa dalam dirinya ada perintah mutlak untuk mengerjakan yang baik dan menjauhi perbuatan yang buruk, dan kalau perintah ini bukan diperoleh dari pengalaman, tetapi telah terdapat dalam diri manusia, maka printah itu mesti berasal dari suatu zat yang tahu akan baik dan buruk. Zat inilah yang disebut Tuhan.

Daftar Pustaka
Bagus, Lorens, Kamus Filsafat, Jakarta: Gramedia, cet. Iv, 2005
Bakhtiar, Ambsal, Filsafat Agama, Jakarta: Raja Wali Pers, 2009
Gazalba, Sidi, Sistematika Filsafat, Jakarta: Bulan Bintang, cet. iii, 1981
Nasution, Harun. Filsafat Agama, Jakarta: Bulan Bintang. 2003
Saleh, Hairus, http://sabdakhairuss.blogspot.com


[1] Prof. Dr. Amsal Bakhtiar, M.A. Filsafat Agama, (Jakarta: Rajawali Press. 2009 ). Hal. 171
[2] Harun Nasution. Filsafat Agama, (Jakarta: Bulan Bintang. 2003), hal.53
[3] Lorens Bagus, Kamus Filsafat, (Jakarta: Gramedia, cet. Iv, 2005), h. 183
[4] Prof. Dr. Ambsal Bakhtiar, op cit, h. 174
[5] Hairus Saleh, Alam yang Abadi dan Tuhan yang Azali, sabdakhairuss.blogspot.com
[6] Hairus Saleh, Filsafat Ketuhanan al-Kindi, http://sabdakhairuss.blogspot.com
[7] Sidi Gazalba, Sistematika Filsafat, (Jakarta: Bulan Bintang, cet. iii, 1981), h. 327
[8] Lorens Bagus, op. cit, h. 1090
[9] Prof. Dr. Ambsal Bakhtiar, op. Cit, h. 184

0 comments:

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost Review