Selamat Datang di Sabda Hairus Saleh

Friday, April 8, 2011

Persoalan Zat dan Sifat

Oleh Hairus Saleh

a.       Awal Lahirnya Persoalan Zat dan Sifat
Masalah Zat dan Sifat Tuhan telah sejak lama menjadi bahan perdebatan di kalangan ahli kalam. Perdebatan yang berkepanjangan ini agaknya terjadi karena masing-masing golongan kalam merasa bahwa hanya fahamnya lah yang tidak salah faham, dan dapat menyucikan dan Tuhan dengan sebenar-benarnya penyucian. Truth claim ini lalu berimbas pada takfîr terhadap satu golongan oleh golongan lain.

Perdebatan yang  utamanya terjadi antara asy’ariyyah dan Mu’tazilah ini berkisar dalam apakah Tuhan memiliki sifat/sifat-sifat atau tidak. Jika Tuhan mempunyai sifat, tentunya sifat itupun kekal seperti halnya zat Tuhan, dan jika sifat itu kekal, maka yang bersifat kekal tentunya tidak hanya satu, tapi justru sebanyak sifat Tuhan dan Tuhan itu sendiri. Tegasnya, kekalnya sifat-sifat akan membawa kepada paham ta’addudu al-qudama’ atau multiciplity of eternals (adanya beberapa hal yang kekal). Dan inipun akan berimbas kepada syirk, yang telah kita ketahui bersama tidak dapat diterima dalam aliran teologi manapun.

Kaum Mu’tazilah mencoba menanggapi permasalahan ini dengan mengatakan bahwa Tuhan tidak mempunyai sifat.[1] Namun tidak berarti mereka mengatakan bahwa Tuhan tidak mengetahui, tidak berkuasa, tidak berkeinginan dan sebagainya. Tuhan tetap mengetahui dan berkuasa, namun pengetahuan dan kekuasaan ini bukanlah sifat dalam arti sebenarnya. Arti “Tuhan mengetahui” menurut Abu Huzail Tuhan mengetahui dengan perantara pengetahuan yang mana pengetahuan itu adalah Tuhan itu sendiri.[2] Arti “Tuhan mengetahui dengan esensinya” menurut Al-Jubba’i ialah untuk mengetahui Tuhan tidak berhajat kepada suatu sifat dalam bentuk pengetahuan atau keadaan mengetahui.[3] Abu Hasyim berbeda pendapat, bahwa arti “Tuhan mengetahui melalui esensinya” adalah bahwa Tuhan mempunyai keadaan mengetahui.[4] Walaupun terjadi pendapat di antara pemuka-pemuka Mu’tazilah, pada intinya mereka setuju mengatakan bahwa Tuhan tidak mempunyai sifat.

Kaum Asy’ariyyah mempunyai pendapat yang sama sekali berlawanan dengan kaum Mu’tazilah; mereka berkeyakinan bahwa Tuhan mempunyai sifat. Dan menurut Imam Al-Asy’ariy sendiri perbuatan-perbuatan Tuhan seperti mengetahui, berkehendak, berkuasa, dan sebagainya membuat penisbatan sifat tersebut menjadi tidak dapat dipungkiri. Al-Baghdadi menyatakan tentang adanya konsensus di kalangan Asy’ariyyah bahwa daya, pengetahuan, hayat, keinginan, pendengaran dan penglihatan Tuhan, serta sabda Tuhan seluruhnya bersifat kekal.[5]  Sifat-sifat ini menurut Al-Ghazali sama sekali lain dengan dari esensi Tuhan, tetapi justru mewujud dalam esensi itu sendiri.[6] Uraian-urain ini pada gilirannya pun membawa praduga bahwa yang kekal tidak hanya satu, dan untuk menepis anggapan ini, Asy’ariyyah menyatakan bahwa sifat-sifat itu bukanlah Tuhan, tetapi tidak lain pula dari Tuhan. Karena sifat-sifat tidak lain dari Tuhan, adanya sifat-sifat tidak membawa kepada paham ta’addudu al-qudama’.

Kelihatannya faham kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhanlah yang mendorong kaum Asy’ariah memilih penyelesaian diatas. “sifat” mengandung arti tetap dan kekal, sedangkan “keadaan” mengandung arti berubah. Selanjutnya sifat mengandung arti kuat, sedangkan keadaan mengandung arti lemah. Oleh karena itu, mengatakan tuhan tidak mempunyai sifat, tetapi hanya mempunyai keadaan, tidaklah segaris dengan konsep kekuasaan dan kehendak mutlak tuhan. Untuk mempertahankan kekuasaan dan kehendak mutlak tuhan, tuhan mesti mempunyai sifat-sifat yang kekal.

