Selamat Datang di Sabda Hairus Saleh

Sunday, May 13, 2012

Jean Francois Lyotard: Krisis Legitimasi

Oleh: Hairus Saleh, Lutfi Irham Ghufroni dan Fardiana Fikria Qur’ani

POSTMODERNISME
Pengertian Postmodernisme
Postmodernisme adalah suatu pergerakan ide yang menggantikan ide-ide zaman modern. Zaman modern dicirikan dengan pengutamaan rasio, objektivitas, totalitas, strukturalisasi/ sistematisasi, universalisasi tunggal dan kemajuan saints. Postmodern memiliki ide cita-cita, ingin meningkatkan kondisi sosial, budaya dan  kesadaran akan semua realitas serta perkembangan dalam berbagai bidang. Postmodern mengkritik modernisme yang dianggap telah menyebabkan sentralisasi dan universalisasi ide di berbagai bidang ilmu dan teknologi.
Prinsip  postmodernisme adalah meleburnya batas wilayah dan pembedaan antar budaya tinggi dengan budaya rendah, antara penampilan dan kenyataan, antara simbol dan realitas, antara universal dan peripheral dan segala oposisi biner lainnya yang selama ini dijunjung tinggi oleh teori sosial dan filsafat konvensional.[1]
Postmodernisme juga merupakan intensifikasi (perluasan konsep)  yang dinamis, yang merupakan upaya  terus menerus untuk mencari kebaruan, eksperimentasi dan revolusi kehidupan, yang menentang dan tidak percaya pada segala bentuk narasi besar (meta naratif), dan penolakannya terhadap filsafat metafisis, filsafat sejarah, dan segala bentuk pemikiran totalitas, dan lain-lain. Postmodern dalam bidang filsafat diartikan juga segala bentuk refleksi kritis atas paradigma modern dan atas metafisika pada umumnya dan berusahPostmodernisme jika diperhadapkan dengan modernisme, memiliki posisi yang beragam. Disatu sisi modernisme  dianggap tidak berhasil mengangkat martabat manusia modern. Bahkan mengantarkan manusia ke jurang ketimpangan.  Atas dasar kritik ini,  maka perlu gerakan dan ide-ide baru yang disebut dengan postmodernisme. Sedang sebagian lagi beranggapan, postmodernisme adalah pengembangan dari modernitas[2]. Perbedaan pendapat dua kelompok mengenai pemahaman Post-modernisme cukup berbeda secara signifikan. Satu konsep mengatakan bahwa modernisme berseberangan dengan postmodernisme bahkan terjadi paradoks yang kontras. Sedang yang lain menganggap bahwa postmodernisme adalah bentuk sempurna dari modernisme, seperti pijakan tangga yang satu dengan tangga berikutnya secara berurutan.
Di tengah perdebatan dua konsep di atas, terdapat pendapat ketiga yang ingin menengahi dua pendapat yang kontradiktif tadi. Kata “Post” dalam sebutan postmodernisme  bukan hanya berarti “setelah” (masa berikutnya), postmodernisme adalah usaha keras sebagai reaksi dari kesia-siaan zaman modernis yang sirna begitu saja bagai ditiup angin. Adapun penyebab dari kesia-siaan zaman modernis adalah akibat dari tekanan yang bersumber dari nalar intelektual manusia yang terus bermetamorfosis. Disinilah postmodernisme muncul sebagai sebuah ide ke dalam kancah perdebatan dengan berbagai lingkup Diskursus dan dengan segala dimensinya.[3]
Ciri-cirinya
Cirir-ciri postmodern, melingkupi hal-hal secara konseptual, diantaranya:
1.  Menghendaki penghargaan besar terhadap alam ini sebagai kritik atas gerakan modernisme yang mengeksploitasi alam
2.      Menekankan pentingnya bahasa (Hermeneutik, Filologi)  dalam kehidupan manusia dengan segala konsep dan analisanya yang kompleks, ini sebagai antitesa atas kondisi modernisme atas kuasa tafsir oleh mesin birokrasi ilmu pengetahuan
3.    Menekankan pentingnya bahasa (Hermeneutik, Filologi)  dalam kehidupan manusia dengan segala konsep dan analisanya yang kompleks, ini sebagai antitesa atas kondisi modernisme atas kuasa tafsir oleh mesin birokrasi ilmu pengetahuan Ide besar untuk mengurangi kekaguman terhadap ilmu pengetahuan, kapitaslisme, dan teknologi yang muncul dari perkembangan modernisme.
