Selamat Datang di Sabda Hairus Saleh

Saturday, May 12, 2012

Gottfried Wilhelm Leibniz (1646-1716)

a. Biografi
Leibniz di lahirkan di Leibzig, Jerman. Ayahnya adalah seorang profesor Filasafat Moral, meninggal ketika Leibniz masih kecil. Sewaktu mahasiswa ia mempelajari ilmu hukum, filsafat, dan juga matematika. Pada usia 20 tahun dia sudah mendapat gelar Doktor. Leibniz adalah seorang ahli filsafat dari Jerman yang tidak hanya seorang ahli filsafat saja melainkan juga seoarang yang ahli dalam ilmu pengetahuan yang universal, sebab ia adalah seorang yang ahli hukum, ahli sastra, ahli ilmu pasti dan ilmu alam, serta ahli teologia dan ahli sejarah.
b. Metafisika
Sama seperti pendahulunya, Descartes dan Spinoza, maka Leibniz juga memfokuskan teori-teorinya kepada aspek metafisika, yakni permasalahan substansi. Kalau seorang Descartes menyebutkan bahwa di alam ini substansi mewakili tiga hal, yakni tuhan, jiwa dan materi, Spinoza (dengan hanya satu substansi: Allah atau alam). Demikian Leibniz mengatakan bahwa terdapat banyak substansi dan jumlahnya tidak terhingga.
Leibniz berpendapat bahwa alam raya ini atau segala sesuatu yang ada tidak berasal dari prinsip satu substansi saja melainkan berasal dari banyak substansi yang jumlahnya tidak tehingga. Dengan kata lain, yang membentuk daya hidup alam ini tidak berasal dari prinsip satu substansi saja, akan tetapi prinsipnya berasal dari eksistensi plural yang menjadikannya hidup. Seperti sebuah mobil yang terangkai dari macam-macam benda yakni busi, dinamo, ban, aki dan lain-lain, yang sebagaimana benda-benda penyusun mobil tersebut juga tersusun dari macam-macam benda lain, maka berkat adanya rangkaian benda-benda tersebut mobil dapat hidup dan beroperasi, jika masing-masing benda yang merangkai mobil itu dilepas satu-persatu, maka mobil tersebut dipastikan tidak berfungsi. Dengan demikian, Leibniz menjadi seorang yang pluralis.
Seperti itulah pandangan Leibniz tentang substansi yang jumlahnya tidak terbatas dan tak terhingga. Ia menyebut substansi-substansi itu dengan nama monad. (monos = satu, monad=satu unit). Monad merupakan substansi sederhana yang akan menyusun substansi yang lebih kompleks. Dikatakan substansi yang sederhana karena adanya penyusunan. Karena penyusunan itu tak lain dan tak bukan dari susunan substansi sederhana. Dengan kata lain bahwasanya substansi yang kompleks merupakan susunan substansi-substansi sederhana. Substansi yang sederhana ialah substansin yang terkecil yang tidak dapat dibagi lagi. Monade ini bukanlah atom, tetapi suatu titik yang bersifat murni metafisis, tanpa bentuk dan tanpa keluasan di dalam ruang.
Jika dalam matematika yang terkecil adalah titik, dan dalam fisika disebut dengan atom, maka dalam metafisika disebut dengan monade. Terkecil dalam pendapat leibniz bukan berarti sebuah ukuran, melainkan sebagai tidak berkeluasan dan tidak mempunyai bagian-bagian. Apa pun yang tidak mempunyai ukuran tuntulah tidak berbentuk, tidak dapat dibagi. Maka yang dimaksud dengan monade bukan sebuah benda. Monade-monade bukanlah sebuah kenyataan jasmaniah melainkan kenyataan mental, yang terdiri dari persepsi dan hasrat. Leibniz membayangkan monade sebagai “force primitives” (daya purba) yang tidak materiil, melainkan spiritual. Setiap Monade tak lain adalah un miroir vivant de l’univers cermin hidup alam semesta.
