Selamat Datang di Sabda Hairus Saleh

Wednesday, April 20, 2011

Terorisme dan Kekecewaan Terhadap Pemerintah


Oleh Hairus Saleh

Jihad menjadi senjata yang paling ampuh untuk mendoktrin seseorang menjadi terorisme. Namun hal itu, tidak lain hanyalah sebagai alat untuk mengungkapkan kekecewaan kaum radikal terhadap kekacauan kerja pemerintah demi kepentingan politik mereka.
Selama hampir satu dekade, terorisme menjadi perbincangan publik yang tak berujung. Kata terorisme tidak lagi menjadi hal yang sangat menakutkan, tetapi menjadi hal biasa karena terlalu sering kita mendengarnya.
Gebyar terorisme di Indonesia dimulai sejak meledaknya tiga bom yang hampir bersamaan di denpasar Bali yang mengakibatkan kurang lebih 180 orang menjadi korban, termasuk banyak juga yang mati saat insiden tersebut. Kemudian dilanjutkan pengeboman di Hotel J.W. Marriot, pengiriman bom kepada Ahmad Dani dan Ulil Abshar yang mengorbankan tangan petugas keamanan dan yang terakhir adalah meledaknya bom bunuh diri di Masjid Polres Cirebon.
Banyak yang dirugikan akibat marakanya terorisme ini. Diantaranya adalah pemerintah, masyarakat dan Islam. Pengaruh ini terjadi karena terorisme ini sangat berkaitan erat dengan ketiganya. Ibaratkan pemerintah sebagai taman bunga yang sangat luas, masyarakat sebagai bunga-bunga yang beranekaragam, hidup di dalamnya dengan damai, sedangkan Islam adalah ruh dari salah satu bunga yang di pinjam sebagai senjata menghancurkan taman bunga tersebut.
Pemerintah mengalami kerugian yang sangat besar karena maraknya tinakan terorisme. Tahun sebelum terjadinya ledakan bom Bali, pemerintah mendapatkan penghasilan yang sangat besar dari wisatawan-wisatawan asing yang banyak berkunjung untuk menikmati keindahan surgawi yang terdapat di daerah Indonesia, lebih-lebih di Bali. Namun pendapatan itu menjadi mengalami penurunan drastis setelah maraknya teror di Indonesia.
Para wisatawan asing trauma akan kejadian tersebut. Mereka ketakutan untuk berkunjung ke Indonesia. Mereka selalu dihantui dengan semakin maraknya terorisme. Inilah yang membentuk  pandangan mereka bahwa Indonesia tidak aman untuk dikunjungi dan diteruskan dengan klaim bahwa Indonesia terlalu banci, tidak mampu manuntaskan terorisme yang menjeratnya. Sehingga mereka pun lebih memilih berkunjung ke negara-negara lain yang mempunyai tempat wisata yang tak lebih indah dari pantai kute Bali tapi keselamatan mereka lebih terjamin.
Disamping itu, Investor-investor asing juga akan sangat enggan menanamkan modal di negara kita dengan alasan keamanan. Sedangkan pemerintah juga sangat menggantungkan perekonomian kepadan para investor.
Jika kepercayaan semua kalangan terhadap kerja pemerintah dalam menstabilakan keamanan negara semakin krisis, citra Indonesia akan semakin terpuruk di mata dunia. Akibat yang paling tampak adalah terhadap perekonomian kita. Sebagian telah di sebutkan tadi. Dampak yang lain adalah bangsa kita akan selalu dikucilkan dunia sebagai negara yang lemah. Selalu diolok-olok negara-negara tetangga seperti penghinaan-penghinaan yang pernah dilakukan Malaysia, Singapura dan yang terakhir penculikan yang dilakukan Bajak Laut Somalia.
Semua itu berawal dari anggapan remeh meraka terhadap ketidakmampuan bangsa ini dalam menyelesaikan permasalahan, termasuk masalah keamanan. Segolongan kecil bajak laut Somalia berani menculik rakyat kita. Namun bangsa sebesar ini tidak mampu mengatasi komunitas kecil Somalia. Dalam suasana seperti ini, lagi-lagi Malaysia menghina bangsa ini dengan menawarkan personil tentaranya untuk membantu tentara Indonesia dalam membebaskan warga kita yang ditawan bajak laut Somalia. Tawaran Malaysia ini jelas didasarkan pada anggapan terhadap lemahnya Indonesia sehingga bangsa kita harus dibantu agar permasalahan ini terselesaikan. Dengan kata lain, mereka mengatakan tanpa saya, Indonesia tidak akan mampu membebaskan warganya.