4.  Menekankan inklusivitas dalam menerima  tantangan agama lain atas agama dominant sehingga terbuka munculnya ruang dialogis. Ini muncul sebagai akibat menjamurnya dan tumbuhkembangnya realitas modernis yang menempatkan ideologi sebagai alat pembenar masing-masing
5.   Sikap yang cenderung permisive dan menerima  terhadap ideologi dan juga agama lain dengan berbagai penafsiran
6.   Adanya  daya dorong  kebangkitan golongan tertindas, seperti golongan ras, gender, kelas minoritas secara sosial yang tersisihkan Tumbuhnya kesadaran akan pentingnya interdependensi (kesaling bergantungan) secara radikal dari semua pihak dengan cara yang dapat dan memungkinkan terpikirkan oleh manusia secara menyeluruh.[4]
JEAN FRANCOIS LYOTARD
Biografi Jean Francois Lyotard
Jean Francois Lyotard lahir pada tahun 1924 di Versailles di sebuah kota kecil di paris bagian selatan. Jean-Pierre Lyotard adalah ayahnya dan ibunya bernama Madeleine.
Ia menikah dengan Andree May pada tahun 1948. Setelah berakhir Perang Dunia ke II, ia belajar filsafat di Sorbonne dan mendapat gelar agre’gation de philosophie tahun 1950. tahun 1950-1952 ia mengajar di sekolah menengah di kota Constantine di Aljazair Timur. Kemudian ia menjadi profesor filsafat di Universitas Paris VIII (Saint-Denis). Jabatan ini dipegangnya sampai usia pensiunnya tahun 1989.
Dari tahun 1956-1966, Lyotard menjadi anggota dewan redaksi jurnal sosialis Socialisme au Berbarie (Sosialisme atau Keadaan Barbar) istilah yang diambilnya dari Marx yang mengandaikan perlunya pilihan antara sosialisme atau keadaan barbar. Ia juga menjabat sebagai anggota dewan redaksi surat kabar sosialis ”Pouvoir Ouvier”. Lyotard menentang secara keras kebijakan pemerintah Prancis saat terjadinya Perang di Aljazair, dan ikut dalam gerakan yang terjadi di Prancis tahun 1968.
Dari tahun 1950-1960 ia dikenal sebagai seorang aktivis yang beraliran Marxis, akan tetapi sejak tahun 1980-an ia dikenal sebagai pemikir posmodernisme non-Marxis yang terkemuka. Tahun 1954 terbit buku pertamanya yang berjudul La Phenomena\ologie, sebuah pengantar untuk memahami fenomenologi Husserl. Meskipun ia masuk kelompok Marxis, akan tetapi kelompoknya selalu kritis dan menolak interprestasi dogmatis terhadap pemikiran Marx seperti yang dilakukan Stalinisme, Trotkyisme dan maoisme. Karena perbedaan pandangan dengan teman-temannya, ia meninggalkan Socialisme ou Barbarie dan mendirikan majalah marxis baru berjudul Puovoir Ouvrier (Kuasa Kaum Buruh) Ia resmi keluar dari lingkungan marxis tahun 1966, karena kekecewaannya terhadap kegagalan gerakan marxis untuk membangun masyarakat sosialis yang adil sebagaimana didengung-dengungkan selama ini. Tahun1971 ia berhasil memperoleh gelar doktor sastra dengan disertasi yang berjudul Discours, figure (Diskursus, Figure) yang membahas tentang problem bahasa dengan fenomenologi. Dengan cara ini ia berharap dapat melampaui aliran strukturalisme dan memposisikannya sebagai salah seorang tokoh posstrukturalisme dan posmodernisme Prancis terkemuka.
