Selamat Datang di Sabda Hairus Saleh

Saturday, November 12, 2011

KARYA SENI

(Bentuk dan Unsur)
Oleh ; Hairus Saleh
A.    Definisi Karya Seni
Dalam beberapa pertemuan terakhir, karya seni sudah menjadi pembahasan yang sangat menggiurkan hasrat keingin tahuan para pendengar setia. Hal itu tidak lain karena karya seni sudah melekat dalam kehidupan mereka, namun belum terurai secara rapi. Definisi yang cukup jelas dan detail akannya sangat diperlukan sebagai alat untuk menggapai pengetahuan akan karya seni itu.
Karya seni adalah hasil proses kreasi seniman berwujud visual dua dimensi maupun tiga dimensi (patung, lukisan, desain, arsitektur), wujud audio (musik dan sastra), audio visual (film, teater dan tari) yang dapat dinikmati atau diapresiasi melalui berbagai indra yang dimiliki oleh manusia. Benda seni atau karya seni terkait erat dengan medium atau bahan yang digunakan dalam menciptakan karya seni tersebut.
Beberapa pertanyaan yang biasa muncul terkait karya atau benda seni adalah apakah karya seni merupakan peniruan kenyataan (istilah Plato mimesis) atau merupakan ekspresi jiwa seniman. Persoalan subjektifitas dalam seni (ekspresi) dan objektifitas (mimesis) berlangsung di lingkungan penciptaan (seniman). Persoalan lainnya adalah seni tinggi dan seni rendah, seni eksklusif dan seni pinggiran, istilah Sanento Yuliman “bawah dan  atas” Karya seni atau benda seni menekankan pentingnya aspek bentuk, material, struktur, symbol, dan estetika. Permasalahan ini sudah dijelaskan secara luas pada pertemuan kemaren.
Karya seni merupaka bentuk materi dari ungkapan ataupun tanggapan rohani terhadap apa yang dirasakan seniman. Sehingga dalam karya seni pasti memiliki makna estetik yang sangat terpengaruhi oleh budaya, agama, keadaan sosial dan latar belakang seniman itu sendiri.
B.     Bentuk-bentuk Karya Seni
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, bentuk berkonotasi kata benda yang berarti rupa, sedangkan dalam bahasa Inggris disebut form. Kemudian menurut Burke dalam buku “Art As Image And Idea” atau “Seni Sebagai Ujud dan Gagasan” terjemahan SP. Gustami (1991:28-29), menyebutkan Bentuk adalah manifestasi fisik luar dari suatu obyek yang hidup, sedangkan bidang adalah  manifestasi dari suatu obyek yang mati.
Dalam hal ini bentuk memiliki kualitas linier sebagai manifestasi fisik dari suatu obyek atau benda, sehingga mempunyai efek yang membuat kita menyadari adanya bentuk dan makna, dengan menghadirkan warna-warna silhouette pada bidang atau ruang yang dipagari. Di dalam memaknai suatu bentuk pada karya seni, Sumardjo (2000: 116) mengemukakan bahwa, bentuk seni inilah yang pertama-tama tertangkap oleh penikmat seni dan serta-merta dapat membangkitkan kepuasan atau kegembiraan. Dari nilai bentuk ini, mulailah bangkit seluruh potensi diri penikmat untuk menggali lebih jauh nilai-nilai lain yang ditawarkannya. Dalam hubungan ini bentuk karya yang diciptakan, diwujudkan ke dalam bentuk-bentuk yang representative dan abtraktif antara lain: figur-figur manusia, benda budaya, serta bentuk-bentuk non konvensional yang dapat menghadirkan pencitraan bentuk-bentuk imajinatif yang mewakili konsep distorsi bentuk pada karya seni.
Dalam pembahasan ini, Hegel menjelaskan pandangannya tentang bentuk karya seni berdasarkan analisi logis bahwa karya seni dibagi menjadi tiga bentuk, diantaranya ialah simbolik, kalasik dan romantik. Menurunya, karya seni merupakan bentuk realisasi dari roh yang semakin bebas dan rasional. Oleh karena itu, ia berkeyakinan bahwa karya seni yang paling sempurna merupakan karya seni yang paling tidak terikat pada hal-hal yang material. Dengan kata lain ia yang paling bersifat spiritual, bebas dan subjektif. 
          a.      Karya Seni Simbolik (puncaknya ialah arsitektur)
Karya seni simbolik ini merupakan suatu karya yang mengrkspresikan suatu yang ada di dalam idea secara murni ke dalam bentuk materi indrawi. Materi karya seni simblolik adalah benda-benda natural yang belum banyak diolah dengan kekayaan dan aktifitas roh. Dalam hal ini, yang mendominasi karya ialah materi, sehingga ia dinilai sangat jauh dari hakikat yang bersifat spritual.
Yang sangat mendukung dan mengantarkan pada pemahaman yang gamblang tampak pada pengindikasian yang absolut yang diungkapkan melalui kesan dengan cara memanipulasi benda-benda alam. Ide mengenai sang ilahi tampil sebagai hal yang sangat alami. Misalnya, Piramida Mesir atau Pagoda Hindu, rumah yang arsiteknya mengandung simbol ketuhanan.
