Selamat Datang di Sabda Hairus Saleh

Wednesday, April 20, 2011

Taoisme-Lao Tze

Oleh Hairus Saleh
Sejarah
Taoisme berasal dari seorang yang bernama Lao Tzu yang dapat diartikan sebagai “Sang Guru Tua”, “Putra Tua” ataupun “Sahabat Tua”. Beliau dilahirkan pada tahun 640 S.M. Legenda mengenai tentang asal usul seorang Lao Tzu bahwa ia dilahirkan tanpa dosa sama sekali oleh sebuah meteor; dan dikandung ibunya selama 82 tahun dan lahir sebagai pemelihara arsip di negara asalnya di sebelah barat Cina, dan bahwa dengan pekerjaannya itu ia hidup secara sederhana dan tidak banyak tuntutan.[1]
Ada versi lain mengenai sejarah seorang Lao Tzu. Sumber lain mengatakan bahwa keluarga Li di desa Keh Jin dalam distrik Tsow, melahirkan seorang putra yang diberi nama Li Peh Yang. Tetapi sedikit yang diketahui tentang masa mudanya kecuali belakangan setelah menjabat menjadi Pengawas Urusan Arsip pada Perpustakaan Kerajaan (Imperial library) di ibu kota Loyang. Dan dengan jabatannya itu, ia pun mengemukakan pendapat-pendapatnya, dan pendapatnya itu dikagumi orang-orang sehingga namanya pun bertambah harum dan ia pun memperoleh panggilan Ahli pikir tertua (Lao Tzu).[2]
Dan pada jalan-genting Hankow, seorang perwira perbatasan yang bernama Hin Yin mengenali Ahli pikir Tertua itu, lalu ia mencegatnya dan tidak mengizinkan lewat. Ia tidak mengizinkan lewat karena Lao Tzu tidak pernah menuliskan ajaran-ajarannya untuk diwarisi. Dan akhirnya Lao Tzu pun menuliskan ajarannya dalam waktu tiga hari tiga malam. Lao Tzu menuliskan bagian-bagian terpenting dari ajarannya, dan ia pun menyerahkan sebuah buku tipis yang terdiri atas 5000 huruf Tionghoa yang diberi nama dengan Tao Te Ching, yang bermakna Tao dan kodrat-Nya. Dan akhirnya ia pun diizinkan lewat menuju arah barat.
Tao, Yang Tidak Bisa-Diberi Nama
Inti pengajaran Taoisme adalah "Tao" () yang berarti tidak berbentuk, tidak terlihat, tapi merupakan proses kejadian dari semua benda hidup dan segala benda-benda yang ada di alam semesta. Dalam bab pertama Tao Te Ching, Lao-tzu menyatakan:“Tao yang dibuat dalam kata-kata bukanlah Tao yang abadi; nama yang dapat disebut dengan nama bukanlah nama yang kekal. Yang Tak Dapat Diberi Nama adalah permulaan Langit dan Bumi; yang dapat diberi nama adalah induk segala sesuatu”.
Tao sebenarnya tidak dapat diberi nama, dan ia juga tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Tao yang sesungguhnya hanya dapat dipahami dengan melalui kesadaran rohani manusia. Akan tetapi, untuk dapat memudahkan orang mengerti akan Tao ini, maka Tao harus dijelaskan dengan kata-kata. Tao secara harafiah dapat dikatakan sebagai "jalan setapak" atau "jalan". Untuk dapat lebih memahami "jalan" ini, maka ada tiga makna yang dapat dipelajari:
1. Tao adalah Jalan dari Kenyataan Terakhir, Tao tidak dapat ditangkap karena melampaui jangkauan panca indera. Tao melampaui segala pikiran dan khayalan. Oleh sebab itu, kata-kata tidak akan dapat menjelaskan Tao yang sesungguhnya. Tao adalah yang maha besar dan merupakan azas totalitas segala benda dan kehidupan. Tao adalah substansi yang mewujudkan segala benda, termasuk makhluk hidup, juga merupakan sumber asal dari setiap awal dan setiap akhir. Makna Tao yang pertama dan terdasar ini dapat diketahui, hanya melalui kesadaran mistik yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata.
2. Tao adalah Jalan Alam Semesta,Tao memiliki sifat transenden tetapi juga imanen. Tao menjadi penggerak dari alam semesta ini, yaitu sebagai kaidah, irama, dan kekuatan pendorong seluruh alam, dan juga sebagai asas penata yang berada di belakang semua yang ada. Tao adalah roh yang mendiami seluruh alam, sehingga ia menjadi “benda” dan bersifat imanen.
3. Tao adalah Jalan Manusia Menata Hidupnya,Tao juga memberikan petunjuk kepada manusia mengenai kehidupan yang seharusnya dijalani oleh manusia supaya selaras dengan cara bekerja alam semesta ini.[3]
Hukum Alam Yang Tidak Berubah
