Selamat Datang di Sabda Hairus Saleh

Sunday, May 12, 2013

Al-Farabi: Sang Guru Kedua

Oleh Hairus Saleh
Mahasiswa UIN Syarifhidayatullah

Nama al-Farabi sudah tidak asing lagi bagi akademisi dunia, baik barat maupun timur. Bahkan namanya selalu disebut-sebut sebagai guru kedua setelah Aristoteles. Dapat dibayangkan bahwa pengetahuannya mengenai aristoteles begitu hebatnya, terutama di bidang metafisika. Ibn Sina mengaku bahwa al-Farabilah yang membantunya memahami ajaran metafisikan Aristoteles.

Nama lengkap filosof kelahiran desa Wasij di Farab (Transoxania pada 870 M ialah Muhammad ibn Muhammad ibn Tarkhan al-Farabi.[1] Tetapi kalangan pemikir latin mengenalnya sebagai  Abu Nashr atau Abunaser.[2] Maka dari itu Harun Nasution memanggilnya dengan nama Abu Nashr Muhammad al-Farabi. Sebagaimana kebanyakan ilmuan Timur Tengah, bahwa nama kelaharannya atau sukunya juga dicantumkan sebagai nama akhir dan lebih dikenal dengan panggilan nama tersebut, seperti al-Kindi, Kwarizmi dan al-Farabi.

Ia berasal dari keluarga letnan persia yang berasal dari turki dan al-farabi sendiri pernah menjadi hakim. Tetapi kemudia ia pindah ke baghdad pada saat gairah keilmuannya mengenai ilmu rasional meningkat drastis, karena tidak menemukan kepuasan dengan ilmu pengetahuan yang ada di negerinya. Baghdad pada waktu itu merupakan pusat ilmu pengetahuan.

Di sana ia belajar logika pada Abu Bisr Matta ibn Yunus, seorang penerjemah dan ahli logika, dan Yuhanna b. Haylan, seorang ilmuan Kristen yang ahli logika. Kemudia ia memperdalam ilmu logikanya pada al-Kindi.[3]

Setelah menghabiskan waktu belajarnya selama 20 tahun, ia pindah ke Aleppo yang merupakan pusat ilmu pengetahuan dan filsafat. Aleppo juga merupaka tempat akhir hidupnya yang bertepatan pada 950 M pada usia 80 tahun.[4] Sebelum Aleppo, konon ia pernah jalan-jalan mengelilingi Timur Tengah seperti Mesir.[5]

Menurutnya filsafat dan agama tidak bertentangan malahan sama-sama membawa kepada kebenaran.

[1] Harun Nasution, Mistisisme dalam Islam (Jakarta: Bulan Bintang, cet. xii, 2010), h. 16
[2] Mulyadi Kartanegara, Mozaik Khazanah Islam: Bunga Rampai dari Chicago (Jakarta: Paramadina, 2000), h. 33
[3] Ibid
[4] Harun Nasution, h. 16
[5] Mulyadi Kartanegara,, h. 33

0 comments:

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost Review