Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Ciri-ciri Peniti Jalan Tasawuf

Oleh Hairus Hairus
Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

A.    Pendahuluan
Secara historis setelah Nabi meninggal muncullah berbagai macam mazhab pemikiran mulai dari Syi’ah, Jabariyah, Qadariyah, Mu’tazilah, Asy’ariyah, dan hingga kini Ahmadiyah. Baik yang mempunyai latar belakang politik maupun perbedaan pendapat antara mutakallimin.

Sejak munculnya mazhab pemikiran, banyak hal yang diperdebatkan oleh mutakallimun dari berbagai mazhab pemikiran hingga saat ini. Hal yang menjadi perdebatan antara mutakallimun antara lain, persoalan kepemimpinan, zat dan sifat Allah, persoalan Jabr dan Ikhtiyar, dan salah satu persoalan yang masih menjadi perdebatan antara mutakallimun tentang ayat-ayat mutasyabihat.

Persoalan ayat-ayat mutasyabihat tidak hanya ada dalam ulum al-Quran akan tetapi juga terdapat dalam pembahasan ilmu kalam. Dalam makalah ini penulis memuat tentang pandangan empat mazhab pemikiran mengenai ayat-ayat mutasyabihat. Apa pandangan mereka tentang ayat-ayat mutasyabihat dan apa argumentasi mereka ?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas penulis akan menguraikan pembahasan tersebut dengan sebaik mungkin.

B.     Definisi Mutasyabihat
Membicarakan tentang macam ayat maka akan terdapat dua macam ayat, yaitu ayat muhkam dan ayat mutasyabihat.
Muhkam secara etimologi.
أَحْكَمْتُ الشيء فاسْتَحْكَمَ صار مُحْكَماً واحْتَكَمَ الأمرُ واسْتَحْكَمَ وثُقَ[1]
Aku menguatkan sesuatu maka dia menjadi kuat, menguatkan suatu hal maka dia menjadi kuat.
Pengertian muhkam Secara terminologi masih berkaitan dengan artinya secara etimologi, Allah SWT berfirman dalam surat Hud ayat 1 yang berbunyi:
Alif Lam Ra’. (inilah) sebuah kitab yang ayat-ayatnya dimuhkamkan, dikokohkan serta dijelaskan secara rinci, diturunkan dari sisi (Allah) yang maha bijaksana lagi Mahatahu” (Hud[11]; 1)
“Alif Lam Ra’. Inilah ayat-ayat Quran yang mengandung hikmah” (Yunus [10]:1)
“Quran itu seluruhnya muhkam”, maksudnya Quran itu kata-katanya kokoh, fasih (indah dan jelas) dan membedakan antara yang hak dan yang batil dan antara yang benar dengan dusta.
Mutasyabih secara etimologi.
 الشِّبْهُ والشَّبَهُ والشَّبِيهُ المِثْلُ والجمع أَشْباهٌ وأَشْبَه الشيءُ الشيءَ ماثله,[2]
Dalam buku Lisan al-Arab tertulis “Asyibhu dan asysyabahu dan asy-syabihu sama dengan al-mitsl (serupa, sama) jamaknya asyba, asybahu al-Syaiu al-Syai’a matsalahu (menyerupakan)
Seperti pengertian muhkam, pengertian mutasyabih menurut istilah masih ada kaitannya dengan artinya menurut bahasa, Allah SWT berfirman dalam surat az-Zumar ayat 23 yang berbunyi:
Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik, yaitu al-Quran yang mutasyabih dan  berulang-ulang” (az-Zumar[39]:23)

Dengan demikian, maka “Quran itu seluruhnya mutasyabih”, maksudnya Quran itu sebagian kandungannya serupa dengan sebagian yang lain dalam kesempurnaan dan keindahannya, dan sebagainnya membenarkan sebagian yang lain serta sesuai pula maknanya.
Contoh-contoh ayat-ayat mutasyabih:
-          يد الله فوق أيديهم (الفتح: 10)
-          الرحمن علي العرش استوي (طه: 5)
-          كل شئ هالك إلاّ وجهه (القصص: 88)[3]