Kaum Mu’tazilah, karena tidak berpendapat bahwa tuhan mempunyai kekuasaan dan kehendak yang betul-betul mutlak, tetapi kekuasaan dan kehendak mutlak yang mempunyai batas-batas tertentu, dapat menerima paham bahwa tuhan tidak mempunyai sifat.

Kaum Maturidiyah golongan Bukhara, karena juga mempertahankan kekuasaan mutlak Tuhan, berpendapat bahwa mempunyai sifat-sifat. Persoalan banyak yang kekal, mereka selesaikan dengan mengatakan bahwa sifat-sifat Tuhan kekal melalui kekekalan yang terdapat dalam esensi Tuhan dan bukan melalui kekekalan  sifat-sifat itu sendiri; juga dengan mengatakan bahwa tuhan bersama-sama sifat-Nya kekal, tetapi sifat-sifat itu sendiri tidaklah kekal.[7] 

b. Tasybih dan Tajsim
Tasybih, yaitu nash yang mengabarkan penyerupaan Allah dengan makhluk, seperti :
1.“Tuhan yang Rahman bersemayam diatas Arsy.” (Q Thaha : 5)
2.“Dan Dia (Allah) bersama kamu dimana saja kamu berada.” (QS AL-Hadid : 4)
3.“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya,          dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (QS Qaaf : 16)
4.Hadits Riwayat Bukhari :

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda : “Tuhan kita, tiap-tiap malam turun kelangit dunia pada ketika tinggal sepertiga malam yang terakhir, lalu Dia berkata : ‘Siapakah yang akan berdo’a maka Aku kabulkan, siapakah yang meminta maka akan Aku beri, siapakah yang mohon ampunan, maka Aku ampuni.”

Tajsim, yaitu nash yang mengkhabarkan “anggota tubuh Allah”
1.“Sesungguhnya orang-orang yang berjanji setia kepadamu (Muhammad), sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah, tangan Allah diatas tangan mereka.”  (QS Al-Fath : 10)
2.“Dan Langit kami bangun dengan tangan Kami.” (QS Az Zariat : 47)
3. "Padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya.” (QS Az Zumar : 67).
4. “Dan buatlah perahu dengan mata Kami dan wahyu kami.” (QS Hud : 37).
5.“Segala yang didunia akan lenyap binasa, dan yang akan kekal hanyalah wajah Tuhanmu.” (QS Ar Rahman : 26)
6. "Allah cahaya langit dan bumi” (QS An Nur : 35). 
7. Hadits riwayat Bukhari dan Muslim :
“Kepada neraka jahanam selalu dilemparkan sesuatu, dan ia selalu bertanya : ‘Adakah tambahannya ?’ sampai tuhan meletakkan tumit-Nya dalam neraka jahanam itu, sehingga berhimpit isi neraka itu yang satu dengan yang lainnya, lalu jahanam berkata : ‘Cukuplah, cukup’.”

Terhadap nash-nash Al-Qur’an dan Hadits yang mengkhabarkan  tasybih, tajsim, sifat-sifat Allah, maka yang demikian itu termasuk ayat-ayat mutasyabih maka kita wajib mengimani semua ayat-ayat mutasyabih tersebut berasal dari sisi Allah. Tidak ada yang tahu ta’wilnya kecuali Allah, dan kita tidak diwajibkan mengetahui ta’wilnya, maka tidak perlu menanyakan, atau membahasnya secara mendetail berdasarkan akal pikiran.

Beberapa Pendapat Aliran Teologi Islam Tentang  Anthropomorphisme
Dari ketiga golongan ini yang berpendapat lebih moderat ialah Golongan Syi’ah Zaidiyah. Ia tidaklah membenarkan tentang pengakuan adanya sifat yang berlebihan yang diberikan kepada Ali ra., sebagaimana pendapat Syi’ah Ismailiyah yang mengatakan bahwa Ali hingga kini masih hidup, bukan terbunuh. Sebab Ali telah dikaruniai sifat-sifat ke-Tuhanan yang tak akan pernah mati, bahkan dianggapnya sebagai Tuhan [18]. Anggapan  Syi’ah lainnya mengatakan bahwa roh itu dapat berpindah dari tubuh yang satu ke tubuh yang lain. Dan Allah itu berjisim serta dapat menjelma kedalam tubuh manusia [19]. Dari pendapat ini nampaknya Syi’ah dalam hal anthropomorphisme sangat dekat dengan pengaruh Hindhu, sedangkan mensifatkan Ali dengan sifat ke-Tuhanan sangatlah dekat dengan faham agama Masehi 

