Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Theologi dan Teori Kenabian Al-Razi

Oleh Hairus Saleh

Meskipun Al-Razi seorang rasional murni ia bukanlah seorang ateis, malahan seorang monoteis yang percaya pada adanya Tuhan, sebagai Penyusun dan Pengatur alam ini hanya saja ia tidak mengakui adanya wahyu dan kenabian.[1]

Al-Razi adalah filosof yang berani mengeluarkan pendapat-pendapatnya sungguhpun itu bertentangan dengan paham yang dianut umat Islam, yaitu:[2]

1.      Tidak percaya pada wahyu.

2.      Qur’an tidak mukjizat.

3.      Tidak percaya pada nabi-nabi.

4.      Adanya hal-hal yang kekal dalam arti tidak bermula dan tidak berakhir selain Tuhan.

Berikut gaya dan pokok penolakan Al-Razi.

Al-Razi membantah terhadap kenabian dengan beberapa alasan:

1.      Bahwa akal sudah memadai untuk membedakan antara yang baik dan yang buruk, yang benar dan yang jahat, yang berguna dan yang tak berguna. Melalui akal, manusia dapat mengetahui Tuhan dan mengatur kehidupan kita sebaik-baiknya. Kemudian mengapa masih dibutuhkan Nabi ?

2.      Tidak ada keistimewaan bagi beberapa orang untuk membimbing semua orang, sebab setiap orang lahir dengan kecerdasan yang sama perbedaanya bukanlah pembawaan alamiah, tetapi karena pengembangan dan pendidikan (eksperimen).[3]

3.      Para Nabi saling bertentangan. Apabila mereka berbicara atas nama satu Tuhan mengapa implementasi mereka terhadap pertentangan ? setelah menolak kenabian kemudian Al-Razi mengkritik agama secara umum. Ia menjelaskan kontradiksi-kontradiksi kaum Yahudi, Kristen, ataupun Majusi. Pengikatan manusia terhadap agama adalah karena meniru dan kebiasaan, kekuasaan ulama yang  mengabdi kepada Negara dan manipestasi lahiriah agama, upacara-upacara, dan peribadatan yang mempengaruhi mereka yang sederhana dan naif.

Ketika ditanya bagaimana filsafat bersikap terhadap iman pada sebuah agama wahyu, ia menjawab: “Bagaimana seseorang dapat berpikir secara filosofis sedangkan ia mengikatkan diri pada cerita-cerita kuno, yang ditegakkan atas dasar kontradiksi, kebodohan yang membandel, dan dogmatisme? Kenabian khusus (special prophecy), tegasnya, merupakan sesuatu yang tak layak, bibit perselisihan yang tak diperlukan: “Bagaimana Anda menerima bahwa Tuhan lebih mencintai seorang manusia sebagai pengemban standar umat manusia, yang membuat manusia lainnya bergantung padanya? Bagaimana Anda dapat mempertemukan kebijaksanaan Tuhan Yang Maha bijaksana dengan memilih seseorang dengan cara demikian, yang membuat umat manusia siap untuk saling membunuh, menimbulkan pertumpahan darah, perang, dan konflik!

Al-Razi menegaskan bahwa kemurahan dan rahmat Tuhan melampaui wahyu yang khusus. Pengalaman kenabian adalah pekerjaan jiwa yang mati yang sangat bodoh dan jahat untuk membuat perpisahan total dengan hal-hal jasmaniah. Jiwa jahat seperti itu tetap hidup di dunia, terikat dengan kejasmaniahan oleh hasrat dan nafsu. Setelah menemukan tubuh yang jahat sebagai wahana, mereka muncul dalam samaran malaikat untuk menipu dan menyesatkan kita, sehingga menyebabkan pertumpahan darah, pertikaian dan kerusakan di antara manusia.[4]

Al-Razi mengkritik secara sistematis kitab-kitab wahyu Al-qur’an dan injil. Ia mencoba mengkritik yang satu dengan menggunakan yang lainnya. Misalnya ia mengkritik agama Yahudi dengan paham-paham Kristen dan Islam. Kemudian ia mengkritik Al-qur’an dengan Injil.