Lyotard berulang-kali menegaskan tentang pemikiran Postmodern di dalam eseiesei yang terkumpul dalam bahasa Inggris sebagai The Postmodern Explained to ChildrenToward the Postmodern, dan Postmodern Fables. Pada Tahun 1998, selagi bersiap-siap menghadapi suatu konferensi conference on Postmodernism and Media Theory, ia meninggal dengan tak diduga-duga karena leukemia yang telah mengedepan dengan cepat. Ia dikuburkan di Le Père Lachaise Cemetery di Paris.
Kritis Legetimasi
Dalam pandangan modernisme, pengetahuan sains tidak lagi dihasilkan demi pengetahuan melainkan demi profit di mana kriterium yang berlaku bukan lagi benar/salah, melainkan kriterium performatif: maximum output with a minimum input (menghasilkan semaksimal mungkin dengan biaya sekecil mungkin).[5]
Di sini manusia di paksa secara halus untuk mengkonsumsi suatu prodak yang marupakan hasil suatu riset. Manusia sebenarnya tidak membutuhkan semua produk, namun secara berlahan dibentuklah suatu keinginan yang amat kuat sehingga tetap mengkonsumsi prodak tersebut.
Nah, Tunduknya riset dan proses transmisi pengetahuan pada kriteria performativitas sistem sosial telah membuat riset dan institusi pendidikan berorientasi pada kekuasaan (power). Yang dapat menyokong riset biaya tinggi adalah yang memiliki kekuasaan (modal). IImuwan, teknisi, dan instrumen riset diperdagangkan bukan untuk menemukan kebenaran melainkan untuk memperbesar kekuasaan. Barangsiapa dapat memproduksi bukti-bukti (proofs) ia menguasai "realitas", dan orang yang menguasai "realitas" lah yang memil,iki kekuasaan untuk menentukan mana yang benar dan mana yang adil Inilah yang dilakukan teknologi dengan prinsip efisiensinya (perfomativitas). Demikian pula institusi pendidikan juga tunduk pada kekuasaan. Oleh karena itu, pertanyaan yang diajukan oleh negara, lembaga pendidikan dan siswa bukan lagi "Apakah ini benar?" melainkan "Apakah ini berguna?", "Apakah ini laku di pasaran '(saleable)?" dan dalam konteks meningkatkan kekuasaan: "Apakah ini efisien?".
Pembuat proposisi tidak boleh membuat proposisi tanpa menyediakan bukti yang memperkuat proposisinya, pihak kedua tidak bisa memberikan bukti melainkan hanya memberi persetujuan atau penolakannya. Sains dihadapkan pada kenyataan bahwa ia tidak bisa memberlakukan aturan mainnya secara universal hingga berhak menilai mana pengetahuan absah dan mana yang tidak. Lyotard yakin bahwa kita memasuki fase di mana logika tunggal yang diyakini kaum modernis sudah mati digantikan oleh pluralitas logika atau paralogi.
Perspektivisme tentang ilmu pengetahuan yang berasal dari Nietzche digunakan Lyotard untuk menolak pandangan ilmu pengetahuan yang universal dan total. Menurutnya tidak ada perspektif tunggal tentang realitas objektif yang universal. Manusia tidak memiliki akses untuk melihat dunia sebagaimana nyatanya, anggapan dan keinginan untuk mencapai itu adalah sia-sia. Kebutuhan dan keinginan untuk menemukan kebenaran ilmu pengetahuan, sesungguhnya hanyalah sekedar istilah yang mengacu pada wacana (discourse) yang berhasil dan bermanfaat. Ini berlaku bagi semua pengetahuan dan logika yang selalu bersifat profesional dan perspektif Yang terjadi dalam abad modern adalah bahwa sains hendak melegitimasi kebenaran pemyataan-pemyataannya namun tidak memiliki sumber-sumber legitimasi pada dirinya sendiri sehingga mereka justru meminta bantuan narasi untuk melegitimasi dirinya.
