Selamat Datang di Sabda Hairus Saleh

Thursday, April 12, 2012

Syeikh Abdurrauf as Singkili

Oleh Hairus Saleh
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Biografi Singkat
Nama lengkap Abdurrauf adalah Abd ar Rauf bin Ali al Jawiyy al Fansuriyy as Sinkilyy[1]. Beliau berasal dari Fansur, Sinkil (Singkel), pantai barat Laut Aceh. Abdurrauf merupakan keturunan Bangsa Persia yang datang ke Kesultanan Samudera Pasai akhir abad ke-14, kemudian menetap di Pantai Sumatra Barat. Syeikh Ali –sebagai ayah Abdurrauf– adalah kakak dari Hamzah Fansuri.

Menurut Rinkes beliau lahir sekitar tahun 1615 M.  Rinkes memperkirakan tahun itu setelah menghitung mundur berdasarkan tahun kembalinya dari Arab. Beliau telah merantau di tanah Arab selama 19 tahun, dan idealnya (pada umumnya), seseorang merantau pada usia muda (25-30 tahun). Ia juga merantau kenegara pusat ilmu seperti Jeddah, Makkah, Madinah, Mokha, Bait al Faqih, dan tempat-tempat lain.

Dia kembali ke Aceh pada tahun 1661. Abdurrauf wafat pada tahun 1693 dan dimakamkan di dekat Kuala Sungai Aceh. Oleh karena itu beliau mendapat sebutan Teungku di Kuala. Dan namanya diabadikan menjadi nama sebuah perguruan tinggi di Aceh, yaitu Universitas Syaikh Kuala.
Guru spiritualnya yang masyhur ialah Syeikh Shafiuddin Ahmad ad Dajjani al Qusyasyi, guru spiritualnya di Madinah.

Pemekirannya
Ia merupakan tokoh tasawuf yang mencoba menggabungkan wujudiyah dengan paham sunnah atau merekonsiliasi antara tasawuf dan syari’ah.[2] Kalau dasar pemikiran tasawuf, ia berlandaskan kepada tauhid.[3]

Ajaran tasawufnya mirip dengan tasawuf Hamzah Fansuri dengan ar-Raniry yaitu menganut paham satu-satunya wujud hakiki yakni Allah. Sedangakan alam ciptaanya bukan wujud hakiki, tetapi bayangan dari  hakiki. Menurutnya jelaslah alam berbeda dengan Allah. Beliau juga mempunyai pemikiran tentang zikir, zikir menurut pandangannya usaha melepaskn diri dari lalai dan lupa.

Ajaran tasawuf as-Singkili yang lain bertalian dengan martabat perwujudan. Menurutnya ada tiga martabat perwujudan. Pertama, ahadiyah atau la ta’ayyun waktu itumasih merupakan hakikat yang ghaib. Kedua, martabat wahdah atau ta’ayun awwal.

Sudah tercipta hakikat muhammad sangat potensial bagi terciptanya alam. Ketiga, martabat wahdiyyah atau ta’ayyun tsani disebut juga a’ayan al-tsabilah dan darisinilah alam tercipta.


Empat tingkat tauhid dalam kalimat la ilaha ill Allah, yaitu, pertama, menghilangkan sifat atau perbuatan yang tidak layak disandang allah. kedua, uluhiyah, penegasan keTuhanan allah. Ketiga, sifat, yang merupakan penegasan atas sifat-sifat allah. Keempat, zat, menegaskan zat Tuhan.



[1] Ia adalah pengikut tarekat syattariyah
[3] www.melayuonline.com

0 comments:

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost Review