Selamat Datang di Sabda Hairus Saleh

Sunday, March 31, 2013

Sang Tokoh Neoplatonisme

Plotinus
Photo from Wikipedia
Pendahuluan
Filsafat Plotinus adalah filsafat tentang “Yang Satu”. “Yang Satu” dalam puncak wujud, dan lebih tinggi dari padanya. Dari Yang Satu itu keluar akal, dan dari akal keluar jiwa. Demikianlah Plotinus memulai dengan trinitas yang terus berkembang, dan puncaknya adalah “Yang Satu”. Inilah yang membedakan filsafat Plotinus dari filsafat Plato dan Aristoteles. Sedangkan pengertian “Yang Satu” menurut plotinus tidak begitu jelas dan tegas. Kadang-kadang ia difahami sebagai Allah, kadang-kadang difahami sebagai kebaikan, dan kali yang lain difahami sebagai yang ketiga dari yang awal. Apapun adanya “Yang Satu” itu kebih tinggi dari wujud (being).
Jadi bagaimana wujud datang dari “Yang Satu” itu? Wujud pertama yang muncul dari “yang pertama” adalah akal. Akal memancar darinya karena ia adalah gambaran dari “Yang Satu” itu. Atau bentuk tak berbeda darinya. Kemudian dari akal muncul jiwa yang merupakan gambaran paling dekat dengannya. Akan tetapi bagaimana manusia mengetahui bahwa ia merupakan satu bagian dari jiwa universal? Dan bagaimana ia sampai pada pengetahuan tentang akal dan tentang alam ilahi yang ada jauh di atas akal? Mari kita lihat penjelasan Plotinus tentang pengetahuan ini, melalui cara “debat”. Ini akan kita ketahui melalui terjemahan Arab kuno yang diperbaharui oleh al-Kindi.
“Sesungguhnya aku kadang-kadang menyendiri dengan jiwaku. Aku melepaskan badanku, akupun masuk ke dalam zatku, kembali kepadanya seraya keluar dari segalanya. Maka jadilah aku ilmu (pengetahuan), ‘âlim (yang mengetahui) dan ma’lûm (yang diketahui). Maka aku pun melihat kebaikan, keindahan dan sinar terang pada zatku, sesuatu yang aku kagumi. Aku pun tahu bahwa aku merupakan bagian dari alam Ilahi utama dan mulia yang memiliki kehidupan aktif. Ketika aku yakin terhadap semua itu, aku pun menaikkan zatku dari alam itu ke alam ilahi, aku pun selalu menjadi jatuh ke dalamnya, terikat dengannya. Aku berada di atas alam rasional seluruhnya. Aku pun melihat seolah aku berada pada posisi keilahian yang mulia itu. Di sana aku melihat sinar dan keagungan yang tidak dapat dideskripsikan lisan dan tidak pernah didengar oleh telinga. Bila aku tenggelam dalam cahaya dan keagungan itu, aku tidak mampu menanggungnya, jatuhlah aku dari akal ke ide dan pandangan. Bila aku berada di alam ide dan pandangan, aku pun terhalang–oleh ide itu–dari cahaya dan keagungan tersebut. Aku pun menjadi heran bagaimana aku dapat terjatuh dari kedudukan tinggi Ilahi dan menjadi berada pada posisi ide…”
Filsafat Islam mengenal Plotinus dari buku ini. Akan tetapi kadang-kadang buku tersebut disalah fahami penisbatannya kepada Aristoteles. Hal itu disebabkan karena penyelarasan antara dua orang bijak, Plato dan Aristoteles, yang dimulai dari al-Farabi sampai Ibnu Sina. Mereka ini mengatakan tentang tingkatan-tingkatan wujud dan keberasalannya dari yang pertama.