C.     Perbedaan dalam pemahaman al-Mutasyabih yang lebih sempit
Para sarjana Ulumul Quran hampir sependapat bahwasanya semua ayat al-Quran adalah muhkam karena keserasian yang mantap dan kekokohan ayat-ayatnya serta keserasian gagasan, pemikiran, dan sistem serta hukum-hukumnya dalam al-Quran. menurut mereka, justifikasi penyifatan mutasyabih kepada al-Quran adalah sekadar karena kemiripan dan kesamaan antara sebagian ayat dengan sebagian lain dalam gaya bahasa dan tujuan.

Namun mereka berbeda pendapat sejak awal ketika ingin membatasi makna yang dimaksud dengan muhkam dan mutasyabih di dalam ayat 7 surah Ali Imran.[4]
u"7. Dia-lah yang menurunkan Al kitab (Al Quran) kepada kamu. di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat[183], Itulah pokok-pokok isi Al qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat[184]. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, Maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta'wilnya, Padahal tidak ada yang mengetahui ta'wilnya melainkan Allah. dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami." dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal."
وقع الاختلاف في إمكان معرفة المتشابه، و منشأ هذا الاختلاف اختلافهم في الوقف في قوله تعالي (و الراسخون في العلم) هل هو         مبتدأ خبره (يقولون) و الواو للاستثناف، والوقف علي قوله (و مايعلم تأويله إلا الله) ؟ أو هو معطوف (و يقولون) حال، و الوقف علي قوله (و الراسخون في العلم)[5]
D.    Ayat-ayat Mutasyabihat menurut:

1.      Mu’tazilah
-          Menurut hemat penulis, mu’tazilah membatasi pengertian mutasyabihat dengan pendapat tentang waqf yang kedua yaitu yang berhenti pada kalimat
(و الراسخون في العلم) bahwa hubungan antara dua kalimat itu adalah ma’thuf dan kata “yaqulun” menjadi hal. Yang menguatkan pendapat mereka bahwasanya yang mengetahui ayat-ayat mutasyabihat untuk ditakwilkan Allah dan orang-orang yang sangat dalam pengetahuannya.

Menurut al-Qadi Abd al-Jabbar dalam bukunya Mutasyabih al-Quran, ia berpendapat bahwa pernyataan امنا به)) menambah sempurna keterpujian mereka, maksudnya seseorang yang mengetahui sesuatu lalu menampakkan pembenaran yang diketahuinya itu maka ia telah melakukan sesuatu yang lebih baik daripada ia mengetahui tapi tak ingin tahu.[6]
-     Tujuan firman Allah adalah memberi sesuatu yang bermanfaat bagi mukalaf, bukan bagi-Nya sendiri, karena mustahil bagi-Nya kemanfaatan dan kemudaratan. Kemanfaatan mestilah berasal dari sesuatu yang mengacu kepada maknanya. Dengan demikian mestilah semua firman-Nya merupakan petunjuk yang bisa dipakai untuk mengetahui maksud-Nya.
-          Tidak mungkin ayat-ayat datang dari Allah tidak memberi pengertian apapun, Allah tidak mungkin menghendaki ayat-ayat mutasyabihat yang memiliki manfaat bagi mukallaf namun tidak dapat diketahui, maka ini pun akan membuat ayat-ayat itu percuma saja atau sama saja Allah mewajibkan manusia untuk mempercayainya sebagai sesuatu yang tidak bermanfaat apapun.

