Selamat Datang di Sabda Hairus Saleh

Saturday, April 14, 2012

Ronggo Warsito

Oleh Hairus Saleh
Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Biografi Singkat
Ronggo Warsito lahir di Surakarta, 10 Dulhijah 1728 H (15 Maret 1802 M) tepat 12.00 WIB (siang) dan wafat 24 Desember 1873 M. Nama aslinya Raden Bagus Burhan. Raden Ngabehi Ronggo Warsito merupakan julukan atau gelar sebagai pujangga keraton yang hebat. Tidak hanya itu, ia juga sebagai ahli agama dan ahli kebatinan.

Guru-gurunya di antaranya ialah Kiai Kasan Basri (pengasuh pesantren Gebang Tinatar, Tegal Sari, Ponorogo, melacak pemikiran tasawuf), Ki Tanujoyo (emban sekaligus guru mistik Ronggo Warsito)[1]. Buku yang sangat ia senangi yaitu Naskah Hindu koleksi Ki Ajar Sidalaku, Insan Kamil al Jili.
Saat remaja ia bisa digolongkan sebagai pemuda yang nakal. Ia sangat suka nyabung ayam dan berjudi, sampai-sampi diusir dari pondoknya.
Pemikirannya
Kebanyakan para peneliti mengklaim bahwa teori sufistik Ronggo Warsito lebih mengarah pada kebatinan, karena memang banyak terdapat singkretisasi antara ajaran tasawuf islam dan kejawen. Yang lebih mendoninasi ialah tentang kebatinannya (kejawen).
Misalkan saja dalam konsep tujuh martabatnya yang merupakan hasil dari penghayatan dari ajaran Dewa Ruci[2]. Kemungkinan besar penghayatan terhadap dewa ruci ini juga mempengaruhi wahdatul wujud Ronggo Warsito.
Konsep martabat tujuh dalam Wirid Hidayat Jati ini berisikan apandangan-pandangan hidupnya tentang Tuhan, manusia, dan alam semesta, yakni tiga aspek utama yang terdapat dalam berbagai bentuk ajaran kepercayaan.
Tujuh martabat Ronggo Warsito diantaranya yairu, pertama, Sirajatul Yakin à Ahadiyat, kedua, Nur Muhammad (cahaya yang terpuji) à Wahdat = Pranawa di luar hayyu (hidup), ketiga, Mi’ratul Hayya’i (kaca Wira’i) à Wahadiyyat/sir dan rahsa = Pramana di luar nur, keempat, Ruh Idhofi (nyawa yang jernih) à Martabat alam arwah = Sukma di luar sir, kelima, Kandil (lampu tanpa api) à Alam mitsal = Nafsu di luar roh, keenam, Dharrah (permata) à Alam ajsam = Budi di luar nafs, ketujuh, Hijab, disebut dinding jalal (tabir yang agung) à Insan kamil = Jasad di luar budi.


[1] http://joyodrono-cahmabung.blogspot.com
[2] Dewa Suksama Ruci ialah dewa kebahagiaan (sukma sejati yang diistilahkan berada disetiap diri manusia dan tak dapat dipisahkan) yang dalam cerita wayang pernah dijumpai Bima. Pada saat itu, bima mendapatkan pencerahan rohani. Pertemuan ini berlambang dari manunggali kawulo gusti, persatuan makhluk dengan tuhannya, di mana manusia tenteram bahagia dalam pengayoman cahaya keagungan. http://filsafat.kompasiana.com, http://jagadkejawen.com

0 comments:

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost Review