Riwayat hidup Plotinus
Dari banyak literatur, dijelaskan bahwa tokoh pendiri sekaligus tokoh yang paling populer dalam Neoplatonisme adalah Plotinus (205–270). Bahkan karena Plotinus begitu identik dengan Neoplatonisme, tokoh Plotinus tidak dapat ditinggalkanDari banyak literatur, dijelaskan bahwa tokoh pendiri sekaligus tokoh yang paling populer dalam Neoplatonisme adalah Plotinus (205–270). Bahkan karena Plotinus begitu identik dengan Neoplatonisme, tokoh Plotinus tidak dapat ditinggalkan.
Adalah tidak mudah untuk mengetahui riwayat hidup Plotinus secara rinci. Menurut muridnya Porphyri, Plotinus adalah sosok pemalu yang seringkali menolak untuk menceritakan dirinya, orang tuanya maupun negerinya. Menurut banyak literatur, Plotinus hidup pada tahun 205 sampai 270 Masehi. Ia dilahirkan di Lycopolis Yunani. Meski namanya harum karena ajaran-ajarannya ia tidak mau menjadi orang yang terkemuka. Patungnyapun tidak ada sebagaimana orang-orang terkenal pada waktu itu. Banyak sekali tukang patung datang untuk membuat patungnya tetapi selalu ditolaknya. Meskipun namanya tersohor dimana-mana tetapi hidupnya sederhana sekali.[1]
Plotinus belajar filsafat pada umur 28 tahun. Pada seorang filosof yang menjadi gurunya, Ammonius Saccas. Selama 12 tahun Plotinus menjadi murid Ammonius. pada umur 29 tahun ia mulai menulis. Setelah memahami filsafat Plato, rupanya Plotinus merasa pengetahuannya belum cukup mendalam. Ketika berumur 39 tahun dia terlantar di roma, dan mendirikan sekolah setelah setahun tinggal disana.