Tentang Narasi
Selama ini terdapat pembedaan yang tegas antara pengetahuan ilmiah dan narasi. Dalam pandangan modem yang dapat disebut pengetahuan hanyalah yang i1miah (sains). Narasi dianggap sebagai sesuatu yang primitif, tradisional, terbelakang, penuh prasangka, dsb. Pembedaan semacam ini sebenamya tidak dapat dipertanggungjawabkan. IImu pengetahuan ilmiah adalah sebuah perrnainan bahasa yang memiliki aturannya sendiri sehingga tidak dapat memvonis narasi sebagai dongeng, legenda, atau mitos yang "bukan pengetahuan". Narasi adalah sebuah bentuk permainan bahasa lain yang memiliki aturan mainnya sendiri. IImu pengetahuan ilmiah tidak dapat menilai negatif narasi yang bcrada di luar kompotensinya
Narasi adalah sebuah bentuk pengetahuan adat yang mengisahkan kesuksesan maupun kegagalan seorang hero. Narasi semacam ini membantu melegitimasi institusi sosial dan memasukkan model-model integrasi yang positif maupun negatif ke dalam institusi-institusi yang ada. Narasi tersusun dari pelbagai jenis pemyataan dan membiarkan dirinya berada di antara beraneka macam permainan bahasa (performatif, preskriptif, evaluatif, denotatif, interogatif, dsb). Seorang pencerita mengklaim kompetensinya untuk menceritakan atas dasar fakta bahwa dia telah mendengar cerita itu sebelumnya. Dengan demikian orang yang sekarang mendengarkan ceritanya (addressee) juga memiliki akses ke otoritas yang sarna untuk menceritakannya (sender) kepada orang lain. Oleh karena itu narasi tidak mempersoalkan legitimasi. Kisah-kisah itu mendapatkan legitimasinya dengan menjalankan fungsinya begitu saja dalam masyarakat.
Yang terjadi dalam abad modern adalah bahwa sains hendak melegitimasi kebenaran penyataan-penyataannya namun tidak memiliki sumber-sumber legitimasi pada dirinya sendiri sehingga mereka justru meminta bantuan narasi untuk melegitimasi dirinya. Digunakannya permainan narasi dalam legitimasi pengetahuan sebenamya sudah dimulai sejak jaman Plato. Plato, misalnya saja, melegitimasi pengetahuan yang sempurna (episteme) dengan narasi tentang Gua. Kemudian Aristoteles mencari legitimasi sains dalam wacana mengenai Ada (Metafisika). Saran Aristoteles yang lebih "modem" adalah bahwa pengetahuan yang ilmiah, termasuk pretensinya untuk mengungkapkan "ada" dari referent, terdiri dari argumentasi dan bukti-suatu dialektika
Mengenai Bahasa
Analisis Lyotard mengenai permainan bahasa berasal dari Wittgenstein, pendekatan permainan bahasa dalam semangat Wittgenstein akan menyatakan eksistensi suatu jenis praktik bahasa dan ketiadaan metabahasa yang berlebihan. Pada permainan bahasa Wittgenstein, terdapat apa yang dinamakan peraturan, yakni ekspresi penggunaan yang selalu ada “di sana”. Seperti yang dinyatakan Wittgenstein, ‘terdapat cara untuk menangkap suatu peraturan yang bukan merupakan sebuah penafsiran, tetapi ditampilkan dalam apa yang disebut “mematuhi aturan” dan “menentangnya” dalam kasus-kasus aktual’.[6] Oleh karena itu menurut Wittgenstein tidak ada gunanya mencari persamaan dalam semua permainan. Tidak ada gunanya dan tidak mungkin juga untuk menunjukkan suatu permainan bahasa sebagai model atau ideal bagi semua permainan lain.
Ada tiga karakteristik dalam setiap permainan bahasa. Pertama, setiap aturan dalam permainan itu tidak mendapatkan legitimasi dari dirinya sendiri melainkan merupakan hasil kontrak di antara pemainnya (eksplisit maupun tidak).[7] Kedua, jika tidak ada aturan maka tidak ada permainan; suatu modifikasi kecil sekali pun terhadap sebuah peraturan akan mengubah permainan itu. Ketiga, setiap pernyataan harus dianggap sebagai suatu “move” dalam permainan. Karakteristik ketiga ini dipakai Lyotard sebagai prinsip pertama yang mendasari keseluruhan metodenya: mengeluarkan suatu pernyataan (move) adalah bertarung – dalam konteks suatu permainan – dan tindakan mengeluarkan pernyataan semacam itu berada dalam domain “general agonistic” (pertarungan pernyataan/argumentasi). Prinsip “pertarungan pernyataan” ini membawa Lyotard pada prinsip kedua, yakni bahwa ikatan sosial dari “move-move” bahasa (language “moves”).
