Selamat Datang di Sabda Hairus Saleh

Sunday, April 1, 2012

Teori Evolusi dan Gen

Menjawab Misteri Ilmiah Tentang Penciptaan
Oleh Hairus Saleh
Mahasiswa Filsafat Islam UIN Jakarta

Pendahuluan
Teori evolusi sudah tidak asing lagi di benak mahasiswa, apalagi di jurusan pemikiran. Hal ini disebabkan karena pada abad 18 an, teori ini sudah mulai mencuat di pelosok permukaan dunia. Orang yang sangat berjasa mempopularitaskan ilmu ini di antaranya ialah tidak lain ilmuan yang berasal dari Shrewsbury, Carles Darwin lewat bukunya yang berjudul the Origin of Species (1859 M).  Disusul oleh para pendukungnya Thomas Henry Huxley, Lyell dan Lamarck.
Meski pun tema teori revolusi sudah cukup basi untuk dibahas dalam forum ilmiah, namun dalam diskusi akbar ini, pembicara akan menyajikan kajian dengan sistem penyampaian dan perspektif yang berbeda dari sekian pembahasan yang sudah lumrah tersebut. Tujuannya agar tema ini menjadi menarik dan membangkitkan inspirasi yang segar bagi para peserta diskusi kali ini.
Di kesempatan ini, kami akan mencoba menganalisis teori evolusi dan gen ini dari segi sejarah, filsafat dan sedikit tentang sains. Kami akan berusaha konsisten dalam mengkaji kedalaman ini. Dalam penyajian, sedikit akan disinggung pendapat-pendapat saintis terkemuka tentang teori ini. Dengan ini, kami juga sangat berharap para anggota forum ini untuk ikut serta berpartisipasi dalam memperdalam kajian ini, tidak mengacaukan, atau pun mengaburkan analisis tentangnya, karena forum ini bertujuan untuk mengetahui dan memahami secara mendalam seluk-beluk tentang teoi evolusi dan gen.
Tentang Teori Evolusi dan Gen
Teori evolusi dan gen ini sebenarnya berasal dari kata yang berbeda. Dalam kamus filsafat, teori –theory (Inggris), theoria (Latin) atau theoreo (Yunani) artinya melihat- ialah hipotesis, suposisi atau bangunan yang dianggap betul dan yang berdasarkan atas gejala-gejala dapat diprakirakan dan atau dijelaskan dan yang darinya dideduksikan pengetahuan lebih lanjut.[1] Sedangkan menurut Sidi Gazalba, teori ialah anggapa yang kuat, berdasarkan data yang cukup dimiliki atau ditemukan sampai penciptaan teori itu.[2]
Evolusi itu sendiri ialah perubahan (pertumbuhan, perkembangan) secara berangsurangsur dan perlahan-lahan.[3] Artinya, perubahan itu membutuhkan waktu yang panjang atau perubahan secara lambat. Atau kamus filsafat juga menyebutkan bahwa evolusi itu merupaka problem kebertetapan dan perubahan.
Sedangkan gen ialah unsur plasma yang mengendalikan penentuan ciri keturunan.[4] Dalam kamus filsafat, terdapat tiga istilah yang hampir sama yaitu genesis yang berarti menjadi, pertumbuhan, perubahan dan permulaan, genetik yang bermakna asal-usul dan genus yang meaning-nya ialah ras, persediaan keturuanan, anak atau spesies.
Gen dalam pembahasan teori evolusi bermakna genesis, kemudian baru setelah teori evolusi bercampur dengan geologi atau biologi istilah gen bercampur aduk antara genesis dengan gen (dalam pengertian kamus bahasa indonesia). Ini terbukti karena istilah genesis ini berasal dari mitos yunani yang digunakan untuk istilah kefilsafatan, kemudian kamus filsafat menyinggung Carles Darwin dalam definisi genesis. Bukti lain ialah penjelasan tentang proses perubahan berlahan dan sinambung, memperkenalkan sebuah skala waktu baru yang hampir tidak terbatas untuk evolusi bumi pada masa silam,[5] dan penciptaan aneka spesies makhluk hidup tidak diciptakan secara terpisah, tetapi berasal dari nenek moyang yang sama dan menjadi berbeda satu sama lain akibat kondisi alam[6].
Secara filosofis, teori evolusi itu sendiri ialah gagasan tentang asal usul dunia ini yang diawali dengan kebetulan yang kemudian terus berubah menjadi makhluk-makhluk baru dalam waktu yang begitu panjang. Kalau dispesifikkan ke dalam kajian biologi (sains) teori evolusi berarti perubahan sifat-sifat terwariskan suatu populasi organisme dari satu generasi ke generasi brikutnya. Dan perubahannya disebabkan karena kembinasi tiga proses utama yaitu variasi, reproduksi dan seleksi (wikipedia) atau Jonthan menggunakan istilah perpaduan antara spesies, adaptasi dan evolusi itu sendiri. Sifat-sifat ini di bawa oleh gen yang diwariskan kepada keturaunan suatu makhluk hidup dan menjadi bervariasi dalam suatu populasi.