Dalam bab terakhir buku Chung-tzu, berjudul ”Dunia” dikatakan bahwa gagasan utama Lao-Tzu adalah gagasan-gagasan tentang Dai Yi atau “Yang Maha Tunggal” dan tentang Yang-Ada, bukan yang ada, serta yang tidak berubah, “Yang Maha Tunggal” adalah Tao. Dari Tao muncul satu, dan oleh karena itu Tao sendiri adalah “Yang Maha Tunggal”.“Yang Tak Berubah” adalah terjemahan dari kata ch’ang dalam bahasa Cina, bisa juga diterjemahkan sebagai yang kekal atau abadi.[4]
Di antara hukum-hukum yang mengatur segala sesuatu, yang paling fundamental adalah “Ketika sesuatu itu mencapai suatu posisi yang ekstrem, maka ia akan berbalik darinya”. Hukum itu adalah hukum keterbalikan (law of reversion): “Reversing is the movement of Tao”.(keterbalikan adalah gerak dari Tao). Dan bahwa “To go further and further meanst to revert again”(pergi terus dan terus berarti berbalik lagi). Dalam kerangka berpikir ini, setiap titik ekstrem merupakan tipping point (titik balik): yang ada diatas cuma punya kemugkinan untuk turun, sedangkan yang ada dibawah cuma punya kemungkinan untuk naik. Atau, yang banyak hanya hanya bisa habis, sedangkan yang sedikit hanya bisa menjadi banyak.[5]
Ini merupakan hukum alam. Oleh karena itu: “Bencanalah yang menopang berkah, berkahlah yang melandasi bencana”(Bab 58). Atau “Angin topan. Takkan berlangsung sepanjang pagi, demikian juga hujan angin takkan berlangsung sepanjang hari”(Bab 23). Hal yang sangat menarik terjadi ditengah krisis ekonomi global yang hebat pada awal 2009, dalam musim dingin yang sangat dingin untuk tahun itu, perdana menteri RRT, Wen Jiabao mengatakan kepada World Economic Forum di Davos,Swiss, awal Februari: “The hars winter will be gone, and spring is arround the corner”.(Musim dingin yang keras akan pergi, dan musim semi sudah mulai muncul”. Apalagi jika pernyataan ini tidak mengungkapkan Taoisme sejati!
Perilaku Manusia
            Manusia seharusnya mengetahui hukum-hukum alam dan melakukannya aktivitasnya sesuai hukum-hukum tersebut. Hal ini disebut oleh Lao Tzu dengan “Mengamalkan Pencerahan”, ketentuan umum bagi manusia yang “Mengamalkan Pencerahan” adalah bahwa seandainya ia ingin mencapai apapun maka ia harus mengawalinya dengan hal-hal yang bertentangan dari yang diinginkannya itu. Misalnya, jika orang ingin kuat maka ia harus mulai dengan perasaan  bahwa ia lemah.
            Untuk melestarikan kehidupan serta menghindari kerugian dan bahaya dalam dunia. Manusia hendaklah mempunyai sifat sabar, rendah hati dan mudah puas. Sabar adalah jalan untuk menjadikan manusia kuat. Rendah hati bertentangan langsung dengan kesombongan, karena kesombongan merupakan pertanda bahwa seorang telah mencapai batas ekstremnyq, maka rendah hati sebaliknya merupakan tanda bahwa batas yang akan dicapinya masih jauh. Dan Mudah puas merupakan jaminan agar seorang tidak bergerak terlalu jauh, dan oleh karena itu merupakan jaminan agar tidak mencapai titik ekstrem. Lao Tzu mengatakan:  ”Oleh karena itu, orang bijaksana menghindari hal-hal yang berlebihan, yang melampaui batas, yang mencapai pada titik ekstrem”(Bab 29).
Menurut Taoisme, apabila manusia menjadi sombong dan melakukan hal di luar kemampuannya, maka suatu saat dia akan mendapat celaan yang dapat membuatnya berduka atau menderita.”Dengan mengetahui bagaimana cara agar menjadi puas berarti menghindari penghinaan, dengan mengetahui dimana ia harus berhenti berarti menghindari kerugian”(Bab 45). Karena itu, seorang bijaksana yang mengenal Tao dan hukum alam akan memilih mengundurkan diri dan menolak segala penghargaan yang diberikan padanya. Ia memilih untuk tidak menonjolkan dirinya. Meskipun demikian, Taoisme tidak mengajarkan bahwa seseorang harus menyingkirkan seluruh harta benda yang dimiliki untuk mencapai ketentraman batin. Hal yang perlu dibuang adalah rasa kemelekatan terhadap harta tersebut. Dengan demikian manusia tidak akan merasakan penderitaan akibat kehilangan harta. Seperti tertulis dalam Tao Te Ching Bab 2 ayat 11b: “…Oleh karena tidak mempunyai apa-apa, maka dia tidak pernah kehilangan apa-apa.”