Untuk dapat memahami kondisi pengetahuan dalam masyarakat yang sangat maju ini, Lyotard merasa perlu melihat model macam apakah yang dapat diterapkan terhadap masyarakat seperti itu. Model masyarakat sebagai satu keseluruhan organik (Durkheim) satu sistem fungsional (Parsons) dan suatu kesatuan yang tersusun dari dua kekuatan yang saling bertentangan (Marx) menurut Lyotard sudah tidak memadai lagi. Teori yang memandang masyarakat sebagai suatu totalitas fungsional menganggap seolah-olah masyarakat adalah sebuah mesin besar yang bekerja berdasarkan prinsip efisiensi. Kerinduan untuk membangun masyarakat teknokratis semacam itu merupakan akibat dari proyek modernitas yang ingin mencari kesatuan dan mentotalisasi kebenaran.
Cara memandang bentuk ikatan sosial atau model masyarakat ini mempengaruhi cara melihat status pengetahuan dalam masyarakat yang bersangkutan. Ketika masyarakat dimengerti sebagai sebuah mesin raksasa yang bekerja berdasarkan prinsip efisiensi demi performativitasnya (fungsionalisme), pengetahuan dilihat sebagai suatu elemen tak terpisahkan dari masyarakat yang berperan fungsional. Ilmu positif mendapatkan penghargaan di sini sebab ilmu jenis ini berkaitan langsung dengan teknologi yang menentukan kekuatan produksi sebuah sistem. Sementara itu ketika masyarakat dilihat sebagai dialektika dua kekuatan yang beroposisi, ilmu menempati fungsi kritis. Dalam hal ini yang mendapat tempat adalah jenis ilmu yang kritis, reflektif atau hermeneutika.
Namun demikian, cara memandang masyarakat seperti di atas menurut Lyotard sudah tidak dapat diterima lagi. Masyarakat sekarang adalah masyarakat post-industrial atau masyarakat konsumen. Fungsi negara telah berubah. Kelas yang berkuasa memang tetap kelas pengambil keputusan (decision makers). Namun sekarang ini pengambil keputusan bukan melulu terdiri dari para politisi seperti dalam pemahaman tradisional. Pengambil keputusan terdiri dari para pemimpin perusahaan, administrator tingkat tinggi, pemimpin-pemimpin organisasi kaum propfesional, buruh, politik, dan keagamaan. Mereka inilah yang memiliki akses informasi. Seorang individu dalam masyarakat maju berada di dalam suatu jaringan relasional yang makin kompleks dan terus bergerak (mobile). Setiap orang menempati suatu titik dalam sebuah sirkuit informasi atau berdiri dalam sebuah pos di mana berbagai macam pesan berlalu lalang.
Proses lalu lalang itu berlangsung dalam masyarakat yang – dalam istilahnya Lyotard – dicirikan oleh “pertarungan antar pernyataan” (agnotistic). Sebuah pernyataan (move) selalu memiliki efek pada setiap pemain dalam permainan bahasa ini baik dalam posisi addressee, referent, maupun sender. Setiap orang menurut Lyotard memang sudah selalu berada di tengah-tengah jaringan relasional semacam ini; baginya model yang tepat untuk menggambarkan bentuk ikatan sosial masyarakat kontemporer adalah model permainan bahasa ini.
Dalam situasi seperti ini sikap yang reaksional (sekedar merespon suatu move) bukanlah suatu move yang baik – tak ada keseimbangan kekuasaan. Yang baik adalah pemain selalu berusaha membuat suatu move yang tak terduga-duga. Pertarungan pernyataan semacam ini bukannya tanpa peraturan, namun peraturan yang ada seharusnya memungkinkan pernyataan-pernyataan itu mengalir bebas. Sebuah institusi, termasuk pengetahuan tak bisa memberi batasan mati terhadap move-move yang ada, sebab pembatasan itu sendiri hanya sebuah move dalam permainan.
