Tafsir Surah Thaha ayat 131: Berhenti Membandingkan Hidup dengan Orang Lain
Pernahkan kita merasa gelisah saat melihat pencapaian orang lain? Misalnya saat melihat karir teman melejit, rezekinya lancar dan keluarganya tampak bahagia. Sementara perjuangan kita seolah tidak kunjung selesai. Tanpa sadar, kita mulai membandingkan hidup dan terbersit tanya: mengapa jalan kita terasa jauh lebih berliku? prasangka ini bisa menggiring kita merasa seolah Tuhan tidak adil terhadap kita. Padahal tidak semua yang tampak dalam etalase kehidupan seseorang belum tentu mencerminkan kebahagiannya. Kita seringkali terpukau oleh nikmat yang mereka dapatkan, tanpa pernah tahu badai dan ujian berat yang harus mereka lalui. Kita juga sibuk menghitung apa yang belum kita miliki, hingga lupa mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan.
Kebiasaan membandingkan kehidupan ini membuat kita menjadikan pencapaian orang lain sebagai ukuran untuk menilai keberhasilan diri sendiri. Kita merasa tertinggal hanya karena orang lain lebih dahulu sampai pada tujuannya, merasa kurang beruntung karena orang lain memperoleh lebih banyak kenikmatan, bahkan meragukan kasih sayang Allah hanya karena perjalanan hidup kita tidak sama dengan perjalanan mereka. Padahal, kita tidak pernah benar-benar mengetahui keseluruhan cerita kehidupan seseorang. Apa yang terlihat sebagai kemudahan bagi orang lain bisa jadi menyimpan perjuangan dan ujian yang tidak pernah kita saksikan. Mengenai hal ini, Allah Swt berfirman dalam Surah Thaha ayat 131:
وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ اِلٰى مَا مَتَّعْنَا بِه اَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ەۙ لِنَفْتِنَهُمْ فِيْهِ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَّاَبْقٰى
Artinya: “Janganlah sekali-kali engkau tujukan pandangan matamu pada kenikmatan yang telah Kami anugerahkan kepada beberapa golongan dari mereka (sebagai) bunga kehidupan dunia agar kami uji mereka dengan (kesenangan) itu. Karunia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal”.
Ayat ini mengajak kita menata hati agar tidak silau oleh rezeki, kebahagiaan, maupun pencapaian orang lain. Sebab, ketika kita fokus memandang nikmat orang lain, ketenangan batin kita sendiri perlahan akan terampas. Imam al-Qurthuby dalam tafsirnya menjelaskan bahwa frasa وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ mengandung larangan memanjangkan pandangan kepada kenikmatan dunia yang diberikan kepada orang lain. Larangan ini bukan hanya sekadar berkaitan dengan aktivitas melihat, melainkan juga mengandung pesan agar manusia tidak larut dalam kekaguman dan keinginan berlebihan terhadap sesuatu yang dimiliki orang lain. Jika hal ini tidak dikelola dengan baik, kebiasaan tersebut dapat berkembang menjadi hasad, yaitu ketidaksenangan terhadap nikmat yang dimiliki orang lain, bahkan disertai keinginan agar nikmat tersebut hilang darinya. Dengan kata lain, persoalannya bukan terletak pada keberhasilan orang lain, melainkan pada respons hati kita ketika menyaksikan keberhasilan tersebut. Ketika kebahagian orang lain justru menimbulkan kegelisahan, rasa tidak puas atau keinginan agar mereka kehilangan apa yang dimiliki, di situlah benih-benih hasad mulai tumbuh di hati seseorang.
Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Din menjelaskan bahwa hasad merupakan salah satu penyakit hati yang perlu diobati melalui mujahadah al-nafs, yakni perjuangan untuk mengendalikan dan melawan kecenderungan buruk dalam diri. Karena itu, ketika melihat orang lain memperoleh keberhasilan, kita perlu melatih hati agar tidak larut dalam kedengkian. Salah satu caranya dengan mendoakan kebaikan bagi mereka, menyadari bahwa setiap orang memiliki bagian rezeki dan ujianya masing-masing, serta mengarahkan perhatian kembali kepada nikmat yang telah Allah berikan kepada diri sendiri.
Kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain juga dapat mempengaruhi kondisi psikologis. Leon Festinger melalui teorinya tentang social comparison dalam A Theory of Social Comparison Processes menjelaskan bahwa manusia memiliki kecenderungan untuk menilai kemampuan dirinya dengan cara membandingkan dengan kemampuan orang lain. Salah satu bentuknya adalah upward social comparison, yaitu membandingkan diri dengan orang yang dipandang lebih unggul dalam aspek tertentu, seperti kekayaan, pendidikan, karier atau popularitas. Perbandingan semacam ini tidak selalu berdampak negatif karena dapat menjadi sumber motivasi. Namun, ketika dilakukan secara berlebihan dan membuat seseorang terus menerus merasa tertinggal, perbandingan tersebut dapat memunculkan kecemasan, ketidakpuasan terhadap kehidupan dan berdampak pada kesehatan mental. Dengan demikian, kita perlu belajar mengelola cara memandang keberhasilan orang lain agar tidak berubah menjadi sumber kegelisahan dan penyakit hati.
Biasanya, seseorang yang merasa gelisah terhadap keberhasilan atau nikmat orang lain dikarenakan keliru memahami hakikat nikmat. Banyak yang mengira limpahan nikmat seperti limpahan materi atau jabatan mentereng adalah bukti cinta mutlak dari Allah yang diberikan kepada seseorang. Syekh Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsir al-Munirmenjelaskan bahwa kenikmatan dunia yang diberikan kepada manusia dapat menjadi sarana ujian. Melalui kenikmatan tersebut, Allah menguji bagaimana seseorang menggunakannya dan sejauh mana ia mampu menjalankan tanggung jawab yang menyertainya. Artinya, apa yang tampak sebagai keberuntungan bagi orang lain belum tentu merupakan sesuatu yang mudah untuk dipikul apabila kita berada di posisi mereka. Setiap nikmat memiliki tanggung jawab dan setiap kehidupan memiliki ujian yang tidak selalu terlihat oleh mata. Karena itu, Islam memberikan tuntunan agar manusia tidak terus menerus mengarahkan pikirannya kepada kelebihan duniawi orang lain. Rasulullah SAW bersabda:
انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ
“Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam urusan dunia) dan jangan memandang orang yang berada di atasmu. Hal itu lebih pantas agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah dianugerahkan kepadamu.” (HR. Muslim no. 2963).
Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadis ini mengajarkan manusia untuk menjaga rasa syukur dengan tidak terus menerus membandingkan kehidupannya dengan orang yang lebih unggul dalam urusan dunia. Sebab, kebiasaan tersebut dapat membuat seseorang meremehkan nikmat yang telah dimilikinya dan terus menginginkan sesuatu yang belum dimilikinya. Sebaliknya, ketika seseorang memperhatikan mereka yang memiliki kehidupan duniawi di bawahnya ia akan lebih mudah menyadari berbagai karunia Allah yang selama ini mungkin luput dari perhatiannya. Dengan demikian, hadis ini bukan mengajarkan kita untuk berhenti berusaha atau mengabaikan keberhasilan orang lain, melainkan mengarahkan kita agar tidak kehilangan rasa syukur karena terlalu sibuk melihat kehidupan orang lain. Meskipun demikian, Islam tidak melarang seseorang mengagumi keberhasilan orang lain atau memiliki keinginan untuk memperoleh kebaikan serupa. Disinilah pentingnya memahami perbedaan hasad dan ghibtah. Jika hasad merupakan ketidaksenangan terhadap nikmat orang lain yang dapat disertai keinginan agar nikmat tersebut hilang, maka ghibtah adalah keinginan untuk memperoleh kebaikan serupa tanpa mengharap orang lain kehilangan nikmat yang telah dimilikinya. Dalam konteks ini, seseorang boleh mengagumi teman yang berhasil meraih pendidikan tinggi, memiliki karir yang baik, atau kekayaan yang melimpah. Kekaguman tersebut bahkan dapat mendorong dirinya untuk belajar untuk memperbaiki kualitas diri dan berusaha mencapai kebaikan yang sama. Selama tidak disertai kebencian agar orang lain kehilangan keberhasilannya, keinginan tersebut bukanlah hasad. Dengan demikian, ghibtah menjadi bentuk respon yang lebih bijak terhadap keberhasilan orang lain, terinspirasi untuk tumbuh dan menghasilkan kebaikan yang sama bukan merasa terasa tersaingi hingga membencinya. Hal ini sejalan dengan hadis Rasulullah SAW:
لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِى اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالاً فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ فِى الْحَقِّ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْحِكْمَةَ فَهْوَ يَقْضِى بِهَا وَيُعَلِّمُهَا
Artinya: “Tidak boleh dengki (iri) kecuali pada dua hal: (Pertama) seorang mukmin yang dianugerahi harta oleh Allah, kemudian ia menginfakkannya (menghabiskannya) di jalan kebenaran; dan (Kedua) seorang mukmin yang dianugerahi hikmah (ilmu) oleh Allah, kemudian ia mengamalkannya dan mengajarkannya.”(HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis tersebut menjelaskan dua keadaan yang patut menjadi inspirasi, yaitu seseorang yang memiliki kekayaan yang digunakan untuk kebaikan serta seseorang yang memiliki ilmu dan mengamalkannya untuk memberi manfaat kepada orang lain. Berkaitan dengan hal ini, Imam Nawawi menjelaskan bahwa seseorang diperbolehkan menginginkan kenikmatan sebagaimana yang dimiliki orang lain, selama tidak berharap agar nikmat tersebut hilang dari orang tersebut. Kedua keadaan ini menunjukkan bahwa nilai suatu nikmat tidak hanya terletak pada seberapa banyak yang dimiliki, tetapi pada bagaimana nikmat itu digunakan. Kekayaan menjadi bernilai ketika membawa kemanfaatan, sementara ilmu menjadi bermakna ketika diamalkan. Oleh sebab itu, ketika melihat keberhasilan orang lain, kita tidak perlu merasa rendah diri atau terjebak dalam kedengkian. Kita dapat menjadikannya sebagai inspirasi untuk memperbaiki diri dan berlomba-lomba dalam kebaikan. Kita boleh menginginkan kebaikan yang sama, tetapi tidak perlu menjadikan kehidupan orang lain sebagai standar untuk mengukur kebahagiaan sendiri. Berhenti membandingkan kehidupan bukan berarti berhenti memiliki cita-cita atau kehilangan semangat untuk menjadi lebih baik. Kita tetap boleh belajar dari keberhasilan orang lain, mengagumi pencapaiannya, bahkan menjadikannya inspirasi. Namun, jangan sampai kekaguman itu berubah menjadi alasan untuk merendahkan kehidupan sendiri bahkan berubah menjadi kedengkian. Jangan mengukur keberhasilan berdasarkan seberapa cepat kita menyamai pencapaian orang lain, sebab setiap manusia memiliki perjalanan, kesempatan, dan waktu yang berbeda. Ada yang lebih dahulu sampai, ada yang harus menempuh jalan lebih panjang, dan ada pula yang menemukan keberhasilannya melalui proses yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.
Selama ini yang membuat kita lelah bukan hanya beratnya menjalani kehidupan, melainkan kebiasaan membandingkan perjalanan hidup dengan orang lain. Kita seringkali lupa bahwa setiap orang memiliki takdir dan ujiannya masing-masing. Melalui surah Thaha ayat 131 diatas, mari belajar berhenti mengukur kebahagian berdasarkan kehidupan orang lain, mari temukan ketenangan dengan tetap mensyukuri nikmat Allah yang dibalut dengan keyakinan dan kesadaran kepada Allah bahwa hidup bukan tentang siapa yang paling cepat memperoleh kesenangan dunia, melainkan mereka yang menjalani kehidupan dengan penuh rasa syukur sehingga mampu menemukan keberkahan dalam apa yang telah Allah anugerahkan.

Post a Comment for "Tafsir Surah Thaha ayat 131: Berhenti Membandingkan Hidup dengan Orang Lain"