Karena perekonomian pemerintah semakin terpuruk, secara tidak langsung akan berdampak pada anggaran pemerintah kepada masyarakat yang semakin berkurang karena disesuaikan dengan pendapatan pemerintah. Fakta yang ada, rata-rata masyarakat kita menggantungkan nasibnya pada bule-bule, baik mereka yang datang sebagai wisatawan maupun sebagai investor.
Masyarakat Jawa Timur contohnya, mereka yang banyak menggantungkan hidupnya di tempat wisata di Bali. Mereka mengejar keramaian visitor mancanegara demi mendapatkan hasil yang memadai untuk kebutuhan hidup keluarganya. Datangnya investor asing juga akan meningkatkan lapangan pekerjaan yang akan membantu masyarakat kita berjuang melawan kemiskinan yang sudah mengakar. Meskipun mereka hanya sebagai buruh-buruh yang gajinya tidak seberapa, tetapi cukuplah untuk memenuhi kebutuhan hidup daripada mereka harus menjadi penganguran abadi. Jika wisatawan dan para investor asing sudah tidak mau lagi ke Bali, lantas bagaimana nasib-nasib mereka. Haruskah mereka gulung tikar dan kembali ke kampung halaman untuk menjadi pengangguran abadi yang kerjaannya hanya keluyuran dan bikin onar dimana-mana karena kebutuhan yang tak terpenuhi.
Selain bangsa dan msyarakat yang menjadi korban dari ulah teror ini, Islam pun juga mendapat dampaknya. Ketika sebagian para teroris ditangkap, ternyata mereka mengaku beragama Islam. Yang lebih parah lagi , mereka mengaku melakukan tindak kekerasan tersebut demi Islam yaitu jihad fii sabilillah melawan keburukan, kemaksiatan dan segala macam yang murkai Allah.
Pengakuan semacam ini jelas mencoreng nama baik Islam yang menyerukan perdamaian. Tidaklah salah jika orang-orang di luar Islam mengkaim bahwa Islam adalah gembong terorisme dan kekersan. Terutama Amerika yang sangat berantusias mengatakan Islam adalah biang dari segala kekerasan yang ada di Indonesia bahkan pada even-even terorisme internasional. Adanya pandangan-pandangan ini yang mensugesti seluruh lapisan masyarakat terutama non muslim untuk terus menilai Islam sebagai agama kekerasan.
Namun yang jelas, pasti ada motif-motif kuat yang membuat pelaku teror berani melakukan pekerjaan tercela itu. Isu-isu yang menyebar akhir-akhir ini adalah bahwa mereka dilahirkan dari doktrin-doktrin keislaman. Terbukti dengan video-video yang beredar ketika mereka hendak melakukan aksi bunuh dirinya, mereka mengucapkan lafadz-lafadz Allah berupa puji-pujian khas Islam dan pengakuan-pengakuan para terorisme yang sudah berhasil ditanggakap. Dan juga terekamnya kelompok-kelompok Islamiyah bawah tanah yang sedang latihan persenjataan di hutan-hutan. Bukti-bukti itu sebagai indiksi bahwa Islam telah mengajarkan kekerasan terhadap pengikutnya.
Jika kita telusuri, Islam tidaklah mengajari kekerasan seperti yang telah dipraktikan terorisme. Menurut gusdur, Nabi Muhammad Saw diutus tidak lain untuk membawakan Amanat persaudaraan dalam kehidupan (wa mâ arsalnâka illâ rahmatan lil ‘âlamîn) (QS al-Anbiya [21]:107), dengan kata “rahmah” diambilkan dari pengertian “rahim” ibu, dengan demikian manusia semuanya bersaudara. Kata “’alamîn” di sini berarti manusia, bukannya berarti semua makhluk yang ada. Jadi tugas kenabian yang utama adalah membawakan persaudaraan yang diperlukan guna memelihara keutuhan manusia dan jauhnya tindak kekerasan dari kehidupan. Bahkan kaum muslimin diperkenankan menggunakan kekerasan hanya kalau aqidah mereka terancam, atau mereka diusir dari tempat tinggalnya (idzâ ukhriju min diyârihim). Jadi, tindakan-tindakan kekerasan yang tidak senonoh (teror) tidak lah sesuai dengan ajaran Islam, sehingga ia sangat pantas di hukum sepantas-pantasnya sesuai dengan undang-undang yang berlaku.
