Selamat Datang di Sabda Hairus Saleh

Saturday, April 14, 2012

Yusuf al Makasari

Oleh Hairus Saleh
Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Biografi Pendek
masa kelahiran Syekh Yusuf adalah pada 3 Juli 1628 M, bertepatan dengan 8 Syawal 1036 H di kerajaan kembar Gowa[1] dan Tallo[2]. Sedangkan wafatnya pada 23 Mei 1699 di usianya yang ke-73 tahun. Nama lengkapnya asy Syaikh al Haj Yusuf Abu al Mahasin Hidayatullah Taj Al Khalwati al Makasari, namun biasa dipanggil dengan nama syekh Yusuf. Ia penganut taarekat Khalwatiyah.[3] Namun ada yang mengatakan ia sebagai petinggi tarekat naqsabandiyah.[4]

Guru mengaji yang bernama Daeng ri Tasammang[5]. pondok pesantren Bontoala, gurunya Syed Ba’ Alawy (ilmu-ilmu Islam dan ilmu alat, seperti Nahw, sarf, Balaghah, dan Mantiq). Syekh Jalaluddin al Aidit  di pondok Cikoang Aceh.

Menuntut ilmu-ilmu Islam di Jazirah Arabiah terutama di Mekah dan Madinah sebagai pusat pendidikan Islam pada masa itu dan Istambul (Turki).

Di Hadramaut (Yaman) beliau berguru pada Syekh Abu Abdillah Muhammad Abdul Baqi (1664 M), seorang ulama yang terkenal di Yaman pada masa itu dan juga Khalifah Tarekat al Naqshabandiyyah. Bandara al Zubaid dan berguru pada Syed Ali al Zubaidiy (1084 H). Di Madinah, beliau berguru pada Syekh Ahmad Qusysyiy (1661 M), Mullah Ibrahim al Kawraniy (1690 M) dan Hassan al Ajamiy (1701 M).

Di Damshiq beliau berguru di bawah bimbingan dan asuhan seorang tokoh dakwah dan ulama Sufi serta pakar hadits yang amat masyhur di zamannya, yaitu Syekh Abu al Barakat Ayyub bin Ahmad al Khalwatiy al Qurashiy.

Peikirannya
Konsep taswuf al Makassari, adalah pemurnian kepercayaan  pada Tuhan. Usahanya dalam menjelaskan transendensi Tuhan atas ciptaannya, ia menekankan keesaan Tuhan, tidak berbatas dan mutlak. Tuhan tidak dapat diperbandingkan apapun, (laisa ka mistlihi syai’), beliau mengambil konsep wahdat al syuhud (kesatuan kesadaran atau monisme fenomonologis). Kalau dirinci akan sebagai berikut Tasawuf Hubungannya dengan Akidah, Konsep Tauhid dan Wahdatul Wujud, Konsep Ma’rifat dan Haqiqat, Makna Zikrullah, Wujud Tuhan dan Bayang-Bayang, Karamah, Mu’jizat dan Istidraj, dan al Insan al Kamil.

Baginya jika aqidah itu benar dan kuat, maka amalan tasawuf akan berjalan sesuai dengan ajaran Islam yang benar. Akan tetapi jika aqidah  rapuh dan tidak benar, jelas akan merusak amalan selanjutnya, karena asas aqidah yang tidak benar menjadikan seorang salik bisa terperangkap dalam ajaran sesat dengan tidak disadari.

Menurut Syekh Yusuf unsur-unsur ketauhidan yang mesti diyakini sebagai orang yang menjalani suluk (pendekatan diri) di antaranya Tauhid al Ahad, Tauhid al Af’al, Tauhid al ma’iyyah dan Tauhid al Ihatah.

Syariah ditafsirkan sebagai teori (nazariyyah), yaitu ilmu tentang tata cara melakukan ibadah kepada Allah mengikuti syariat Islam yang telah dikaji secara mendalam oleh ulama fiqh (fuqaha). Sementaratariqah ialah pelaksanaan (tatbiq) amal ibadah (syariah Islamiyyah) dengan penuh keikhlasan mengikuti bimbingan seorang mursyid yang dianggap berpengalaman dan memiliki ilmu yang luas tentang syariat Islam.

Menurut Syekh Yusuf ibadah zikir itu adalah wujud kesempurnaan ittiba (mengikuti) Nabi Muhammad Saw. Dan amat dianjurkan bagi mereka yang menjalani suluk(pendekatan diri) kepada Allah.

Menurut Syekh Yusuf, apa saja yang ada selain Allah sebenarnya tidak ada. Wujud selain Allah hanyalah sebagai bayangan wujud yang berdiri dan memberi wujud bagi yang lain. Yang demikian itu adalah wujud al Haq. Ia menggambarkan bahwa bayang-bayang seseorang itu bukan terwujud dengan sendirinya melainkan wujud karena adanya orang itu sendiri. Yang ada itu adalah orangnya saja, sekalipun bayangan itu terlihat dengan mata.

Tentang karamah dan mu’jizat atau hal hal yang luar biasa yang terjadi atas diri hamba (orang awam) dinamakan istidraj bukan keramah; apabila terjadi atas diri seorang saleh yang melaksanakan syariat berlebih-lebih, maka dinamakanlah karamah sebagai karunia dari Allah dan bila terjadi atas diri seorang nabi, dinamakan mu’jizat, akan tetapi bila terjadi sebelum kenabian dinamakan irhas.

Manusia sempurna menurut Syekh Yusuf adalah manusia yang mengenal Allah dan sampai kemaqam makrifat, bukanlah manusia biasa atau binatang yang berbentuk manusia. Manusia sempurna yang ingat pada Allah dalam segala urusannya kapanpun dan di manapun ia berada, segala kehendaknya untuk Allah dan selalu disisi-Nya. Manusia sempurna itulah yang dipilih Tuhan untuk menampakkan diri-Nya, lalu diberikan-Nya berbagai macam sifat-Nya kepada manusia tersebut, seolah-olah hamba tersebut setelah berakhlak dengan akhlakullah, menjadi Dia dan menjadi Khalifah-Nya di bumi dan menyerupai-Nya, karena Allah telah menciptakan Adam untuk menjadikannya  khalifatullah di bumi. Manusia macam inilah yang menjadi rahasia-Nya.[6]


[3] http://delapanjihad.blogspot.com
[4] http://asmadinsimarmata.blogspot.com
[5] Djirong Basang, Riwayat Syekh Yusuf dan  Kisah  I Makkutaknang dengan Mannun Tungi, (Jakarta: Dep. Pendidikan dan Kebudayaan RI, 1981), h.114.
[6] Nabillah Lubis, Menyingkap Intisari Segala Rahasia, (Bandung;Mizan, 1996), h.57

0 comments:

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost Review