Dari hal diatas dapat ditarik teori umum bahwa “ Pembalikan adalah gerak balik Tao”. Teori Taoisme ini juga terkenal dengan Wu-wei, yang dapat diterjemahkan secara harfiah sebagai “tidak memiliki aktivitas” atau “tidak berbuat”.[6] Akan tetapi istilah tersebut bukan berarti tidak memiliki aktivitas sama sekali, atau tidak melakukan hal apapun. Apa yang dimaksud dari istilah ini adalah berbuat tanpa dibuat-buat dan semaunya.
Manusia yang mengikuti Tao tidak mencampuri hidup orang lain, dalam arti ia tidak memaksakan orang lain membutuhkan, ia menolong mereka menjadi bebas dengan mengikuti Tao. Manusia yang baik adalah yang mampu mengikuti jalannya alam semesta sesuai dengan Tao. Jika manusia telah berhasil mengikuti jalan Tao, maka ia tidak perlu takut akan kematian. Kematian adalah sebuah proses alam dan manusia tidak dapat melawan alam, oleh karena itu manusia tidak perlu takut atau cemas terhadap kematian. Kematian hanya mengembalikan manusia kepada Tao.[7]
Teori Politik
Dalam hal ini tampaknya Lao Tzu sepakat dengan Confucius tentang negara idaman yang dipimpin oleh seorang manusia yang bijaksana. Hanya saja dalam pelaksanaannya, manusia bijaksana disini Lao Tzu tidak sependapat dengan Confucius yang mengatakan bahwa: "Manusia bijaksana dalam memimpin sebuah negara harus berbuat banyak untuk rakyatnya". Sementara Lao Tzu justru berpendapat sebaliknya. Dia berpandangan bahwa dengan banyak melakukan banyak pekerjaan, maka justru rakyat akan semakin terbebani dengan kebijakannya. Dan ini merupakan kesulitan tersendiri. Namun ketika seorang yang bijak itu tidak melakukan apapun, kesulitan-kesulitan itu niscaya tidak akan ada.
Maka tindakan pertama kali yang harus ditempuh oleh seorang penguasa yang bijaksana adalah meniadakan semua hal tersebut. Lao Tzu berkata: "Buang kearifan, singkirkan pengetahuan, maka rakyat akan memperoleh banyak manfaat yang berlipat ganda. Buang perikemanusiaan, singkirkan perikeadilan, maka rakyat akan menurut dan memiliki rasa kebersamaan. Buang keterampilan, singkirkan keuntungan, maka pencuri atau perampok akan lenyap”(Bab 19). Dan juga, ”Jangan mengagung-agungkan orang-orang terhormat, maka rakyat tidak akan bertengkar. Jangan memandang tinggi benda-benda berharga yang sulit diperoleh, maka tidak akan ada pencurian. Itulah sebabnya manusia bijaksana memerintah rakyat dengan jalan mengosongkan pikiran mereka, serta mengencangkan syaraf mereka, dan senantiasa membuat mereka tanpa pengetahuan serta keinginan”(Bab 3).[8]
Tao tidak melakukan apapun, namun tidak ada sesuatu pun yang tidak dikerjakan. Ia membiarkan masing-masing sesuatu itu melakukan apa yang dapat dikerjakan sendiri. Menurut kaum Taoisme, penguasa Negara hendaknya meniru Tao. Juga hendaknya dia tidak melakukan apa pun, dan hendaknya membiarkan rakyat melakukan apapun yang dapat mereka kerjakan sendiri. Disini terdapat makna lain yang terkandung dalam Wu-wei (tidak berbuat apapun). Di bidang politik ini Taoisme memang merebut banyak pengaruh mulai ketika Kaisar Tang Xuanzong (Dinasti Tang, 685-762; memerintah 712-755) mendekritkan bahwa semua pejabat harus memiliki naskah Lao Tzu dirumahnya dan bahwa Taoisme juga dijadikan bahan dalam ujian penerimaan pejabat negara.[9]
DAFTAR PUSTAKA
Kusumohamidjojo, Budiono. 2010. Sejarah Filsafat Tiongkok. Yogyakarta:  Jalasutra.
Lan, Fung Yu. 2007. Sejarah Filsafat Cina, terj. John Rinaldi, S.Fil. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Smith, Huston. 2004. Agama-Agama Manusia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia
Sou’yb, Joesoef. 1996. Agama-Agama Besar di Dunia. Jakarta: Al-Husna Zikria
http:// id.wikipedia.org/wiki/Taoism

[1]  Huston Smith,  Agama-Agama Manusia. (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.2004) Hal. 231
[2] Joesoef Sou’yb, Agama-Agama Besar di Dunia, (Jakarta:Al-Husna Zikria, 1996), Hal. 189
[3]  http:// id.wikipedia.org/wiki/Taoism
[4]  Fun Yu lan, Sejarah Filsafat Cina terj. John Rinaldi, S.Fil.(Yogyakarta: Pustaka Pelajar.2007)Hal.124
[5]  Budiono Kusumohamidjojo. Sejarah Filsafat Tiongkok. (Yogyakarta:  Jalasutra. 2010)  hal. 158

[6]  Op.cit. Hal.128
[7]  http:// id.wikipedia.org/wiki/Taoism
[8]  Op.cit. Hal.131
[9]  Budiono,  Op.cit. Hal.161

0 comments:

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost Review