Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Penerus Plotinus

Oleh Hairus Saleh

Setelah Plotinus wafat, kepemimpinan sekolah di Roma digantikan oleh muridnya yang menerbitkan makalah-makalah Plotinus (Tâsû’at), yaitu Phorporius (305-232 SM). Dilahirkan di Shur, dan melewatkan masa mudanya di sana. Ia banyak memperoleh pengetahuan keagamaan dan filsafat di Palestina Suriah. Kemudian ia pergi ke Athena untuk belajar kepada Leonjenes. Ia lalu pindah ke Roma, di mana ia masuk ke sekolah Plotinus dan menggantikannya sebagai pemimpin setelah Plotinus wafat. Horporius sangat terkenal.

Reputasinya bagus. Banyak pelajar yang hadir pada kuliahnya. Antara lain adalah Emplekos yang dianggap sebagai wakil Neo-Platonis paling masyhur di Suria. Di dunia Arab, Phorporius dikenal sejak masa penterjemahan. Ia terus mempengaruhi filsafat Arab dengan bukunya “ISAGOGI” yang akan kita bicarakan nanti. Jika orang Arab tidak mengetahui Plotinus dikarenakan kesalahan yang terjadi dalam penerjemahan bukunya, maka orang Arab mengenal Phorporius, murid Plotinus, dengan sangat baik; menerima sebagian pendapatnya dan menolak sebagiannya. Apapun adanya, pandangan-pandangan Phorporius secara keseluruhan merupakan perluasan dari pandangan- pandangan gurunya, meski sesungguhnya sang murid telah memberikan sedikit perubahan.

Plotinus mempunyai banyak karangan. Di antaranya adalah “Filsafat Ramalan” di mana ia menggambarkan ritual-ritual keagamaan di kuil-kuil paganisme yang dipraktekan orang-orang Mesir, Kildan dan Suryan. Juga “Bentuk-bentuk Tuhan” di mana ia menolak paganisme dan menjelaskan bahwa penyembahan terhadap patung-patung tidak termasuk kekufuran seperti diklaim oleh orang-orang Kristen dan Yahudi. Menurutnya patung-patung tersebut merupakan simbol-simbol inderawi yang mendekatkan kepada Tuhan yang sebenarnya. Ia juga mengarang buku “Jawaban terhadap Orang-orang Kristen”. Tampaknya ia menulis buku ini dengan motif politik, karena Kaisar di Roma ketakutan terhadap semakin bertambah kuatnya orang-orang Kristen, di samping berbagai bencana yang dihadapi negara seperti paceklik, kelaparan, perpecahan dan ancaman dari beberapa wilayah untuk memisahkan diri. Ia juga mengarang buku “Jawaban terhadap Anabo”, seorang ahli nujum Mesir. Di situ ia menolak akidah (kepercayaan) orang-orang Mesir kuno sambil mengagungkan filsafat.

Plotinus berbicara tentang kekalnya jiwa. Ia mengajukan beberapa dalil baru yang berbeda dengan Plato yang telah disebutkan dalam “Dialog Phideon”-nya. Dalam Tâsû’at Plotinus berkata: “Jiwa bukanlah suatu “bentuk”, ia tidak mati dan tidak rusak, bahkan ia selalu kekal”. Jiwa yang suci bersih yang tidak tercemar oleh kekotoran badan, dialah yang jika berpisah dengan badan akan kembali ke substansi jiwa tertinggi. Sedangkan jiwa yang berhubungan degan badan dan tunduk kepada nafsu syahwatnya, maka jika ia berpisah dari badan, ia tidak dapat memperoleh dunianya kecuali dengan beban berat. Artinya bahwa jiwa, seperti yang telah kami sebutkan di awal, menengahi antara akal dan alam hayûlî. Demikian juga pendapat Phorporius, selain sebagai ganti dari kehidupan rasional, ia menyerukan untuk mempraktekan berbagai bentuk ibadah serta mensucikan jiwa dengan cara hidup asketik dan menahan diri dari nafsu syahwat.