Dari paparan di atas ini pun pemakalah berkesimpulan bahwa kalimat “teori evolusi dan gen” tidak menunjukkan “teori evolusi dan teori gen”, tetapi merupakan satu kesatuan yang tidak terpisah. Makhluk dapat berubah (teori evolusi) karena ada perubahan-perubahan lambat dari makhluk itu sendiri, atau ketika evolusi terjadi di sana pasti terdapat peran gen-gen yang sangat menentukan perubahan lambat itu. Dengan demikian, cukup rasanya kita menyebutnya “teori evolusi” tanpa diikutkan kata “gen”.
Teori Evolusi di Persimpangan Waktu
Teori evolusi ini sebenarnya sudah mulai dirintis oleh para saintis sejak zaman Yunani kuno. Muculnya sejak peralihan dari dunia mitos ke dunia rasional. Perbenturan mitos dengan realitas telah menggugah pikiran saintis (failasuf) untuk mulai mengkaji awal mula dunia ini beserta isinya. Ada yang mengatakan kehidupan berasal dari air (Thales), dan ditambah oleh Anaximander yang mengatakan bahwa kehidupan yang kompleks berasal dari yang sederhana.
Pemikiran ini yang mengilhami dan sekaligus sebagai pondasi utama teori evolusi. Pemikiran di atas memang sudah mengarah pada evolusi, hanya saja pada waktu itu tidak terjelaskan secara mendetail atau belum diteliti dengan luas karena keterbatasan peralatan atau yang lainnya.
Namun, kajian ini sempat memudar setelah meluncurnya pendapat bapak saintis dunia, Aristoteles yang mengatakan bahwa spesies tidak pernah mengalami perubahan atau tidak berevolusi. Dalam hal ini, aristoteles ini barangkali masuk pada aliran esensialisme yang juga mengatakan pemikiran yang sama.
Namun, berkat Georges Buffon melalui studi fosil manusia purba, kajian teori evolusi mulai hangat kembali dan mulai menjadi buah bibir bangsa eropa. Di perkuat oleh Sir Charles Lyell (1797-1875) -seorang ahli Biologi Skotlandia- dengan berpendapatnya bahwa permukaan bumi terbentuk melalui proses bertahap dalam jangka waktu yang lama.[7] Saintis inilah yang menginspirasi darwin untuk mengembangkan teori evolusi secara utuh. Ini lah awal peralihan dari pemikiran spekulatif falsafah tentang penciptaan atau evolusi menuju sains.[8]
Teori evolusi yang tampak keilmiahannya sejak generasi Jean-Baptiste Lamarck. Ia mengilmiahkan teori evolusi yang spekulatif menjadi ilmiah melalui teorinya mengenai transmutasi spesies. Dalam gagasannya, ia mengemukakan bahwa Individu yang menggunakan bagian tubuh maupun tidak menggunakan bagian tubuh akan mewariskan sifat tertentu ke keturunannya. Sebagai contoh, nenek moyang jerapah mempunyai leher panjang akibat berusaha mencapai daun di pohon yang tinggi. Berarti evolusi spesies merupakan hasil interaksi dengan lingkungan.
Puncak dari teori evolusi berada pada masa Charles Darwin. Saintis ini lah yang menyempurnakan teori evolusi, sehingga bisa diterima dunia. Kajian ini, sudah mampu mempengaruhi dunia sekitar satu abad. Pengarunya tidak hanya pada ilmu pengetahuan saja, namun juga pada ideologi keagamaan yang menjadikan teori evolusi sebagai dasar untuk menguatkan pembahasan yang ada pada kitab suci demi membangkitkan keimanan pengikutnya. Sedangkan tokoh selanjutnya seperti August Weismann dan lainnya hanyalah sebagai pembela, penafsir atau pengembang saja.
Gagasan Tentang Teori Evolusi
Gagasan mendasar teori evolusi ini ialah keyakinan akan terciptanya alam ini yang berkebetulan,[9] dari sanalah terjadi suatu peralihan dari makhluk yang satu menjadi makhluk yang lainnya, atau dalam kata lain menghasilkan makhluk baru yang sedikit banyak mempunyai perbedaan dengan makhluk awalnya. Misalkan, pasir di laut secara berangsur-angsur berubah menjadi batu. Contoh lain perubahan tanah liat menjadi batu, lapukan tumbuhan, hewan dan makhluk lainnya menjadi minyak yang sekarang di indonesia sedang diperebutkan.

