Selamat Datang di Sabda Hairus Saleh

Thursday, May 3, 2012

Tentang Konfusius

Oleh Hairus Saleh
Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah
Pendahuluan
Puji syukur kehadirat Allah swt yang selalu memberikan kami kesempatan sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini.
Filsafat merupakan suatu hal yang sangat lama menjadi perbincangan para ilmuan. Tentunya merupakan suatu hal yang wajar jika terdapat suatu perbedaan dalam suatu pemikiran disetiap individu. Hal itu terjadi karena adanya pengaruh lingkungan yang ada disuatu wilayah tersebut, baik melalui sosial, agama, ekonomi atau apapun yang berkembang pada waktu itu.
Hal inilah yang melatar belakangi adanya pembedaan terhadap suatu faham yang mempunyai pemikiran yang berbeda sehingga hadir faham-faham yang salah satunya disebut dengan faham konfusianisme yang akan kita bahas.
Nama konfisianisme memang tidak asing lagi. Namun hal ini tidak cukup untuk menunjukkan kefahaman terhadapnya. Oleh karena itu kami akan membahasnya dimakalah ini supaya kita tidak hanya kenal nama saja, tapi juga terhadap sejarah, ajaran-ajarannya, kedudukannya, dan sedikit akan disinggung tentang para muridnya yang telah berjasa melestarikan ajarannya.

A.   Tentang Konfusius
Konfusius (551-479) adalah latinisasi dari nama Kong Fuzi. Michele Ruggieri (1543-1607) dan Matteo Ricci (1552-1610) adalah padre-padri Jesuit yang melatinisasinya menjadi ‘Confucius’. Dia lahir di dekat kota yang sekarang dikenal sebagai Qufu, waktu itu negeri Lu (bagian tenggara dari provinsi Shandong sekarang, selatan Beijing). Namanya sering disingkat menjadi Kongzi.
Nenek moyangnya termasuk anggota keluarga bangsawan Negara Sung, yang merupakan keturunan dari keluarga raja-raja Shang, suatu dinasti sebelum dinasti Chou. Karena kekacauan politik, sebelum kelahiran Confusius, keluarganya kehilangan posisi kebangsaawanan dan bermigrasi ke Negara Lu.[1] Dari nama itu jadi lah nama sebuah faham dengan nama konfusianisme.
Silsilah Konfusius sebenarnya agak rumit. Jauh dari puncak silsilah disebut raja terakhir dari Dinasti Shang, yang salah satu keturunannya bernama Zhang Goufu/Cheng Kao-fu, seorang perwira dan punya putra bernama Kong Fujia. Dari Kong Fujia lah nama marga Kong berasal. Di sekitar tahun 710 SM, Kong Fujia yang menjadi pendiri marga Kong ini adalah seorang panglima perang negeri Song, tetangga negeri Lu- di sebelah barat. Kong Fujia mempunyai istri yang cantik yang bernama Wei Shi. Hua Du, seorang pejabat tinggi negeri Song jatuh hati pada Wei Shi dan membawa lari Wei Shi setelah memperdayai Kong Fujia. Namun begitu, Wei Shi melakukan bunuh diri selagi dilarikan itu.
Anak Kong Fujia, Mu Jinfu yang dilarikan oleh pengawal yang menyelamatkannya tumbuh menjadi sarjana dan pejabat negeri Lu. Mu Jinfu mengambil nama ‘Kong’ sebagai nama marga untuk menghormati ayahnya, Kong Fujia. Mu Jinfu mendapat anak bernama Kong Gaoyi, yang menjadi bapak dari Kong Fanshu. Kong Liangge yang juga seorang perwira adalah salah satu cicit datri Kong Fujia dan juga cucu dari Kong Fangshu. Kong Liangge merasa diri kurang lengkap karena istrinya memberinya Sembilan putri. Karenya, di usia lanjut Kong Liangge menikahi Yan Zhengzai pada tahun 551 SM, di desa kecil bernama Chang Ping di negeri Lu. Kong Liangge mendapat anak laki-laki dari Yang Zhengzai yang mereka beri nama kong Zhongni (yaitu Kongfusius). Kelak Kong Qiu menjadi nama kehormatan dari, yaitu Kong Zhongni. Kong Fuzi artinya adalah ‘tuan guru Kong’ yaitu panggilan kehormatannya sebagai guru. Nama panggilan singkatnya adalah Kongzi.[2]
Catatan tentang kehidupan confusius yang sangat detail adalah biografi yang terdapat dalam bab keempat puluh tujuh pada buku Shih Chi atau catatan-catatan sejarah (sejarah dinasti Cina yang dibuat pertama kali, dan diselesaikan kira-kira pada 86 SM). Dari buku ini kita mengetahui bahwa di masa mudanya Confusius merupakan orang yang miskin, namun masuk dalam jajaran pemerintahan negara Lu dan menjelang usia yang kelima puluh ia telah meraih pangkat kepegawaian yang tinggi. Namun akibat intrik politik, ia terpaksa segera berhenti dari jabatannya dan hidup dalam pembuangan. Selama tiga belas tahun berikutnya ia bepergian dari satu Negara ke Negara lain , selalu berharap bisa menemukan kesempatan untuk merealisasikan cita-citanya melakukan perbaikan di bidang politik dan sosial. Tetapi tidak di satu tempat pun ia berhasil melakukannya dan akhirnya sebagai seorang yang sudah tua, ia kembali ke Negara Lu, di sana ia meninggal dunia tiga tahun kemudian yakni pada 479 SM.
  