Pembentukan Alam (Materi)
a. Tuhan
Sang sumber segala sesuatu, yang dinamakannya “ Tuhan”, Yang Satu, adalah sesuatu yang tidak terdefinisikan, mirip dengan Parabrahman, dalam ajaran Hindhu. Ia adalah sesuatu yang tidak dapat dinamakan, tidak dapat dibayangkan, sesuatu yang dapat dipahami dengan logika negatif (via negativa).[2] Karena tidak bisa dinamakan maka” Tuhan”, pun sebenarnya bukan nama yang layak. Penamaan ini semata-mata karena sebagai manusia kita tidak bisa menghindari pemakaian kata-kata.
Konsep” Tuhan”, tidak sama dengan konsep Tuhan dalam ajaran monoteisme, ” Tuhan”,  bukan sesuatu dengan daya kreatif yang menciptakan alam semesta. Alam semesta mengalir, atau memancar darinya sebagai sebuah keniscayaan. Ia adalah sumber dari segala sesuatu dan tidak membutuhkan segala sesuatu. Ia mampu mencukupi dirinya sendiri. Segala sesuatu memancar dari dirinya secara otomatis. Pandangan ini jangan dilihat seperti materi penciptaan alam semesta ada pada dirinya, sehingga dari “tubuhnya” ia menciptakan alam semesta, seperti yang dijelaskan oleh mitologi Babilonia misalnya, yang mengatakan bahwa alam semesta dibentuk dari Tiamat, naga raksasa yang mengandung semua dewa. Pandangan ini lebih baik dijelaskan seperti hubungan antara penari (sang pencipta) dengan tariannya (ciptaan). Atau bayangkan sang pencipta adalah seorang pemain musik, dan musiknya adalah ciptaannya.
Kehendak bebas dalam konsepsi Plotinus diletakkan bukan di ” Tuhan”, melainkan di Nous, yang akan dijelaskan lebih lanjut di bawah.
Pandangan ini juga bisa dilihat dari kacamata Panteisme. Panteisme Plotinus kurang lebih sama dengan panteisme Spinoza. Panteisme tidak dilihat dengan pandangan sempit bahwa alam adalah Allah. ” Tuhan”, ada dalam setiap ciptaan, tetapi semua ciptaan bukanlah ” Tuhan”,. Ciptaan sebagai pancaran dari ” Tuhan”,, seperti bayang-bayang dari dia, yang lebih tidak sempurna darinya. Dan ketidak sempurnaan ini bertingkat-tingkat sampai kepada hirarki yang paling bawah yaitu materi.
Emanasi ini jangan dilihat sebagai sesuatu yang berada di dalam ruang dan waktu. Ruang dan waktu justru adalah hasil dari emanasi. Ruang dan waktu adalah pengertian dari dunia materi yang merupakan emanasi terakhir.
b. Nous
Nous atau intelek atau akal adalah emanasi pertama dari ” Tuhan”, Sebagai emanasi yang paling dekat dengan ” Tuhan”. Ia memiliki kemampuan untuk berkontemplasi tentang ” Tuhan”. Ia adalah sesuatu yang bisa memikirkan tentang subjek, yaitu dirinya sendiri, yang sedang berpikir, dan objek, sesuatu yang sedang dipikirkan.[3]
Sebagai emanasi dari ” Tuhan”, ia kurang sempurna dari ” Tuhan”,. Nous, tidak lagi satu, melainkan telah mengalami keterpisahan satu sama lain. Ia benar dalam dirinya sendiri, dan mutlak pada dirinya sendiri, seperti yang terlihat dari fenomena suara hati. Keterpisahan inilah yang melahirkan otonomi.
Nous sebagai prinsip yang otonom, berdikari. Keotonoman ini melahirkan kehendak bebas. Ia bisa berkontemplasi ke atas ke ” Tuhan”, namun ia juga bisa “jatuh” ke bawah, menuruti psykhe. Terlihat di sini kalau Plotinus mau memasukkan konsep jatuhnya Adam ke dalam dosa ke dalam filsafatnya. Bedanya, ia tidak meletakkan label dosa pada proses jatuhnya nous ke psykhe, melainkan sekedar sesuatu yang alami yang merupakan keniscayaan kehidupan yang beremanasi dari ” Tuhan”,
c. Psykhe
Emanasi yang pertama dari ” Tuhan”, adalah dasar yang pertama (arkhe) yaitu nous, dan emanasi berikutnya adalah lokasi (topos), yaitu psykhe. Lokasi memungkinkan emanasi berikutnya yaitu materi memiliki tempat. Psykhe ini berfungsi seperti benih yang melahirkan materi, oleh karena itu ia dinamai logoi spermatikoi.
Psykhe adalah prinsip di pertengahan. Ia mampu berkontemplasi ke atas, memberikan informasi dari dunia materi kepada nous, dan di lain pihak secara aktif beremanasi ke bawah, menciptakan dunia materi.[4] Psykhe ini bisa dipandang seperti nafsu, yang membuat manusia mengikatkan diri dengan dunia materi, baik mencipta atau mengkonsumsinya.
Manusia dijelaskan oleh Plotinus dengan menggunakan nous dan psykhe ini. Ia memang bisa berkontemplasi ke ” Tuhan”, karena ia memiliki nous, tetapi ia juga memiliki tarikan ke bawah ke materi karena ia memiliki psykhe.
Psykhe (atau jiwa) di sini tidak sama dengan jiwa dalam pengertian Plato. Jika Plato melihat bahwa jiwa terpenjara dalam tubuh dan baru bisa dibebaskan dengan kematian. Plotinus sebagai seorang mistikus, melihat kemungkinan bahwa jiwa bisa melepaskan diri dari tubuh. Psykhe secara hirarkis berada di atas materi, sehingga ia mampu menguasai materi.
d.Materi
Materi adalah emanasi terakhir yang paling jauh dari ” Tuhan”. Ia adalah emanasi dari jiwa dunia (anima mundi). Materi yang berada di hirarki terbawah sepenuhnya pasif, menerima pencurahan dari atas. Ia karena sepenuhnya pasif, tunduk pada hukum deterministik.
Materi tidak sepenuhnya jahat. Ia jahat kalau dilihat dari hubungannya dengan prinsip di atasnya. Menurut Plotinus, sumber kejahatan adalah keinginan psykhe untuk terus mencipta. Ini juga bukan sesuatu yang dikatakan dosa, karena psykhe memang memiliki kecenderungan seperti itu. Karena keterikatannya pada materilah psykhe lupa pada ikatannya di atas, kepada nous. Fenomena ini bisa dijelaskan oleh orang yang sudah terperangkap oleh nafsu sehingga tidak bisa berpikir rasional.
Plotinus dengan ajaran emanasinya tidak menjelaskan sumber kejahatan berasal juga dari sang pencipta, seperti halnya ajaran Gnostik, yang melihat alam ini jahat karena Demiurgos, sang pencipta alam semesta, adalah jahat. Plotinus memotong akar kejahatan sampai pada psykhe saja. Pada nous sendiri sudah tidak ada kejahatan, yang ada hanya keterpisahan.

