Selamat Datang di Sabda Hairus Saleh

Saturday, April 14, 2012

Syeikh Abdush Shamad al Palimbani

Oleh Hairus Saleh
Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Biografi Singkat
Sayid Abdus Samad bin Abdurrahman al Jawi. Sementara tahun kelahirannya merujuk pada buku Tarikh Salasilah Negri Kedah, beliau dilahirkan sekitar 1704 M (1116 H) di Palembang. Berbeda dengan tahun kelahirannya yang hanya merujuk kepada satu sumber, tidak ada angka yang pasti mengenai tahun kematiannya. Menurut al Baytar (penulis biografi Arab) dalam kamus biografi Arabnya yang berjudul Hilyah al Basyar fi Tarikh al Qarn as Salis 'Asyar menyebutkan al Palimbani wafat setelah 1200 H/1785 M.
al Palimbani dikenal sebagai seorang ulama besar, sufi, dan penulis produktif. Ia pernah belajar tasawuf di Mekkah dan Madinah. Guru agungnya ialah Syakh Muhammad as Samman (Masjid al Haram) dan Syekh Muhammad Abdul Karim as Samani al Madani di Madinah. Ia adalah teman dari Syamsuddin as Sumattrani dan abd ra’uf al jawi as sinkili.
Ia banyak dipengaruhi oleh tarekat Khalwatiyyah dan Samaniyyah. Tarekat Sammaniyyah dapat berkembang pesat dan luas di Nusantara maupun di luar seperti Thailand, Malaysia, Singapura dan Filipina.
Pemikirannya
Ia juga menganut paham tujuh martab. Hanya saja tidak seperti yang dikatakan Syamsuddin al Sumatrani. Terdapat perbedaan yang sangat signifikan antara gagasan keduanya. Kemudian selain itu, terdapat juga pemikirannya yang berlainan, ialah tentang ma’rifah. Oleh karena itu, sebagian para ilmuan mengatakan hal ini menunjukkan ketidak adaan pengaruh Syamsuddin al Sumatrani.
Diantaranya, martabat tujuhnya; pertama, ahadiyatul ahadiyyah (hanya Allah yang betul-betul ada). Kedua, al wahdah (gambaran tentang Tuhan dan bukan Tuhan). Ketiga, al wahidiyah (gambaran tentang Tuhan secara terperinci). Keempat, alam arwah (malaikat dan manusia yang masih belum mempunyai bentuk). Kelima, alam mitsal (alam arwah yang sudah punya bentuk). Keenam, alam ajsam (adanya bentuk makhluk). Ketujuh, alam insan (yang mencakup segenap potensi kesempurnaan martabat-martabat sebelumnya).[1]

Sufi harus menggapai ma’rifah tertinggi, memandang Allah dengan mata hati yang telah suci. Namun, bukan berarti ia harus terus-menerus bersemayam dengan Allah kemudian melupakan aktifitas kemasyarakatan. Di samping ia harus selalu ingat kepada Allah, Allah juga harus tetap melakat dalam hatinya. Dengan kata lain ia harus selalu ingat kepada Allah tanpa harus menghilangkan keduniaan. Tetapi bagaimana dengan dunia itu dapat selalu mengingatkan diri kepada Allah. Tingkah lakunya merupakan simbol keagungan Tuhan yang terus memberikan kesejah teraan terhadap masyarakat, bangsa dan negara.

0 comments:

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost Review