B.     AJARAN
 Etika Konfusius
Dalam ajaran konfusianisme disebutkan bahwa hakikat manusia adalah makhluk sosial. Manusia dibentuk seperti keadaannya, oleh masyarakat. Dilain pihak, karena masyarakat sekedar merupakan keadaan saling memperngaruhi dianatara manusia, maka masyarakat dibentuk seperti keadaanya, orang-orang yang menyusunnya.[3] Hal ini menunjukkan bawa titik tekan ajaran konfusianisme adalah tentang etika, yang lebih mengarahkan pada perbaikan sikap manusia untuk menciptakan keharmonisan antra sesame, dan lingkungan.
Salah satu terbaik kita temui dalam anekdot berikut: tatkala kandang-kandang kuda terbakar ketika dia pulang dari istana, konfusius bertanya: “adakah yang terluka?” dia tidak bertanya tentang keadaan kuda-kuda. Dari cerita ini tampak concern dari konfusius yang lebih kepada manusia ketimbang kepada harta. ada sejumlah contoh kita lain yang memperlihatkan keutamaan manusia ketimbang materi dalam. Itulah sebabnya mengapa para pengamat dari barat maupun timur kerap memandang konfusius sebagai pelopor dari awal humanisme, dan pandangan konfusius itu tampil jauh sebelum humanism masuk ke dalam filsafat barat.[4]
Dalam rasional konfusian itu, konsep-konsep berikut yang memainkan peranan yang mendasar:
·         Pembenaran, penegakan nama
·         kebajikan
·         kebaikan manusiawi
·         respek
·         ritual
·         nasib, takdir
      Politik
Pemikiran politik kongzi dilandaskan pada ajaran etikanya. Dia yakin bahwa pemerintah yang terbaik adalah yang memerintah dengan ritual dan moralitas rakyat ketimbang dengan penyuapan dan pemaksaan. Konfusius sangat menekankan keteladanan para penguasa dalam mengurus Negara. Jika perilaku penguasa itu benar, rakyat yang ada di bawah kekuasaannya akan mengikutinya. Dia memperingatkan para penguasa untuk tidak menindas atau menganggap sepi rakyat kecil.
Konfusius menginginkan kemajuan rakyat melalui “jalan peradaban yang benar”. Hal ini dapat dicapai melalui kekuasaan pemerintahan yang baik, yang mengambil pimpinan dan memberikan contoh pegawai-pegawai yang baik dalam melaksanakan hukum dalam kerangka keagamaan yang telah ditentukan. Dia ingin supaya seluruh Negara diatur  lembaga pendidikan. Pekerjaan harus dimulai dari atas oleh pemerintah yang berkuasa, karena jika pemerintah memberikan contoh yang jelek tentu ia akan menjerumuskan rakyat kedalam kemalangan. Dalam ajaran Konfusius, satu-satuya tujuan Negara adalah untuk memajukan kesejahteraan rakyat sesuai dengan aturan-aturan Tuhan.[5]

