Selamat Datang di Sabda Hairus Saleh

Thursday, May 10, 2012

Demokritus dan Atom Abad ke-5

Demokrotus bias dimasukkan dalam daftar failasuf alam, karena jika dilihat dari pemikirannya yang lebih condong terhadap sesuatu yang substansial dari segala sesuatu. Ia menyatakan bahwa segala realita tercipta, dan terdiri dari gugusan unsur-unsur terkecil yang tidak dapat dibagi lagi. Demokrotus nerupakan salah satu dari failasuf Yunani yang tidak kalah popular dengan failasuf lainya. Ia adalah murid Leukippus yang lahir di Abdera (ketimur dari Athena) sekitar tahun 460-360 SM.
Ia dikenal sebagai orang yang mahir/ahli dalam ilmu alam terkemuka yang berpengetahuan luas. Ia pun juga seorang perantau yang sangat hebat, tapi perlu diketahui bahwa rantauan dia tidak untuk mencari kerja, melainkan untuk menambah pengalaman, penegetahuan, dan wawasann intlektual baru yang terdapat dinegara yang ia kunjunginya. Sehingga tidak merantau kesembarang Negara, tapi ia merantau kenegara yang mempunyai peradaban intlektualitas yang tinggi seperti Mesir, Persia, dan Babilonia, dan pada akhirnya ke Athena. 
Dalam pemikian Demokritus tentang atom, segala sesuatu tercipta dari atom (sesatu yang tidak dapat dibagi lagi). Jadi asal mula segala sesuatu berasal dari sesuatu yang sangat kecil dan sesuatu yang tak terbagai lagi itu saling mendekati, dan akhirnya bersatu saling melengkapi, sehingga terbentuklah sesuatu tersebut dengan bentuk yang berbeda. Dan manusia juga demikian, berasal dari atom-atom yang tersusun sangat rapi. hal ini bias dibuktikan dalam badan kita yang ketika kita tarik bagian kulit, seakan bagian kulit dan badan yang lainnya ikut tertari dengan reaksi kita terhadap kulit tersebut, dan hal ini menunjukkan adanya suatu susunan yang sangat saling terikat antara satu dan yang lainnya. Dan ketika daya (tarikan) yang kita reaksikan terhadap kulit tersebut melebihi dari kekuatan daya tarik atom-atom tersebut, kulit kita akan terputus, atau pecah dari bagian kulit yang lainnya. 
Namun, bagaimana bentuk manusia bisa berbeda antara satu sama dengan yang lain, baik berat badan, bentuk tubuh, dan lainnya?, dan bagaimana bisa sifat-sifat manusia juga bisa berbeda antara satu dengan yang lainnya, padahal semuanya tersusun dari unsur-unsur yang sama yaitu atom. Dalam menyikapi hal ini, Demokritus mengatakan persamaan yang dimaksud diatas hanyalah persamaan bahan penyusunya. Dan adanya perbedaan bentuk tubuh dan berat badan disebabkan adanya jumlah penyusun yang berbeda, sehingga semakin banyak jumlah penyusunnya semakin berat pula tubuh seseorang. 
Menurut Demokritus, atom yang menyusun manusia senantiasa selalu bergerak sehingga ia berkesimpulan disela-sela gerakan tersebut pasti terdapat ruang kosong, karena jika tidak ada ruang kosong mustahil atom tersebut bias bergerak hal itu diibaratkan dengan seseorang yang membelah apel menjadi dua bagian yang jika tidak ada ruang kosong ujung pisau yang membelah apel tersebut tidak akan bias menembus, dan memotong apel. 
Nah, diantara gesekan dan gerakan atom-otom tersebut terdapat jiwa manusia yang langsung berhubungan langsung dengan atom tersebut, sehingga jiwa pun akan terpengaruh dengan sejauh mana gerakan atom tersebut, karena faktanya gerakan atom yang berada pada setiap individu adalah berbeda sehingga hal itu akan berpengaru terhadap sifat, dan tingkah laku manusia yang jelas akan menimbulkan perbedaan juga. Namun jika di telusuri lagi, Demokritus bukan orang pertama kali yang mengatakan dan menjelaskan tentang atom, tapi jauh sebelum domokritus atom telah dibahas pada falsafah india jainisme yang muncul sekitar abad ke-8 SM. 
Hanya saja pembahasan atom pada saat itu masih sangat sederhana dan tidak terlalu terkemuka, baru setelah munculnya failasuf Yunani seperti Leukeppus yang merupakan guru Demokritus. Dmokritus, dan atomisme menjadi sangat berkembang, dan menjadi inspirasi pandangan-pandangan ilmu pengetahuan modern yang berkembang sekitar abad ke-17 M yang dipelopori Galeleo, Newton, dkk. 

DAFTAR PUSTAKA: 
Muhammad Hatta, Alam Pikiran Yunani, Jakarta ; UI-Press, 1980 Drs. Atang Abdul Hakim, M.A, Filsafat Umum, Bandung ; Pustaka Setia, cet I, 2008 Lorens Bagus, Kamus Filsafat, Jakatrta; Gramedia, 2005 Simon Petrusl, Tjahjadi, Petualangan Intlektual, Yogyakarta; Kanisius, 2004 Bertrand Russel, Sejarah Filsafat Barat, penerjemah; Sigit Jatmiko, dkk, Yogyakarta; Pustaka Belajar, cet iii, 2007

0 comments:

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost Review