Plotinus seperti halnya kebanyakan filosof klasik, membedakan antara alam mahsûs dengan alam ma’qûl. Akan tetapi ia memiliki ciri khusus dengan metode debatnya yang mencermati batin jiwa untuk dapat menanjak ke alam akal. Dalam hal ini ia berkata: “Sesungguhnya siapa yang mampu melepaskan badannya, menenangkan indera dan pergerakannya, maka dalam idenya ia juga mampu untuk kembali kepada zatnya…” Maka Plotinus seperti yang kita lihat tidak mencampuradukkan antara jiwa dan akal, ia juga tidak berbicara kecuali setelah melakukan pengamatan dan penelitian. Sedangkan Phorporius mensyaratkan adanya perbuatan-perbuatan utama seperti bersikap asketik, tidak memakan dagaing dan lainnya agar jiwa mampu menaik ke alam rasional. Karena itulah Ibnu Sina melakukan kritik terhadapnya. Katanya: “Inilah hal-hal yang menurut saya mustahil. Sungguh saya tidak memahami ucapan mereka bahwa “sesuatu” menjadi “sesuatu” yang lain. Aku tidak dapat memikirkan bagaimana itu terjadi…” Hal yang paling sering mencengangkan manusia dalam hal ini adalah yang mengarang Isagogi untuk mereka. Pengarang tersebut begitu kuat berbicara kepada manusia dengan ungkapan-ungkapan yang bersifat imajinatif-puitis-mistis yang sebagiannya ia batasi untuk dirinya dan untuk orang lain. Banyak orang yang mengkaji tulisan-tulisannya tentang akal dan tentang jiwa.

Orang yang mengarang Isagogi adalah Phorporius. Isagogi dalam bahasa Yunani berarti “pengantar” atau “mukaddimah”. Bukunya yang berjudul “Pengantar Kepada Kategori-Kategori Aristoteles” dikarangnya untuk muridnya Charisarius yang menuntut ilmu di sekolah Plotinus. Charisarius adalah salah seorang anggota senat di Roma. Ia telah membaca “Kategori”-nya Aristoteles, namun tak mampu memahaminya. Ia pun menulis surat kepada Phorporius yang ada di Sicilia, menceritakan kesulitannya seraya memohon bantuan Phorporius. Phorporius pun mengarangkan untuknya satu Pengantar Kepada Kategori Aristoteles, di mana ia menjelaskan lima konsep Aristoteles: jenis, macam, divisi, partikularitas dan proposisi umum. Buku kecil tersebut sedemikian terkenal sehingga orang Arab mendeskripsikannya sebagai “berjalan bak matahari sampai kini”.

Arti kategori adalah “apa yang dikatakan tentang sesuatu”. Inilah yang paling penting dalam mendefinisikan sesuatu dan membatasi esensinya. Apa yang kita katakan tentang Sokrates? (1) manusia (2) panjang (3) putih (4) di rumah, dan seterusnya, sampai kategori kesepuluh. Manusia adalah kategori substansi. Panjang adalah kategori kuantitas. Putih adalah kategori kualitas, dan seterusnya. Kategori yang sepuluh itu adalah jenis penggolongan dari hal-hal yang ada di alam wujud. Sedangkan lima konsep, yaitu jenis, macam, divisi, partikularitas dan proposisi umum, merupakan suatu kemestian dalam suatu pendefinisian dan pembuktian. Anda mengatakan: manusia adalah hewan berakal–yang merupakan satu definisi terkenal–manusia adalah macam, hewan adalah jenis, berakal adalah divisi (pembeda). Definisi ini adalah batasan yang sempurna. Pembagian menuntut adanya pembedaan total sampai pada bagian-bagiannya.

Dengan kematian Phorporius, sekolah Plotinus pun gulung tikar, sampai pun yang ada di Roma atau di Iskandariah. Semangat sekolah tersebut lalu beralih ke timur dan barat. Wallahu A’lam
Hairus Saleh
Hairus Saleh Akademisi jadi blogger. Blogger menjadi tempat untuk tuangkan berbagai gagasan dan pemikiran.
close