Simbol lain ialah singa yang dilambangkan oleh orang Yahudi sebagai lambang dari keberanian yang absolut atau lembu yang dilambangkan sebagai seimbol kesuburan. Penyajian ini terdapat di dalam puisi-puisi kuno Yahudi.
           b.      Klasik (puncaknya adalah patung)
Tidak jauh berbeda dengan penjelasan karya seni simbolik di atas, karya seni klasik juga mengekspresikan dunia idea kepada bentuk materi yang merupakan bagian dari alam. Bentuk materi tadi tidak didominasi oleh materi ataupun roh (idea), namun antara roh dan materi mengalami perpaduan yang amat harmoni. Terdapat keseimbangan antara keduannya menyatu dalam materi yang dijadikan sebagai bentuk ekspresi jiwa.
Agama Hindu membuat patung sebagai tapilan dari Tuhan. Di dalam patung buatan tersebut terdapat roh Tuhan yang melebur dengan patung. Ini merupakan keunggulan karya seni klasik dengan karya seni simbolik. Dengan kata lain sesuatu yang immateri dipresentasikan dalam bentuk materi.
          c.       Romantik (puncaknya ialah puisi)
Karya seni romantik ialah sintesis atas kedua jenis karya seni di atas. Ia adalah puncak inkarnasi roh dalam karya. Karya seni romantik membatalkan unifikasi ide dan realita. Materi dalam karya ini tidak begitu menjadi yang prioitas.
Karya seni romantik ini merupakan momen di mana roh berekonsiliasi dengan dirinya sendiri. Dalam karya seni simbolik dan klasik, ide mengenai yang abstrak dipresentasikan dalam bentuk indrawi, sementara dalam seni romantik, roh tampir dalam bentuk indrawi itu kembali ditarik kembali ke kehidupan batin.
Roh atau yang ideal termanifestasikan dalam warna, suara ataupun hal yang sifatnya kurang material dibandingkan materi dalam kedua bentuk karya seni sebelumnya. Istilah yang digunakan Midji Sutrisno roh termanifestasikan kedalam materi.
Dalam hal ini, seniman mempunyai posisi yang sangat bebas dalam mengekspresikan imajinasi dan intuisinya tanpa di batasi oleh dunia.
Karya ini sangat tampak pada pada karya seperti puisi, musik, warna atau lainnya yang tak tampak secara utuh dalam materi. Musik itu semacam jeritan batin, ekpresi emosi terdalam manusia. Lirik puisi merupakan ekspresi yang sangat subjektif.
C.    Unsur-unsur Karya Seni
a.      Unsur-unsur Fisik
Unsur- unsur fisik tersebut diantaranya adalah garis, bidang, bentuk, ruang, tekstur, warna dan gelap terang:
Garis merupakan unsur mendasar dalam mewujudkan sebuah karya . Garis memiliki dimensi memanjang dan mempunyai arah serta sifat-sifat khusus seperti: pendek, panjang, vertikal, horizontal, lurus, melengkung, berombak dan seterusnya. Garis terjadi karena titik yang bergerak dan membekaskan jejaknya. Dalam sebuah karya seni garis dapat juga digunakan sebagai simbol ekspresi. Garis tebal tegak lurus misalnya, memberi kesan kuat dan tegas, sedangkan garis tipis melengkung, memberi kesan lemah dan ringkih.
Raut, bidang, yaitu unsur  yang terbentuk dari pertemuan ujung sebuah garis atau perpotongan beberapa buah garis Bidang dapat pula ditimbulkan dan dibentuk oleh pulasan warna atau nada gelap- terang.
Bentuk, yaitu unsur yang selalu berkaitan dengan benda, baik alami maupun buatan. Bantuk benda dapat berupa bangun (shape) beraturan seperti lingkaran, segi empat segi tiga atau tidak beraturan. Selain berupa bangun, benda juga memiliki bentuk palstis (form). Sebuah kotak kayu memiliki bangun persegi empat, tetapi adanya tekstur dan kesan gelap terang membuat kita dapat melihat bentuk plastisnya.
Ruang. Unsur ruang merupakan dimensi dari sebuah benda. Ruang dua dimensi hanya menunjukan ukuran panjang dan lebar sedangkan ruang tiga dimensi memberikan kesan kedalaman. Seniman lukis atau grafis yang membuat karya dua dimensi dapat juga menghadirkan kesan tiga dimensi pada karyanya dengan bantuan intensitas warna, terang-gelap, atau menggunakan teknik perspektif untuk menciptakan ruang semu (khayal). Berbeda dengan pematung, arsitektur atau desainer interior, ruang tiga dimensi adalah ruang yang sebenarnya.
Tekstur. Unsur tekstur atau barik adalah kualitas taktil dari suatu permukaan. Taktil artinya dapat diraba atau yang berkaitan dengan indra peraba. Disamping itu, tekstur juga dapat dimaknai sebagai penggambaran struktur permukaan suatu objek baik halus maupun kasar. Berdasarkan wujudnya, tekstur dapat dibedakan atas tekstur asli dan tekstur buatan. Tekstur asli adalah perbedaan ketinggian permukaan objek yang nyata dan dapat diraba, sedangkan tekstur buatan adalah kesan permukaan objek yang timbul pada suatu benda karena pengolahan garis, warna, ruang, terang-gelap dsb.
