Selamat Datang di Sabda Hairus Saleh

Saturday, April 28, 2012

Petunjuk Menuju Falsafah

Oleh Hairus Saleh
Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Kajian falsafah tidak sama dengan kajian lainnya. Untuk mengkaji pembahasan falsafah, seseorang membutuhkan tuntunan agar mampu merasuk kedalam lautan makna yang termaktub di balik puing-puing kata dan kalimat filosofis. Barangkali pembaca akan bertanya-tanya di dalam palung pikirannya, mengapa harus ada petunjuk, bukankah kajian falsafah sama seperti yang lain yang hanya butuh kajian belaka? Bukankah pembahasannya tentang itu-itu saja, menggunakan kata dan sturuktur kalimat yang sama dengan kajian lainnya? Lantas, di mana letak kebesaran falsafah?
Falsafah tidak segamlang itu. Memang, falsafah memang menggunakan kata dan sturuktur kalimat yang sama dengan kata pada umumnya seperti perkataan Ibn Rusyd bahwa “alam itu abadi”. Di dalam kalimat ini terdiri dari kata alam, itu, dan abadi dan terdiri dari subjek dan predikat yang sama dengan kalimat lainnya. Contoh lainnya seperti semboyan Descartes bahwa “aku berpikir maka aku ada”. Tentunya kita akan mengerti makna perkata dari kata yang ada pada kalimat itu, dari struktur pun kita sudah sering mendapatkannya. Akan tetapi, apakah kita dapat menangkap makna dari kedua statemen itu. Tidak semua orang bisa mengerti tentang pernyataan filosofis.
Itu karena kajian filosofis tidak sama dengan kajian lainnya. Falsafah tidaklah puas dengan fakta, melainkan terus berupaya untuk mengetahui hal-hal yang di seberang fakta. Karena itu, falsafah adala pikiran-pikiran tentang esensial, fundamental dan radikal. Esensial berarti menyentuk pada hakikat kenyataan atau ilmuan sering menyamakan dengan kenyataan universal. Fundamental merupakan merasuk pada dasar kenyataan. Maksud radikal di sini ialah menyentuh pada akar kenyataan. Sehingga sedikit saja mereka yang memahami filsafat. Oleh karena itu, untuk menghindari kesalah perspektif atau interpretasi, sekedar untuk membantu, diperlukan prosedur berikut ini.
Petunjuk yang ditawarkan F. Budi Hardiman (Falsafah Modern) di antaranya ialah
  1.  Pembaca harus belajar menjadi pemula. Maksudnya pemula dalam segala hal termasuk pemula dalam mengetahui hidup ini. Hanya mereka yang merasa pemula dapat merasa heran bahwa dunia ini ada, mereka ada, tuhan ada dan seterusnya. Menjadi pemula dalam segala hal berarti melihat segalanya seolah-olah untuk pertamakalinya melitat, maka reaksi yang muncul adalah keheranan. Pandangan dengan mata anak yang heran dengan segalanya. Falsafah bermula dari rasa heran macam ini.
  2. Jangan percaya begitu saja bahwa dunia luar itu ada. akal sehat mengatakan bahwa matahari yang muncul tiap pagi itu ada lepas dari kesadaran kita. Namun falsafah mempersolankan apakah benda di luar pikiran kita itu sungguh berada di luar pikiran atau merupakan pantulan/konstruksi pikiran kita. Kontroversi rumit aliran-aliran falsafah dapat disederhanakan ke pertanyaan macam itu.
  3. Lucuti ciri-ciri konkret yang pembaca lihat dan temukanlah ciri umum dalam hal-hal konkret itu. Singkirkan ciri-ciri meja di depan pembaca ini, seperti bentuknya, warnanya, beratnya dst. Maka pada analisis terakhir anda akan menemukan ciri umum yang membuat meja itu sama dengan gentin, mentimun, biri-biri, pulau dst. Ciri umum yang sangat abstrak itu disebut dalam berbagai nama, misalkan keluasan, materi, ada, roh, substansi, idea dst. Berbagai aliran berkontroversi pada ranah ciri-ciri umum dan abstrak itu.
  4. Carilah titik pangkal dari segala sesuatu yang anda lihat itu atau pikiran anda tentang apel? Pertanyaan ini sulit dijawab, seperti pertanyaan mana yang lebi dulu ada, ayam atau telur. Namun dalam falsafah anda harus memilih salah satu, maka anda akan menemukan posisi anda dalam menjelaskan berbagai aliran falsafah.
  5. Pikirkanlah bagian-bagian tanpa melepaskannya dari keseluruhan. Ilmu-ilmu pengetahuan, seperti kimia, ekonomi, psikolosi, sosiologi dst memberikan kita gambaran yang sangat spesifik tentang realitas khusu. Seperti perubahan zat, pertukaran nilai, emosi, masharakat dst. Falsafah tidak inigin mengisolasi macam itu, melainkan memberi anda perspektif tentang keseluruhan. Karena itu cobalah melihat telepn seluler yang anda genggam sebagai sebuah komponen-komponen yang membentuk totalitas dunaia alat-alat. Argumentasi filosofis tidak bermain dengan sebuah komponen, melain dengan totalitas jaringan komponen-komponen itu, misalnya dengan dunia alat-alat dunia sosial, dunia subjektif dsb. Sebab itu hindarilah pandangan mata dekat dan upayakan untuk memiliki pandan mata jauh.
Dan lebih baiknya memperbanyak membaca teks falsafah. Lambat laun, akan mengerti dengan sendirinya.
Klik untuk file, Download.

0 comments:

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost Review