Selamat Datang di Sabda Hairus Saleh

Sunday, April 29, 2012

Pengertian Falsafah

Oleh Hairus Saleh
Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Falsafah merupakan salah satu dari dua kekuatan yang mewarnai dunia. Satu lagi yang mewarnai dunia ialah agama. Secara historis, falsafah lahir sekitar 6 abad SM bersamaan dengan lahirnya gagasan filosofis yang mampu menyelamatkan manusia dari belenggu motos (mitologi), meskipun pada akhirnya juga menghasilkan mitos era modern.
Tampaknya gagasan filosofis ini tampak begitu jelas ketika tampilnya failasuf pertama yunani, thales. Namun, kata philosophia (bahasa Yunani) itu sendiri pertama kali digunakan oleh phytagoras. Philosophia berasal dari kata philo yang artinya cinta atau dalam arti luas ingin dan shopia yang artinya kebijakan atau pandai. Pytagoras mengartikan philosophia sebagai cinta pada kesenangan, kegiatan dan kebijaksanaan, dengan tujuan keselamatan dalam hal keagamaan.
Tetapi, secara istilah, para failasuf mempunyai makna tersendiri berdasarkan konsepsi yang mereka miliki masing-masing. Misalkan menurut Socrates memaknakan falsafah itu sebagai pengetahuan tentang diri sendiri melalui pecapaian kejelasan konseptual, sebagai fungsi falsafah. Berbeda dengan Descartes, menurutnya falsafah merupakan pembaentangan atau penyinkapan kebenaran terakhir. Titik toloknya ditemukan dengan mendesak keraguan sampai ke batasnya. Dan tersingkpla batas itu, yakni kepastian tentang eksistensi sendiri. Ini termaktub dalam landasan epistemologinya “aku berpikir, maka aku ada.
Secara umum, falsafah bermakna sebagai upaya spekulatif untuk menyajikan suatu pandangan sistematik serta lengkap tentang seluruh realitas. Bisa juga sebagai upaya untuk melukiskan hakikat ralitas akhir dan dasar serta nyata. Atau upaya untuk menentukan batas-batas dan jangkauan pengetahuan: sumbernya, hakikatnya, keabsahannya dan nilainya.
Memang cukup sulit untuk mengerti falsafah dengan utuh, kalau hanya memahami melalui definisi belaka. Karena memang padahakikatnya falsafah terlalu luas untuk didefinisikan melalui kalimat sangat terbatas. Oleh karena itu, menurut Hatta dan langeveld, kita akan mengerti falsafah dikala sudah bersentuhan, membaca, mengamati dan mengikuti perkembangan falsafah.

0 comments:

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost Review