Warna, yaitu kesan yang ditimbulkan akibat pantulan cahaya yang mengenai permukaan suatu benda. Pada karya , warna dapat berwujud garis, bidang, ruang dan nada gelap terang.
Dalam seni terdapat beberapa macam penggunaan warna, yaitu harmonis, heraldis dan murni. Penggunaan warna disebut harmonis jika penerapannya sesuai dengan kenyataan sebenarnya. Sedangkan heraldis atau simbolis adalah pengunaan warna untuk menunjukkan tanda atau simbol tertentu. Adapun penggunaan warna secara murni adalah penerapan warna yang tidak terikat pada kenyataan objek atau simbol tertentu.
Gelap-terang. Unsur gelap terang timbul karena adanya perbedaan intensitas cahaya yang jatuh pada permukaan benda. Perbedaan ini menyebabkan munculnya tingkat nada warna (value) yang berbeda. Perbedaan unsur nada gelap terang memberikan kesan permukaan yang sempit, lebar, arah dan efek keruangan. Ruang yang gelap seringkali memberikan kesan sempit dan berat sedangkan ruang yang terang memberikan kesan ringan, luas dan lapang.
b. Unsur non Fisik henry parker
            Unsur non fisik dalam karya  berupa kaidah atau aturan baku yang diyakini oleh beberapa seniman secara konvensional dapat membentuk sebuah karya seni yang baik dan indah. Kaidah atau aturan baku ini disebut komposisi, berasal dari bahasa latin compositio yang artinya menyusun atau menggabungkan menjadi satu. Komposisi mencakup tiga bagian pokok yaitu: kesatuan (unity); keseimbangan (balance) dan irama (rhythm), tema, variasi tematik, perkembangan, tata jenjang
            Kesatuan (unity), dalam karya  menunjukkan keterpaduan berbagai unsur (fisik dan non fisik) dengan karakter yang berbeda dalam sebuah karya. Unsur yang berpadu dan saling mangisi akan mendukung terwujudnya karya seni yang indah.
            Keseimbangan (balance), adalah penyusunan unsur-unsur yang berbeda atau berlawanan tetapi memiliki keterpaduan dan saling mengisi atau menyeimbangkan. Keseimbangan ini ada yang simetris, yaitu menunjukkan atau menggambarkan beberapa unsur yang sama diletakkan dalam susunan yang sama (kiri-kanan, atas-bawah, dll.) dan ada pula yang asimetris yaitu penyusunan unsurnya tidak ditempatkan secara sama namun tetap menunjukkan kesan keseimbangan.
            Irama (rhythm) tidak hanya dikenal dalam seni musik. Dalam, irama merupakan kesan gerak yang timbul dari penyusunan atau perpaduan unsur-unsur seni dalam sebuah komposisi. Kesan gerak dalam irama tersebut dapat bersifat harmoni dan kontras, pengulangan (repetisi) atau variasi.
Tema, dalam suatu karya seni tentunya terdapat karakter dominan. Artinya terdapat ide atau ide-ide atau garis-garis, bentuk atau warna yang bersifat sentral di mana ciri khas dari seluruh karya seni dipusatkan.
Variasi tematik, selain tema induk yang dijelaskan di atas, masih terdapat warna, garis-garis atau benetuk yang sama tetapi tampil dalam bentuk yang berbeda-beda. Bentuk yang sama memiliki ururan yang bervariasi inilah yang disebut dengan variasi tematik.
Perkembangan, dalam karya seni yang statis, terdapat suatu proses atau urutan yang menentukan bagian berikutnya. Nah urutan dari proses ini harus ada, dan tidak terkontaminasi atau teracak, sehingga para penikmat seni bisa menangkap makna yang akan disampaikan dan dinikmatinya.
Tata jenjang, ialah tingkat peletakan suatu pusat terpenting dari karya seni. Kalau dalam gambar atau lukiran pertatanyaannya bisa seperti ini, apa yang harus mencolok, harus diletakkan pada bagian terdepan dan menguasai lukisan? Sehingga dalam lukisan tentang manusia biasanya wajah lah yang diletakkan diatas –bagian terdepan dari pada- pemandangan atau lainnya.

Daftar Pustaka
Sutrisno, Mudji, Teks-Teks Kunci Estetika: Filsafat Seni, Yogyakarta; Galang Press, 2005
__________, Estetika Filsafat Keindahan, Yogyakarta; Kanisius, cet ix, 2003
Yakob Sumarjo, Perkembangan Teater Modern dan Sastra Drama Indonesia, dari Universitas Michigan, Bandung Citra Aditya Bakti, 1992

2 comments:

Anonymous said...

Makasih gan sangat membantu infonya

Hairus Saleh said...

sipp.. sama2 gann....

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost Review