Selamat Datang di Sabda Hairus Saleh

Saturday, November 26, 2011

Orientasi Pemikiran Umat Islam di Tiga Abad Pertama

Oleh Hairus Saleh
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Berangkat dari sebuah sejarah filsafat Yunani yang berjaya di Alexandria. Bahwasanya, di kota terasebut budaya Yunani menjadi satu-satunya pusat peradaban dan pengetahuan dunia. Di sana merupakan tempat pemikiran secular Yunani yang konservatif. Keadaan itu lah yang menjadikan Alexandria terkenal sebagai kota metropolis untuk pengetahuan kuno dan menjadikan kota tersebut sebagai pusat pemikiran dunia.

Alexandria menjadi pujaan dunia di bidang budaya dan pemikiran, itu semua tidak lain karena ada suatu hal yang sangat mendukung perkembangan tersebut, yaitu lengkapnya koleksi perpustakaan yang terdapat di tengah-tengah kota itu. Sehingga masyarakat dan ilmuan dengan mudahnya mempelajari pemikiran dan menganalisis segala hal.

Isi dari perpustakaan itu adalah buku-buku tentang pemikiran tokoh besar Yunani yang sangat berpengaruh di zamannya. Diantaranya adalah pemikiran Phytagoras, Plotinus, Plato dan lainnya. Buku pemikir besar inilah yang mewakili pemikiran religious Yunani.

Pada saat-saat itu, tepatnya sebelum datangnya Islam, kehidupan orang Arab adalah nomaden. Sering terjadi pertikaian antara yang satu dengan yang lainnya. Tidak ada kerukunan antara umat beragama, atheis maupun orang yang musyrik. Di tengah keadaan seperti itu, datanglah tawaran-tawaran ajaran baru dari agama-agama baru yang lebih menjanjikan suatu kedamaian. Agama-agama yang menawarkan itu adalah Zoroaster, Yahudi, Kristen dan Islam.

Islam sebagai agama yang juga memengaruhi orang Arab, ia mempunyai cirri khas yang tidak sama dengan lainnya seperti tatacara dalam beribadah dan konsep-konsep ketuhanannnya. Namun secara garis besar pada umumnya mempunyai ajaran yang sama berupa ajaran beribadah kepada Tuhan, berpuasa dan lain sebagainya.

Ajaran itu tidak lain adalah ajaran tentang keimanan. Namun cukuplah bagi muslim sebagai langkah awal menuju pemikiran tradisional yang nantinya sangat mempengaruhi perkembangan pemikiranya.

Kontak antara muslim dengan pemikiran tradisional  terjadi ketika umat Islam mengadakan ekspansi keberbagai daerah di Eropa dan Afrika. Dalam keadaan itu, pemikiran klasik mempunyai peran penting. Ia mengajarkan pada umat Islam tentang pemikiran yang luas. Pengaruh itu jelas ada konsekuensi baik dan buruk. Konsekuensi baiknya adalah pembelajaran bagaimana manusia seharusnya dalam mengahapi realita. Setidaknya pemikiran klasik itu menjadikan umat Islam tahu akan dirinya sekalligus mengantarkan umat Islam pada kemenangan dalam persaingan pemikiran sekitar abad pertengahan.

Sedangkan kosekuensi buruknya adalah disitu terdapat suatu pengkiblatan secara mutlak terhadap pemikiran Yunani yang cenderung liberal dan secular. Sehingga kekafiran sebagai sebuah klaim kian bertambah. Ini adalah anggapan sebagian pemikir Islam yang rata-rata berasal dari Turki.

Di tengah-tengah suasana tentram muncullah Mu’tazilah yang sangat terpengaruh oleh pemikiran Yunani. Ia mengatakan Tuhan adalah kekal sedangkan pada intinya atribut yang diidentifikasi dengan-Nya sebagai hal yang mutlak. Hunbungannya dengan makhluk yang menghasilkan atribut lainnya seperti penciptaan, pemelihara, pengungkap yang termasuk kategori waktu.

Dalam hal pemikiran, Islam sangat terpengaruh dengan pemikiran Yunani kuno seperti Poatinus, Plato dan Aristoteles. Mereka masing-masing mempengaruhi teory emanasi. Bagaimmana manusia ada, tidak lain hanyalah pancara dari sang pencipta.

Contoh lain yang dianggap merupakan dampak buruk dari pemikiran Yunani ialah munculnya al Râzî, pemikir Islam Persia yang sangat terkenal itu. Pemkiran yang dianggap banyak orang sebagai pemikiran yang melenceng dari ajaran Islam ialah ajaran tentang singkretis dan esoteris. Orang-orang menilainya sebagai pemikiran yang murni diambil dari pemikiran Yunani kuno atau paling tidak berdasarkan pemikiran para orang bijak Yunani kuno yaitu Plato, Plotinus, Phytagoras, Anaxigoras dan Empedokles, tidak ada penyaringan atau penyesuaian dengan Islam.

Selain pemikiran tersebut mengembangkan dari filusuf Yunani, ia dimungkinkan berasal metafisika Zoroaster dan penggabungan metafisika Manichean dengan gnostil dan juga dicampur dengan rasionalisme filsafat budha.

Orang-orang terutama para pemikir Turki menganggap bahwa pantheism sufisme Islam berasal dari India, yaitu ajaran Brahman. Namun kenyataannya ia berasal dari pemikiran Plotinus dan Neo-Gnostik yang beralih ke Islam melalui Persia.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost Review