Kalau ingin lebih mendalam dan jauh kebelakang bisa dipahami dari teori bigbeng. Pada mulanya terdapat benda langit yang secara kebetulan ada dengan sendirinya, seiring berjalannya waktu benda-benda itu bertebaran dan  berbentur antara yang satu dengan lainnya. Benturan itu mengakibatkan letupan besar, itu lah awal terbentuknya alam (bumi, planet-planet lain beserta satelitnya, bintang-bintang dan yang lainnya). Perkembangan terakhir dari ini ialah alam yang sekarang kita rasakan. Semuanya serba kebetulan (meminjam istilah Sidi Gazalba).

Landasan berikutnya, berasal dari fakta yang menunjukkan terdapat suatu persamaan antara jenis makhluk yang satu dengan jenis lainya dan persamaan sekaligus perbedaan antara jenis yang sama, baik kesamaan dari segi sifat, postur tubuh dan tingkah laku, dan adanya perubahan postur tubuh pada makhluk hidup. Ini melahirkan gagasan yang menyatakan bahwa asal-mula kehidupan hanya sekali dan spesiesnya bukan tidak dapat bermutasi.[10]

Sebagaimana yang diuntaikan oleh para saintis teori evolusi, bahwa alam ini terutama makhluk hidup cenderung mengembang dan lebih sempurna. Pada saat ini titik tersempurna ialah manusia. Dengan demikian, wajar kalau manusia yang berkuasa di bumi ini. Lantas, mungkinkah manusia berevolusi kembali menjadi yang lebih sempurna?

Pemakalah belum menemukan jawaban itu dalam buku atau bacaan. Yang ditemukan hanya pernyataan yang mengatakan bahwa manusia lah titik tertinggi dari evolusi ini. Ini juga masuk akal, karena belum ada penelitian akan hal itu atau bisa jadi pemakalah yang belum membacanya. Karena memang kajian semacam ini tendensinya pada hal yang sudah berlalu.

Rangkulan Sains terhadap Teori Evolusi (Argument Baru Teori Evolusi)
Argumentasi teori evolusi ini semakin kuat setelah mendapatkan dukungan dari sains yang meliputi geologi dan biologi. Geologi ini mendukung dari segi perubaha alam atau dunia, sedangkan biologi mendukung berdasarkan analisis gen, jelas objeknya makhluk hidup. Hanya saja yang sangat berjasa ialah ilmu biologi. Oleh karena itu, kita akan fokus pada argument biologis.

