Selamat Datang di Sabda Hairus Saleh

Thursday, April 12, 2012

Hamzah Fanzuri

Oleh Hairus Saleh
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Biografi Singkat
Hamzah Fansuri lahir pada akhir abad ke-16 M di Barus atau Panchor (dalam bahasa Arab disebut Fansur), Sumatera Utara. Ia menghabiskan banyak waktunya dan menetap di Aceh.

Ia penganur tarekat qodiriyah, karena memang ia merupakan murid dari Abdul Qodir Jailani. Alasan yang juga sangat kuat ialah bahwa Hamzah Fanzuri mantan pelajar di Baghdad. Baghdad pada waktu itu merupakan pusat ajaran tarikat Qadiriyah.

Hamzah Fansuri adalah seorang ulama suluk, pujangga yang menyampaikan pesan-pesan dakwah melalui syair-syairnya yang sangat terkenal di abad ke 16. Seorang pengelana negeri-negeri Arab dan Parsia dalam rangka menimba ilmu, juga dijelajahinya Baghdad, Mekkah, Madinah dan Yarussalem.

Pemikirannya
Hamzah terpengaruh dengan faham Ibn Arabi, ahli tasawuf yang masyhur pada akhir abad ke-12 M dan awal abad ke-13 M. Selain itu, Hamzah turut menyisipkan dalam karangannya kutipan-kutipan ahli tasawuf Persia seperti al Junaid, Mansor Hallaj, Jalaluddin Rumi, Abi Yazid Bistami, dan Shamsu Tabriz.

Pokok pemikiran Hamzah Fanzuri ialah wujudiyah martabat lima[1]. Ajaran martabat lima ini merupakan penggabaran mengenai proses penciptaan alam semesta yang belaku terus-menerus di mana alam tampil sebagai manifestasi dari Tuhan. Yang semula bersifat rohani lalu berproses menjadi jasmani. Secara ontologi proses itu dalam pemikiran ibnu Arabi dan al jili disebut dengan tajalli, sedangkan Hamzah Fanzuri menyebutnya ta’ayyun.

Martabat pertama ia menyebutnya dengan ta’ayun awwal (wujud tuhan yang maha alim sehingga dengan sendirinya ia mengada), kedua ta’ayun tsani (ilmu tuhan menyatakan dirinya sebagai ruh yang terpaut, hakikat alam semesta), ketiga ta’ayun tsalits (kenyataan tuhan dalam bentuk ruh dan makhluk-makhluk), dan keempat ta’ayun robi’, dan kelima ta’ayun khamis (taham dua terakhir ini kenyataan tuhan yang sudah tercipta alam semesta, makhluk, manusia dan lainnya).[2]


[1] Sehat Ihsan Shadiqi, Tasawuf Aceh, (Banda Aceh; Katahati Institute, 2008), h.66-67

0 comments:

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost Review