C.   Kedudukan Confusius Dalam Sejarah Cina
Cofusius mungkin dikenal dengan lebih baik di barat daripada orang Cina mana pun yang lain. Di Cina sendiri, meskipun selalu termashur, namun kedudukannya dalam sejarah telah mengalami perubahan yang sangat berarti dari satu periode ke periode yang lainnya. Berbicara dari sudut pandang kesejarahan pertama kali ia adalah seorang guru, artinya, hanya seorang guru di antara banyak guru yang ada. Tetapi setelah kematiannya, ia secara berangsur-angsur dipandang sebagai sang guru, unggul dibanding semua guru yang lain. Daripada abad kedua SM, ia diangkat bahkan kedudukan yang lebih tinggi. Menurut banyak penganut confucius pada waktu itu, Confusius sebenarnya telah ditunjuk oleh alam ketuhanan untuk memulai sebuah dinasti baru yang akan menggantikan dinasti Chou. Meskipun dalam kenyataannya tanpa mahkota atau pemerintahan, tetapi ditinjau dari cita-citanya ia telah menjadi seorang raja yang memerintah seluruh kemaharajaan. Bagaimana pertentangan yang nyata ini
  
D.    Kesimpulan
Konficius sebenarnya tidak mempuyai keinginan untuk membuatu suatu madzahab seperti yang dikenal dengan konfusianisme. Tapi ia hanya berkeinginan memperbaiki hubungan manusia dengan manusia, dan manusia dengan lingkungan setempat terutama lewat ajaran-ajaran moral-moralnya, dan juga lewat interpretasinya terhadap enam kitab klasik yang ia fahami. Dan setelah bekembangnya pemikiran yang dikembangkan murid-muridnya terciptalah madzhab konfisianisme.
Jika diperhatikan dalam ajaran konfisianisme sangat menekankan terhadap manusia itu sendiri. Namun dalam hal ini sangat berbeda dengan socrates yang membahas kemanusian yang lebih melayang, pembahasan tentang manusia. Disini konfusianisme lebih membumi, lebih condong pada perjuangan untuk mencapai kebahagiaan manusia (bagaimana seharusnya manusia bertindak).

DAFTAR PUSTAKA
Fung Yu-Lan, Sejarah Filsafat Cina, Pustaka Pelajar, Yogyakarta: 2007
Budiono Kusumohamidjojo, Sejarah Filsafat Tiongkok, Jalasutra, Yogyakarta: 2010
H.A. Mukti Ali, Agama-agama di Dunia, Iain Sunan Kalijaga Press, Yogyakarta 1988


[1] Fung Yu-Lan, Sejarah Filsafat Cina,(Yogyakarta: Pustaka Pelajar,: 2007)
[2] Budiono Kusumohamidjojo, Sejarah Filsafat Tiongkok, (Yogyakarta : Jalasutra,: 2010), hal: 81
[3] H. G. Creel, Alam Pikiran Cina, Penerjemah Soejono Soemargono, (Yogyakarta: Tiara Wacana, cet ii 1990), h. 33
[4] Ibid, hal: 87
[5] H. A. Mukti Ali, Agama-agama di Dunia, (Yogyakarta: Iain Sunan Kalijaga Press, 1988),  Hal. 222

0 comments:

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost Review