Teori Evolusi di Tengah Benturan Pemikiran Filosofis
Pada hakikatnya, perdebatan dalam teori evolusi ini tidak hanya sekedar perdebatan sains, tetapi lebih pada perdebatan paham atau aliran pemikiran. Teori evolusi ini berasal dari skeptisisme terhadap penciptaan Tuhan.
Pemikiran semacam ini jelas terlahir dari naturalisme. Naturalisme itu sendiri ialah teori yang menerima “nature” (alam) sebagai keseluruhan realitas. Famah ini membagi dua realitas menjadi realitas akal dan materi. Namun, toeri evolusi ini sering kali dimanfaatkan oleh kaum materialis untuk menghajar idealisme atau yang bertentangan dengannya –kaum yang percaya pada eksistensi Tuhan sebagai pencipta. Misalkan pernyataan karl mark menenai hal ini, ia mengatakan bahwa teori evolusi ini sudah menunjukkan ketidak berperanan tuhan dalam penciptaan.[11] Kalau diteruskan “...kerena Tuhan memang tidak ada”.
Di pandang dari konsep teologis, menurut Sayyed Hossein Nasr dalam artikelnya, bahwa toeri evolusi ini sangat dekat dengan deisme.[12] Tuhan adalah realitas sendiri. Hubungan tuhan dan alam hanya sebatas pada awal dan memberikan potensi-potensi, tetapi kemudian tuhan melepaskannya. Sehingga alam atau dunia bergerak sendiri sesuai fitrahnya. Jelaslah bahwa dalam pandangan kaum evolusi, wahyu adalah ini mati. Yang ada hanya proses ilmiah belaka. Sehingga kehidupan ini dapat diterangkan lewat hukum-hukum sains.[13]
Lebih lanjut, kalau memang wahyu mempunyai peran dalam kehidupan, itu berarti setiap kesalahan pada dunia merupakan kesalahan Tuhan. Sehingga, mau tidak mau segalanya harus lepas dari adzapnya. Antara makhluk hidup dengan makhluk hidup lainnya, sesungguhnya mereka berperan memperebutkan eksistensi dirinya sebagai makhluk yang kokoh nan hebat serta mampu menghadapi dunia. Dari sini lah terdapat kompotisi dalam mempertahankan hidup yang mereka sebut dengan seleksi alam. Inilah fakta yang tak terelakkan.
Seluruh argument ini ditentang oleh perenialis,
Daftar Pustaka
Bagus, Loren, Kamus Filsafat, Jakarta: Gramedia, cet. iv, 2005
Epochtimes, Perdebatan Teori Darwin Dan Einstein, http://www.erabaru.net
Gazalba, Sidi, Sistematika Filsafat, Jakarta: Bulan Bintang, cet. iii, 1981
Howard, Jonathan, Darwin Pencetus Teori Evolusi, Penerjemah A. Hadyana, Jakarta: PT Temrini, cet. I, 1991
http://www.crayonpedia.org/mw/BAB_XII_EVOLUSI#column-one
Lings, Martin dkk, Evolusi Ruhani: Kritik Perenialis atas Teori Darwin, Penerjemah Eva Y. Nukman, Bandung: Mizan, cet. I, 1996
Mark Redley, Masalah-masalah Evolusi, penerjemah Achmad Fedyani Saifuddin, Jakarta: UI-Press, cet. I, 1991
Tim Redaksi, Kamu Besar Bahasa Indonesia, Jakarta; Gramedia, edisi iii, 2008
Yahya, Harun, Keruntuhan Teori Evolusi, Penerjemah Intan Catur Sriherwanto, Bandung: PT Syamil Cipta Media, cet. v, 2004


[1] Loren Bagus, Kamus Filsafat, (Jakarta: Gramedia, cet. iv, 2005), h. 1097
[2] Drs. Sidi Gazalba, Sistematika Filsafat, (Jakarta: Bulan Bintang, cet. iii, 1981), h. 374
[3] Tim Redaksi, Kamu Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta; Gramedia, edisi iii, 2008), h. 4000
[4] Tim Redaksi, h. 461
[5] Jonathan Howard, Darwin Pencetus Teori Evolusi, Penerjemah A. Hadyana, (Jakarta: PT Temrini, cet. I, 1991), h. 24
[6] Harun Yahya, Keruntuhan Teori Evolusi, Penerjemah Intan Catur Sriherwanto, (Bandung: PT Syamil Cipta Media, cet. v, 2004), h. 12
[7] http://www.crayonpedia.org/mw/BAB_XII_EVOLUSI#column-one
[8] Jonathan Howard, h. 23
[9] Jonathan Howard, h. 5
[10] Mark Redley, Masalah-Masalah Evolusi, penerjemah Achmad Fedyani Saifuddin, (Jakarta: UI-Press, cet. I, 1991), h. 1
[11] Epochtimes, Perdebatan Teori Darwin Dan Einstein, http://www.erabaru.net
[12] Martin Lings dkk, Evolusi Ruhani: Kritik Perenialis atas Teori Darwin, Penerjemah Eva Y. Nukman, (Bandung: Mizan, cet. I, 1996), h. 63
[13] Jonathan Howard, h. 20

0 comments:

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost Review