Selamat Datang di Sabda Hairus Saleh

Monday, April 23, 2012

Filsafat Ketuhanan al-Kindi

Oleh Hairus Saleh
Mahasiswa Filsafat Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Menurut al-Kindi, Tuhan ialah ujud yang hak. Ia ada dari semula dan ada untuk selama-lamanya. Tuhan adalah ujud yang sempurna yang tidak didahului oleh ujud lain. Ujudnya tidak berakhir dan tidak ada ujud selain dari pada-Nya. Dia tidak berserikat. Mustahil ia tidak ada. apa bukti ujudNya? Al-Kindi mengemukakan tiga jalan pembuktian ujud Tuhan.
Pertama, barubahnya alam pembuktian adanya Tuhan. Mungkinkah suatu jadi sebab bagi ujud dirinya? Hal itu tidak mungkin. Dengan demikian jelas bahwa alam itu baru. Karena ia terbatas, maka ada awal waktunya. Dari itu tentu ada yang menyebabkan alam ini terjadi. Tidak mungkin ada benda yang ada dengan sendirinya. Dengan demikian ia diciptakan oleh penciptanya dari ketiadaan. Pencipta itu Tuhan.
Kedua, keragaman dalam ujud. Dalam alam tidak mungkin ada keragaman tanpa keseragaman. Tergabungnya keragaman dan keseragaman bersama-sama, bukanlah karena kebetulan, tetapi karena suatu sebab. Dan sebab itu bukanlah alam itu sendiri. Kalau alam itu sendiri jadi sebabnya, halnya tidak berhingga, tak habis-habisnya. Sedangkan suatu yang tidak berakhir tidak mungkin terjadi. Dari itu, sebab tersebut tetntu berada di luar alam. Ia lebih mulai, lebih tinggi dan lebih dahulu adanya, karena sebab harus ada sebelum akibat atau efeknya. Sebab itulah yang Tuhan.
Ketiga, kerapian alam. Alam lahir tidak mungkin rapi dan teratur kecual karena adanya substansi yang tidak tampak. Substansi itu hanya dapat diketahui melalui bekas-bekasNya dan kerapaian serta keteraturan yang kita konstatir pada alam. Mungkinkah suatu rapi dan teratur tanpa ada yang merapikan dan mengaturnya? Substansi yang merapikan dan mengatur alam nyata ini adalah Tuhan.
Sifat Tuhan
Kalau ujud Tuhan telah terbuktikan, timbu masalah sifatNya. Sifat yang paling khas bagiNya,  menurut al-Kindi ialah Keseaan. Tuhan itu satu substansiNya dan satu dalam jumlah. Keesaan itu dibuktikannya dengan kenegativan. Tuhan bukan maddah, bukan bentuk, tidak mempunyai kwantitas, tidak mempunyai kwalitas, tidak berhubungan dengan yang lain, misalnya sebagai ayah atau anak, tidak dapat disifati dengan apa yang ada dalam pikiran, bukan genus, bukan diferensia, bukan  proprium (khas), bukan aksiden, tidak bertubuh, tidak bergerak. Jadi bagaimana Tuhan itu? Sifat Tuhan satu-satuNya. Kalau yang diingkari itu dikatakan sebagai sifatNya, hilangkah kesesaanNya. Karena sifat-sifat itu ada pada alam. Tuhan adalah kesesaan belaka, tidak lain kecuali kesesaan itu semata.
Keesaan itu megandung sifat azali. Tuhan tidak pernah tidak ada, yang ujudnya tidak bergantung pada yang lain atau tergantung pada sebab. Tidak ada yang menjadikanNya, tidak ada yang menyebabkanNya, bukan dia subjek atau predikat.
Substansi yang azali itu tidak rusak, tidak musnah. Ia tidak bergerak, sebab dalam gerak itu ada pertukaran yang tidak sesuai dengan ujud Tuhan yang sempurna. Karena dia  tidak bergerak, maka waktu tidak berlaku bagiNya, karena waktu itu ialah bilangan gerak. Substansi azali itu bekerja ibda, yaitu menjadikan sesuatu dari ketiadaan, tanpa mempunyai perasaan atau menerima pengaruh.
Tuhan ialah sebab awal, yang ujuNya bukan karena sebab lain. Dia ialah substansi yang menciptakan, tetapi bukan diciptakan. Dia adalah substansi yang menyempurnakan, tapi bukan disempurnakan.

Klik untuk PDF artikel, DOWNLOAD.

0 comments:

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost Review