Setiap monad berbeda satu dengan yang lain. Allah juga monad, tetapi bukan sembarang monade, melainkan monade purba yang merupakan aktivitas murni, actus purus. Dan tuhan (sesuatu yang supermonad dan satu-satunya monad yang tidak dicipta), Pencipta monad-monade itu. Maka karya Leibniz tentang ini diberi judul Monadologi (study tentang monad) yang ditulisnya 1714.
Sebagai substansi nonmaterial, monade bersifat; 1. Abadi, tidak bisa dihasilkan, ataupun dimusnahkan; 2. Tidak bisa dibagi (bertentangan dengan “substansi” keluasan. Descartes yang mengandaikan sifat dapat dibagi); 3. Individual atau berdiri sendiri, sehingga tidak ada monade yang identik dengan monade lain (bertentangan dengan substansi Spinoza yakni bahwa substasi hanya tuhan atau Alam); 4. Mewujudkan kesatuan yang tertutup atau tidak berjendela, seolah-olah sesuatu bisa masuk atau keluar; Menurut sifatnya monade tidak mempunyai jendela-jendela, tempat suatu bisa masuk atau keluar. Jika demikian bagaimanakah monade-monade dapat mengenal realitas di luarnya? Pertanyaan ini dijawab oleh leibnizt bahwasanya tiap monade mencerminkan semua monade yang lain, sehingga dalam dirinya setiap monade mengenal realitas seluruhnya; 5. Mampu bekerja berkat daya aktif dari dalam dirinya sendiri. Kerja dari dan oleh dirinya sendiri ini terdiri dari kegiatan mengamati (perceptio) dan meninginkan (appetitions). Karena sifat-sifat inilah, Leibniz mendefinisikan monade sebagai atom-atom sejati dari alam dan hanya apabila monade tersebut ada dalam “jasad-jasad organic”, maka monade-monade itu akan menjadi “prinsip kehidupan”.
Usaha mengamati (perceptio) sebuah monade menurut Leibniz terdiri dari “merekam” atau seperti sebuah cermin memantulkan alam semesta sebagai keseluruhan. Keberadaan semua monade tersebut mempunyai tugas untuk bekerja sama membentuk suatu struktur dunia yang harmonis dan sesungguhnya monade-monade ini mencerminkan alam semesta, akan tetapi pencerminan tersebut bukan berasal dari alam itu sendiri yang memberikan, akan tetapi Tuhan-lah yang memberikannya sebuah sifat spontan yang menyebabkan refleksisme. Keberadaan semua monad tersebut mempunyai tugas untuk bekerja sama membentuk suatu struktur dunia yang harmonis.
Monade menurut Leibniz ada tiga macam berdasarkan tingkat kejelasan pengamatan. pertama, monade yang hanya memiliki gambaran gelap dan sama sekali tidak disadari, yakni monade-monade yang menyusun benda-benda anorganik. Kedua, monade yang telah memiliki gambaran agak terang yaitu, yaitu monade yang member pengenalan inderawi dan memori, misalnya monade-monade penyusun manusia dan hewan. Ketiga, monade yang memiliki gambaran yang terang dan kesadarn diri (apperceptio), yakni jiwa manusia yang mengenal hakikat segala sesuatu secara sadar dan mampu mengungkapkan apa yang dilihatnya ke dalam suatu definisi.
Selain mengamati tiap monade juga menginginkan (appetitions).. Menurut Leibnizt tiap monade memiliki daya dorong dari dalam dirinya sendiri untuk bergerak secara pogresif, mulai dari usaha untuk mendapat gagasan yang baru dan agak jelas(perceptio) hingga mendapat gagasan yang jelas dan di sadari (apperceptio).
c. Argumen Lebniz Tentang Bukti Adanya Tuhan
Dalam permikirannya, Leibniz bermaksud untuk membuktikan eksistensi wujud (Tuhan). Bagaimana keberadaan Tuhan itu benar-benar “ada” didalam kehidupan manusia. Ia membuktikan eksistensi Tuhan dengan konsepnya tentang monade-monade.