c.       Tamzih :
v  Nafi Sifat
v  Itsbat Sifat

Tasybih dan Tanzih

Permasalahan Tasybi dan Tanzi juga merupakan polemik dari daulu ingga sekarang. Dalam al ini Ibn Arabi berpendapat bahwa dalam mengenal Allah manusia harus melihat TanzihNya (Kesecuian Allah dari segala sifat yang baharu) pada TasybihNya (KeserupaanNya dengan yang baharu) dan tasybihNya pada tanzihNya. Artinya untuk mengenal Allah harus menggabungkan dua aspek tadi sekaligus. Ibn Arabi sering mengutip perkataan Abu Sa’id Al-Kharraj: “ Aku mengenal Allah dengan menggabungkan dua hal yang bertentangan.” Menurutnya apabila seorang menganal Allah hanya dengan aspek tanzih berarti dia telah membatasi kemutlakanNya. Karena tanzih berarti menafikan segala sifat bagi Allah sperti yang dilakukan ole kalangan Mu’tazila yang melucuti Tuhan dari segala sifat, hingga Allah menjadi suatu yang tak bisa dikenal dan dijangkau. Al ini mengakibatkan terputusnya hubungan Tuhan dengan manusia. Kemudian jika hanya mengenal Allah dalam aspek tasybih saja seperti yang dilakukan kalangan al_mujassimah maka mengakibatkan keserupaan Tuhan dengan yang baharu.

Dalam kitab Fusus al-Hikam Ia mengatakan:

“Pensucian dari orang yang mensucikan merupakan pembatasan bagi yang disucikan, karena ia telah mengistimewakan Allah dan memisahkanNya dari sesuatu yang menyerupai, jadi pensucianNya dari suatu sifat yang wajib merupakan keterikatan dan keterbatasan, maka tidak ada di sana kecualai Yang terikat dan Maha Tinggi dengan kemutlakanNya dan ketidak terbatasanNya.”

‘Abd al_raziq al-Qasyani menjelaskan mengenai hal ini bahwa tanzih berarti mengistimewakan Allah dari segala yang baharu yang sifatnya materi dan dari segala yang tidak pantas baginya pensucian dari sigat materi, hal ini berarti bahawa setiap seuatu yang berbeda dari yang lain maka ia tentu memiliki sigat yang bertentangan dari yang lain tersebut. Dengan begitu ia menjadi teriakt denagn suatu sifat dan erbatas dengan satu batasan. Jadi tanzih tersebut merupakan pembatasan. Lebih jelasnya, bahwa yang mensucikan telah mensucikan Allah dari sifat materi dan menyamakanNya dengan sifat rohani yang suci. Dengan begitu ia telah mensucikan Allah dari keterbatasan namun dengan sendirinya ia telah membatasNya dengan kemutlakan, sedang Allah Maha Suci dari ikatan keterbatasan dan kemutlakan, akan tetapi Ia Maha Mutlaq tidak terikat oleh tanzih maupun tasybih juga tidak menafikan keduanya. Ibn Arabi juga menjelaskan:


[1] Pendapat Mu’tazilah ini lalu menimbulkan opini  dalam kalangan Asy’aariyyah bahwa pemahaman Mu’tazilah terhadap Tuhan bersifat negatif, Tuhan tidak mempunyai pengetahuan, tidak mempunyai kekuasaan tidak mempunyai hajat dan seterusnya.
[2] ____, Hilmut Ritter (Ed.), Maqalât al-Islamiyyîn wa Ikhtilâf al-Musallîn jilid II, (Constantinople: matba’ah al-Dawlah, 1930), h. 178
[3] Muhammad bi Abd al-Karim Al-Syahrastani dkk (Ed.), Al-Milal wa al-Niha jilid IIl, (Kairo, 1951), h. 122
[4] Ibid
[5] Abu al-Yusr al-Muhammad, Kitab Ushul al-Din, (Kairo: ‘Isa al-Babi al-Halabi, 1958), h. 90
[6] Muhammad al-Ghazali, Ibrahim Agah Cubukcu dan Husein Atay (Ed.), Al-Iqtishad fi al-I’tiqad, (Ankara: Ankara University, 1962), h. 138-139
[7] Abu al-Hasan Ibn Isma’il Al-Asy’ari, Kitab al-Ibanah ‘an Usul al-diniyah, Hyderabad: tat, hal. 34

0 comments:

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost Review