Islam (pemahaman dangkal terhadap Islam) di tangan dalang terorisme hanya sebagai alat untuk merekrut masa, untuk membangkitkan semangat para penjihad (dalam bahasa teroris) demi kepentingan pribadi dan kelompok. Mereka menggapai keinginannya sebagai penguasa yang mengklaim dirinya dan golongannya sebagai yang paling benar dan satu-satunya komunitas yang berhak hidup di dunia dengan mengatasnamakan Islam dan kepentingan Islam.
Memang mereka mempunyai alasan yang cukup kuat dan menarik atas tindakan kekerasan yang mereka lakukan. Tindakan yang mereka lakukan merupakan suatu protes terhadap tindakan pemerintah yang tidak manusiawi dan tidak sesuai dengan undang-undang yang sudah menjadi dasar negara. Bentuk ketidak benaran kenerja pemerintah tampak pada dibiarkannya bentuk kemaksiatan yang dinilai sebagai perilaku tidak manusiawi, korupsi yang sudah membudaya dan maraknya suap-menyuap yang mengakibatkan rapuhnya penegakan hukum.
Menggeloranya permasalahan-permasalahan di atas, membuat masyarakat semakin kecewa terhadap pemerintah, terutama masyarakat (golongan) radikal. Sehingga ketidak percayaan terhadap rezim demokrasi semakin memuncak. Yang pada akhirnya, lahir suatu usaha untuk mengungkapkan kekecewaannya lewat pemberontakan-pemberontakan. Dan pada saat seperti ini mereka akan mencari jalan strategis untuk menggapainya.
Mengingat mayoritas masyarakat Indonesia adalah muslim, Islamlah yang menjadi alternatif yang strategis. Sehingga terciptalah doktrin-doktrin teror atas nama jihad fil Islam dan muncullah wacana rezim demokrasi harus diturunkan dan diganti dengan sistem Islam. Siapa yang memperjuangkan hal ini dengan meruntuhkan demokrasi yang diciptakan orang kafir, hal itu adalah jihad dan balasannya masuk surga bagi mereka yang mati memperjuangkannya.
Terus melajunya aksi-aksi teror ini dimotivasi oleh lemahnya pemahaman terhadap Islam, lemahnya perekonomian dan runtuhnya kestabilan pemerintah. Lemahnya pemahaman terhadap Islam tidak dapat dipungkiri, karena rata-rata yang bergabung dalam kelompok keras itu adalah orang-orang yang berlatarbelakang pendidikan ke Islaman rendah, sehingga mereka bisa terkecoh menganggap pemahaman salah terhadap Islam dianggap benar, dan mereka rela melakukan apapun demi Islam.
Penelitian terbaru yang diungkap di berita, bahwa Moh. Syarif, pelaku teror di Polri Cerebon adalah dari golongan ekonomi rendah dan berlatarbelakang pendidikan Islam rendah. Sehingga sangatlah mudah diprovokasi dengan iming-iming surga. Pasti yang tercipta dalam pikirannya adalah dari pada hidup di dunia dalam keadaan tersiksa, dirongrong kemiskinan, lebih baik mati dan masuk surga bersama para ambiyak (para nabi). Indikator yang sangat jelas bahwa ia memiliki pemahaman keislamlan yang lemah adalah melakukan teror di masjid. Sangat tidak mungkin seseorang yang mendalam pemahaman keislamnya melakukan teror (pengeboman) di rumah Allah, tempat suci umat Islam.
Kontribusi pemerintah cukup besar dalam membiarkan terorisme tetap berkembang. Keadaan ini dipicu kepentingan-kepentingan politik elemen-elemen pemerintah. jadi, golongan-golongan yang dianggap sangat radikal dan diprediksi sebagai gembong terorisme dilindungi petinggi pemerintahan dengan perjanjian akan mendukung partai-partai yang ia usung. Dengan kata lain negara dijual demi kepentingan pribadi dan kelompok. Ini sudah sangat keluar dari rilnya. Mereka tidak lagi bekerja demi rakyat atau negara, tapi bekerja demi diri sendiri dan kelompok.