Leibniz berusaha membuktikan keberadaan Tuhan dengan empat Argumen. Pertama, ia mengatakan bahwa manusia memiliki ide kesempurnaan, maka adanya Tuhan terbukti. Bukti ini disebut dengan ontologism. Kedua, ia berpendapat adanya alam semesta dan tidak lengkapnya membuktikan adanya sesuatu yang melebihi alam semesta ini, dan yang transenden ini disebut dengan Tuhan. Ketiga, ia berpendapat bahwa kita selalu ingin mencapai kebenaran abadi dan bahwa kebenaran itu tak bisa di hasilkan manusia menunjukkan adanya adanya pikiran abadi yaitu “Tuhan”. Keempat, Leibniz mengatakan bahwa adanya keselarasan antara monade-monade membuktikan bahwa pada awal mula ada yang mencocokan mereka satu sama lain, yang mencocokkan itu adalah Tuhan.
d. Manusia
Manusia adalah kumpulan monade-monade, yang karena keselarasan yang ditentukan sebelumnya, telah di hubungkan oleh suatu “ikatan substansi” (vinculum substantiale). Menurut tubuhnya, manusia termasuk monade pertama, menurut nafsu dan perasannya termasuk monade kedua dan menurut jiwanya manusia termasuk monade ketiga. Seluruh organisme terdiri dari monade-monade yang hidup. Namun ada monade pusat satu, yang mengatur semuanya yang secara khusus tampil sebagai asas hidup, atau sebagai jiwa makhluk yang hidup. Kesatuan antara tubuh dan jiwa disebabkan karena adanya kerja sama antara keduanya dan beralaskan “ikatan substansi ” (vinculum substantiale), yang bersandar kepada keselarasan yang di tentukan sebelumnya (harmonia praestabilita). Hal ini di ibaratkan seperti dua alroji yang disusun oleh tukang alroji yang ahli sedemikian rupa sehingga keduanya berjalan dengan cara yang sama dan menunjukkan waktu yang sama tanpa ada pengaruh kausal di antaranya.
Dalam hubungan jiwa dengan tubuh, Leibniz berpendapat bahwa tubuh berhubungan erat dengan jiwa. Tidak seperti pandangan Descartes yang menganggap tubuh hanya merupakan teman tidur (bersifat pasif), Leibniz memandang bahwa tubuh tidak terus-terusan terdiri dari ukuran, bentuk, dan gerakan, melainkan kita harus mengenali sesuatu yang terdapat dalam tubuh yang menghubungkan dengan jiwa, Leibniz menyebutnya dengan subtansi—Leibniz menyebut subtansi dengan monad. Ia menyebutkan bahwa di dalam manusia terdapat sesuatu yang menyerupai jiwa, Leibniz menyebutnya dengan subtansi (monad), yang memberi daya kepada tubuh untuk melakukan aktivitas. Menurutnya alam merupakan kumpulan dari berbagai monad, ia menolak ide ketunggalan monad Spinoza.
D. Kesimpulan
Ada banyak substansi di dunia menurut Leibniz, substansi tersebut disebut juga dengan monade, berbeda dengan Spinoza yang mengatakan bahwa substasi hanya ada satu yaitu Tuhan atau alam, dan begitu pula dengan Descartes yang membagi subtansi menjadi tiga, yaitu ; Tuhan, Pemikiran, dan keluasan Tuhan telah menciptakan dunia sebelumnnya, sehingga dunia yang sedang berjalan sekarang adalah dunia yang telah ditentukan oleh Tuhan sebelumnya, ia mengibaratkan sebagai sebuah jam dinding.


Daftar Pustaka
Ahmad,tafsir. Filsafat umum akal dan hati sejak thales dan captra, bandung: Rosda, 2009
F. Budi, Hardiman, “ Filsafat modern dari Machiavelli sampai Nietsche”,
Hadiwijono, harun. Sari Sejarah Filsafat Barat 2, yogjakarta: kanisius,1990.
Petrus, Simon, Petualangan Intelektual konfrontasi dengan para filsuf dari zaman yunani hingga zaman modern, Yogjakarta: Kanisius, 2008.

0 comments:

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost Review