Pertama, ia menolak mu’jizatnya Al-qur’an baik karena gayanya, maupun isinya dan menegaskan adanya kemungkinan menulis kitab yang lebih baik dalam gaya yang lebih baik. Al-Razi lebih suka terhadap buku-buku ilmiah daripada kitab suci, sebab buku-buku ilmiah lebih berguna bagi kehidupan manusia daripada kitab-kitab suci. Buku-buku kedokteran, astronomi, geometri dan logika lebih berguna daripada injil dan Al-qur’an.

Penulis-penulis buku ilmiah ini telah menemukan kenyataan dan kebenaran melalui kecerdasan mereka sendiri tanpa bantuan para Nabi.

Ilmu pengetahuan berasal dari tiga sumber, yaitu : pemikiran yang di dasarkan pada logika, tradisi dari para pendahulu kepada para pengganti yang di dasarkan pada bukti meyakinkan dan akurat seperti dalam sejarah, dan naluri yang menuntun manusia tanpa memerlukan banyak pemikiran.[5]

Oleh karen itulah tidak masuk akal apabila Tuhan  mengutus para Nabi, karena banyak melakukan kemadharatan. Adanya peperangan yang terjadi diantara berbagai bangsa adalah sebagai akibat percaya kepada serve dengan mempercayai ajaran-ajaran yang dibawa mereka, kemudian saling bertentangan akhirnya timbul peperangan yang bersifat keagamaan di dunia.

Al-Razi adalah seorang yang bertuhan, dan ia juga mengaku Tuhan Maha Bijak, tetapi ia tidak mengakui wahyu-Nya atau ajaran-Nya (agama). Sebaliknya Al-Razi mengakui kemajuan dan pemikiran manusia. Al-Razi berani dalam penggunaan akal sebagai ukuran untuk menilai baik dan buruk, benar dan jahat, atau berguna dan tidak berguna.

Sehubungan dengan penolakan terhadap wahyu dan kenabian serta tidak mengakui adanya semua agama, maka dipandang dari segi teologi Islam adalah belum Muslim karena keimanan yang dipeluknya tidak konsekuen dalam pengertian tidak utuh.[6] Selebihnya wallahua’lam bis shawab.


Daftar Pustaka:

Harun Nasution, Falsafat dan Mistisisme dalam islam, Jakarta: Bulan bintang, 2008

H. A. Mustofa; Editor: Drs. Maman Abd. Djaliel, Filsafat Islam, Bandung: Pustaka Setia, 1997

Lenn E. Goodman, Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam, Bandung: Mizan, 1996

M.M. Syarif, M. A. Para Filosof Muslim, Bandung:  Mizan, 1993


[1] Harun Nasution, Falsafat dan Mistisisme dalam islam, (Jakarta: Bulan bintang, 2008 ), hal. 14.

[2] Ibid., hal. 15.

[3] Drs. H. A. Mustofa; Editor: Drs. Maman Abd. Djaliel, Filsafat Islam,  (Bandung: Pustaka Setia, 1997 ), hal. 124.

[4] Lenn E. Goodman, Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam, (Bandung: Mizan, 1996 ), hal. 250-251.

[5] M.M. Syarif, M. A. Para Filosof Muslim, (Bandung,Mizan,1993), hal. 47.

[6] Drs. H. A. Mustofa; Editor: Drs. Maman Abd. Djaliel, Filsafat Islam,  (Bandung: Pustaka Setia, 1997 ), hal. 125.
Hairus Saleh
Hairus Saleh Akademisi jadi blogger. Blogger menjadi tempat untuk tuangkan berbagai gagasan dan pemikiran.

Post a Comment for "Theologi dan Teori Kenabian Al-Razi"

close