Sikap menutup mata para aparat keamanan kita terhadap hal-hal yang tidak benar, juga terjadi dalam praktek kehidupan sehari-hari di masyarakat. Apabila akan diambil tindakan hukum terhadap aparat, banyak pihak lalu melakukan sesuatu untuk menetralisir” tindakan itu. Kasus bentroknya Batalyon Linud (Lintas Udara) Angkatan Darat dengan aparat kepolisian di Binjai, Sumatra Utara, dapat dijadikan contoh. Mereka melakukan tindakan “netralisasiterhadap langkah-langkah hukum, karena para anggota batalyon itu menyaksikan sendiri bagaimana para perwira mereka, baik di Angkatan Darat dan Polri, yang mendukung (backing) kelompok- kelompok pelaksana perjudian dan pengedar narkoba, tidak mendapat tindakan hukum apapun.
Masalah yang timbul kemudian adalah, bagaimana mereka dapat mencegah kelompok-kelompok kriminal dalam mempersiapkan tindakan teror terhadap masyarakat, termasuk warga asing? Sikap tutup mata itu sudah menjadi demikian luas sehingga tidak ada pihak keamanan yang berani bertindak terhadap kelompok- kelompok seperti itu. Kalaupun ada aparat keamanan yang bersih, dapat dimengerti keengganan mereka melakukan tindakan preventif, karena akan berarti kemungkinan berhadapan dengan atasan atau teman sejawatnya sendiri. Dalam hal ini berlakulah pepatahGuru kencing berdiri, murid kencing berlari.Inilah penyebab dari apa yang terjadi di pulau Bali itu, jadi tidak usah heran jika hal itu terjadi, bahkan yang harus diherankan, mengapakah hal ini baru terjadi sekarang.
Penyebab lain dari “paralyse” (kelumpuhan) tadi, adalah adanya hubungan sangat baik antara aparat keamanan dengan pihak-pihak teroris dan preman sendiri. Seolah-olah mereka mendapatkan kedudukan terhormat dalam masyarakat, karena Kemanapun ke-premanan mereka dapat ditutupi. Bahkan ada benggolan preman yang berpidato di depan agamawan, seolaholah dia lepas dari hukum-hukum sebab-akibat. Herankah kita jika orang tidak merasa ada gunanya melakukan tindakan preventif? Padahal hakikat tindakan itu adalah mencegah dilakukannya langkah-langkah melanggar hukum, dengan terciptanya rasa malu pada diri calon-calon pelanggar kedaulatan hukum.
Kalau orang merasa terjerumus menjadi preman atau teroris, herankah kita jika pihak keamanan yang justru takut dan bukannya menindak mereka? Apalagi kalau Wakil Presidennya menerima para teroris di kantor dan memperlakukan seolah-olah pahlawan? Bukankah ini berarti pelecehan yang sangat serius dalam kehidupan bermasyarakat kita? Ditambah lagi kesalahan sikap ini ditutup-tutupi pula oleh anggapan bahwa Amerika Serikat-lah yang bersekongkol dengan TNI untuk menimbulkan halhal di atas guna melaksanakan rencana jahat” dari CIA (Central Inteligence Agency)? Teori ini harus diselidiki secara mendalam, namun masing-masing pihak tidak perlu saling menunggu. Inilah prinsip yang harus dilakukan.
Untuk menghilangkan kekerasan seperti terror semacam ini, tidak lain adalah tugas kita bersama sebagi warga Indonesia. Namun, yang sangat berperan di sini adalah para tokoh-tokoh masyarakat hendaknya lebih meningkatkan usaha dalam memberikan pemahaman agama secara benar dan menjaga masyarakat agar tidak terjerumus pada tindakan kekerasan.
Juga pemerintah agar menjalankan tugasnya demi rakyat dan negara dengan maksimal, bekerjasama dengan solid antar elemen pemerintah untuk membasmi keterpurukan. dan Sadar bahwa menjadi petinggi negara merupakan suatu amanah yang sangat agung yang perlu mereka jaga kepercayaan itu dengan baik, menegakkan hukum, jujur dan terpercaya.
Yang tak kalah pentingnya adalah semua masyarakat juga mempunyai tugas mendukung program-program pemerintah dengan baik. Saling menjaga, mengoreksi antar yang satu dengan yang lain. Sehingga akan tercipta keharmonisan di bumi Indonesia tercinta ini.

0 comments:

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost Review