Katharsis
Seperti telah dikatakan sebelumnya, Plotinus juga adalah seorang mistikus dan mengklaim mengalami pengalaman mistik di dalam hidupnya. Dengan demikian ia tidak hanya tertarik untuk berfilsafat namun mencari jalan untuk kembali ke” Tuhan” atau bisa disebut dengan proses pencerahan (katharsis).
Materi sebagai bagian yang paling jauh dari ” Tuhan” adalah bagian yang paling “gelap” atau jahat. Di sini terlihat pengaruh aliran Gnostik yang melihat dunia sebagai dualisme yang mengatakan bahwa materi pada dasarnya adalah jahat. Ia adalah hirarki terakhir yang menerima penciptaan dari atas, dan punya kecenderungan untuk menarik hirarki di atasnya (yaitu psykhe) ke bawah.
Dengan demikian, usaha katharsis yang pertama adalah melawan materi, yang dalam prakteknya bisa dilakukan dengan berpuasa misalnya. Dalam bahasa Latin ini disebut dengan purificatio, yaitu memurnikan diri, melepaskan diri dari materi.[5]
Hal ini adalah persiapan untuk melakukan langkah kedua, yaitu pencerahan. Pengaruh filsafat timur terlihat di sini. Pencerahan artinya melepaskan diri dari persepsi indrawi, dan memenuhi diri dengan pengetahuan tentang idea. Ini sama dengan ajaran Plato dan Aristoteles, yaitu episteme.
Langkah yang terakhir, adalah penyatuan diri dengan ” Tuhan”,, yang diberi nama ekstasis oleh Plotinus. Ekstasis adalah sebuah upaya mengatasi keterpisahan atau diferensiasi dari Nous, yang melihat diri sebagai subjek. Jika ia bisa mengatasi batasan diri ini, dengan melihat bahwa aku sama dengan dia, sama dengan semua, dengan demikian juga adalah ” Tuhan”. Di sinilah terlihat bahwa Plotinus pada dasarnya adalah seorang mistikus, dan ia menyusun keseluruhan filsafatnya untuk menuju ke sini. Pada titik ini ajarannya sama dengan ajaran mistik yang lain, baik dari tradisi Timur Hindu Buddha, tradisi Barat, atau pun yang di Kejawen dikenal dengan manunggal ing kawulo gusti, menyatu dengan Allah.

Daftar Pustaka
Lorens Bagus, Kamus Filsafat, Jakatrta; Gramedia, 2005
Simon Petrusl, Tjahjadi, Petualangan Intlektual, Yogyakarta; Kanisius, 2004
Bertrand Russel, Sejarah Filsafat Barat, penerjemah; Sigit Jatmiko, dkk, Yogyakarta; Pustaka Belajar, cet iii, 2007



[1] Moh. Hatta, Alam Pikiran Yunani (Jakarta : Tintamas dan UI Press, 1986) hlm. 165.
[2] Simon Pertus L. Tjahjadi, petualangan Intelektual, (Yogyakarta: Kanisius, cet v, 2008), h. 91
[3] Bertrand Russel, Sejarah Filsafat Barat, penerjemah; Sigit Jatmiko, dkk, (Yogyakarta; Pustaka Belajar, cet iii, 2007), h. 394
[4] Lorens Bagus, Kamus Filsafat, (Jakatrta; Gramedia, 2005), h. 705
[5] Simon Pertus L. Tjahjadi, h. 92

0 comments:

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost Review