2.      Syi’ah

3.      Salafiyah
Salafiyah merupakan mazhab pemikiran yang sama sekali mengharamkan untuk mengamalkan ayat-ayat mutasyabih.
Ulama salafiyah memilih pendapat yang pertama yaitu
(و الراسخون في العلم)   مبتدأ خبره (يقولون) و الواو للاستثناف، والوقف علي قوله (و مايعلم تأويله إلا الله)  
Pendapat Ibnu Abbas bahwa muhkam itu apa yang diimani dan diamalkan sementara mutasyabih adalah apa yang diimani tapi tidak diamalkan.[7] Tidak mengamalkan ayat-ayat mutasyabih makan berdampak pada penafsiran ayat-ayat al-Quran Adapun argumentasi mereka tentang tafsir Al Quran secara tekstual.
إنما توقفنا في تفسير الآيات وتأويلها لأمرين :
أحدهما : المنع الوارد في التنزيل في قوله تعالى : ( فأما الذين في قلوبهم زيغ فيتبعون ما تشابه منه ابتغاء الفتنة وابتغاء تأويله وما يعلم تأويله إلا الله والراسخون في العلم يقولون آمنا به كل من عند ربنا وما يذكر إلا أولوا الألباب ) فنحن نحترز عن الزيغ .

والثاني : أن التأويل أمر مظنون بالاتفاق والقول في صفات الباري بالظن غير جائز فربما أولنا الآية على غير مراد الباري تعالى فوقعنا في الزيغ بل نقول كما قال الراسخون في العلم ( كل من عند ربنا ) آمنا بظاهره وصدقنا بباطنه ووكلنا علمه إلى الله تعالى ولسنا مكلفين بمعرفة ذلك إذ ليس ذلك من شرائط الإيمان وأركانه.[8]

 Adapun hadis yang menguatkan pendapat mereka yaitu:
عن عائشة قالت: تلا رسول الله صلي الله عليه و سلّم هذه الاية ] uqèd üÏ%©!$# tAtRr& y7øn=tã |=»tGÅ3ø9$# - إلي قوله - (#qä9'ré& É[=»t6ø9F{$#  قال رسول الله صلي الله عليه و سلّم: فإذا رأيت الذين يتبعون ما تشابه منيه فاولئك الّذين سمّي الله فاحذروهم.
                        “Dari Aisyah, ia berkata: Rasulullah membaca ayat ini (surat al-Imran: 7). Kemudian berkata: “apabila kamu melihat orang yang mengikuti ayat-ayat mutasyabihat mereka itulah yang disinyalir Allah. Maka waspadalah terhadap mereka.”[9]

4.      Ahlu Sunnah (Asy’ariyah)

Daftar Pustaka
Dr. Machasin, MA, al-Qadi Abd al-Jabar Mutasyabih al-Quran: Dalih Rasionalitas al-Quran. Yogyakarta: Lkis Yogyakarta, 2000
M. Baqir Hakim, Ulumul Quran. Jakarta: Al-Huda, 2006
Manna Khalil Qatan, Studi Ilmu-Ilmu Quran. Bogor: Linter Antarnusa, 2009
لسان العرب
الملل والنحل
مناع القطّان، مباحث في علوم القران بيرو



[1] لسان العرب - (ج 12 / ص 140(

[2] لسان العرب - (ج 13 / ص 503(
[3] Manna Khalil Qatan, Studi Ilmu-Ilmu Quran. (Bogor: Linter Antarnusa, 2009). Hal. 306
[4] M. Baqir Hakim, Ulumul Quran. (Jakarta: Al-Huda, 2006), hal. 255-256
[5] مناع القطّان، مباحث في علوم القران (بيروت: منشورات العصر الحديث، 1973)، ص 217
[6] Dr. Machasin, MA, al-Qadi Abd al-Jabar Mutasyabih al-Quran: Dalih Rasionalitas al-Quran. (Yogyakarta: Lkis Yogyakarta, 2000), hal. 55
[7] M. Baqir Hakim, Ulumul Quran. (Jakarta: Al-Huda, 2006), hal. 266
[8] الملل والنحل - (ج 1 / ص 100(
[9] Manna Khalil Qatan, Studi Ilmu-Ilmu Quran. (Bogor: Linter Antarnusa, 2009). Hal.308-309

Hairus Saleh
Hairus Saleh Akademisi jadi blogger. Blogger menjadi tempat untuk tuangkan berbagai gagasan dan pemikiran.

Post a Comment for "Ciri-ciri Peniti Jalan Tasawuf"

close