Mengenai Paralogi
Lyotard menegaskan bahwa kita tidak dapat merujuk ke narasi besar tentang dialektika Roh atau emansipasi manusia untuk mendapatkan legitimasi atas wacana ilmiah postmodern. Juga prinsip konsensus lewat dikursus (Diskurs) segaimana diusulkan oleh Habermas tidak mencukupi untuk melegitimasi sains karena usulan Habermas itu masih merujuk pada narasi emansipasi umat manusia; sclain itu konsensus sebenamya merupakan komponen dari suatu sistem, yaitu komponen untuk memanipulasi sistem agar sistem dapat mempertahankan atau meningkatkan performance atau kinerjanya. Konsensus semacam ini menimbulkan kekerasan terhadap heterogenitas permainan bahasa (teror)  Sains dalam era postmodern in mendapatkan legitimasi dengan paralogi.
Paralogi adalah pengakuan akan pluralitas logika. Yang sekarang harus ditekankan bukan konsensus (homology) melainkan disensus (paralogy). Konsensus adalah suatu horison yang tak pernah akan dicapai. Oleh karena itu bcrbagai macam "move" yang sifatnya lokal dan beraneka ragam harus dihargai. Teori sistem yang mengabdi pada perfomativitas sistem sosial bagi Lyotard cenderung membungkam berbagai "move" baru yang dibuat oleh para ilmuwan dan yang berpotensi mengubah aturan main, sebab sebuah sistem membutuhkan stabilitas demi kinerjanya. Padahal pragmatik riset ilmiah dalam proses argumentasinya sekarang ini menekankan penemuan move-move yang baru dan bahkan aturan main yang bam. Upaya untuk memperkuat bukti-bukti suatu penemuan dilakukan dengan pencarian contoh-contoh yang berkebalikan (counterexamples), atau dengan kata lain mencari the unintelligible. Mendukung suatu argumen berarti mencari yang "paradoks" dan melegitimasinya dengan aturan-aturan baru dalam the games ofreasoning.
Paralogi adalah menciptakan move-move bam yang dimainkan dalam pragmatik pengetahuan. Dalam hal ini sains menjadi model sebuah "sistem terbuka", di mana sebuah penyataan menjadi relevan jika pcruyataan terscbut "melahirkan ide-ide"; artinya jika pernyataan itu mclahirkan pcrnyataan-pernyataan yang lain dan aturan-aturan main yang lain lagi. Oleh karcna itu sains mcnurul Lyotard tidak memiliki suatu meta-bahasa umum yang dapat dipakai untuk mencrjcmahkan atau mengevaluasi jenis-jenis bahasa yang lain. Sains hanyalah salah satu perrnainan bahasa di antara permainan bahasa yang lain. Pengakuan keberagaman permainan bahasa ini pada akhirnya menurut Lyotard adalah langkah pertama untuk mewujudkan keadilan dalam masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA
Bertens, K, Filasafat Kontemporer Inggris Jerman, jakarta: gramedia, cet. iv, 2002
 Kristanto, H. Dwi, Ketidak Percayaan Terhadap Metanarasi, (Majalah filsafat driyakarya, edisi xxv. No. 3, 2002
                  Sugiharto, Bambang,. Postmodernisme Tantangan Bagi Filsafat. Yogyakarta: Kanisius. 2000
 Turner, Bryan S., Teori-teori Sosiologi Modernitas Posmodernitas. Yogyakarta:Pustaka Pelajar. 2000


[1] Bambang Sugiharto,. Postmodernisme Tantangan Bagi Filsafat.(Yogyakarta: Kanisius. 2000) hal. 20
[2]Bryan S. Turner, Teori-teori Sosiologi Modernitas Posmodernitas. (Yogyakarta:Pustaka Pelajar. 2000),
[3] Muhlisin, post-modern dan kritik ideologi pengetahuan modern
[4] Muhlisin, post-modern dan kritik ideologi pengetahuan modern
[5] H. Dwi Kristanto, Ketidak Percayaan Terhadap Metanarasi, (Majalah filsafat driyakarya, edisi xxv. No. 3, 2002), Hal. 11
[6] K. Bertens, Filasafat kontemporer inggris jerman, (jakarta: gramedia, cet. Iv, 2002), Hal. 50
[7] [7] K. Bertens, Hal. 50

1 comments:

novita angraini said...

mantab.... lanjutkan sob..

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost Review