Selamat Datang di Sabda Hairus Saleh

Thursday, March 17, 2011

Kurangnya koleksi buku-buku bacaan dipamekasan

Pamekasan yang dikenal sebagai kota pendidikan dimadura ternyata masih mempunyai jumlah koleksi buku yang jauh dibawah standart.
Perpustakaan merupakan suatu hal yang sangat penting dalam pendidikan, dan merupakan suatu symbol kwalitas pendidikan yang ada didaerah tersebut. Sehingga kita bisa melihat maju atau tidaknya pendidikan disuatu wilayah hanya dengan melihat koleksi buku yang terdapat diperpustakaan tersebut.
Dalam hal ini, kita bisa mengaca pada wilayah-wilayah yang mempunyai perpustakaan yang sangat bagus. Jika kita belajar pada perkembangan pendidikan dalam perjalanan pemerintahan islam didunia, pemerintah islam mengalami perkembangan yang sangat pesat, dan bahkan menjadi pusat pendidikan dunia pada saat pemerintahan harun arrasyid. Pada saat itu pemerintah membangun perpustakaan besar (al Hikmah) yang mempunyai koleksi buku terlengkap diseluruh dunia. sehingga masyarakat tidak marasa malas mengkaji apapun yang mereka inginkan, dan secara tidak sadar perpustakaan tersebut menjadi pusat aktivitas masyarakat dalam bidang keilmuan karena buku apapun yang mereka butuhkan terdapat diperpustakaan tersebut. Jadi sangat wajar jika pada waktu itu banyak bermunculan para ilmuan besar seperti al farabi, alkindi, ibnu sina dan yang liannya.
Atau kita melihat pada wilayah disekitar indonesia yang mempunyai kwalitas perpustakaan yang lumayan bagus seperti Yogyakarta. Bagaimanakah perkembangan pendidikan disana?, jelas melabihi wilayah lainnya yang mempunyai perpustakaan yang lebih tidak berkwalitas. Perstasi-prestasi yang ia raih cukup membanggakan kita, baik prestasi yang berstandart nasional maupun internasional. Artinya perpustakaan merupakan roh yang akan menghidupkan pendidikan, dan mengambangkan pendidikan dengan pesat.
Nah sekarang, bagaimanakah dengan pamekasan?. Ketika pemerintah pemekasan mengklaim kotanya sebagai kota pendidikan yang mempunyai kwalitas pendidikan yang sangat bagus dan mampu bersaing dengan wilayah lain, hal ini merupakan suatu hal yang sangat kurang relevan, dan lucu.
Karena berdasarkan bukti yang ada, koleksi buku perpustakaan dipamekasan jauh dibawah standart. Pamekasan memang mempunyai perpustakaan lantai 2 yang cukup bangus di ukuran madura. Namun yang berisi buku hanya dilantai bawah saja dan itu pun hanya sedikit sekali, dan yang tersedia hanyalah buku-buku kuno terbitan tahun 80 an yang sudah kurang mengikuti perkembangan pendidikan. Dengan demikian kita bisa pastikan bahwa pemikiran masyarakat disana (para pelajar, mahasiswa, dll) jelas yang berstandart 80 an sesuai dengan buku bacaannya. Dalam hal ini pendidikan pamekasan jauh sangat ketinggalan dibandingkan dengan pendidikan yang berkembang akhir-akhir ini.
Dalam kekecewaan pernah disampaikan oleh agus subaidi (mahasisiwa unira jurusan matekatika semester v). ketika mengerjakan tugas yang diberikan dosen ia merasa sangat kebingungan karena ia tidak mendapatkan buku yang ia cari untuk menyelesaikan tugasnya. Padahal hal ini masih dalam ruang lingkup pendidikan sudah tidak ada, apa lagi buku-buku yang sudah dalam perkembangan pemikiran.

Ntah apa yang dikerjakan pemerintah pamekasan sampai mereka mengabaikan identitas dirinya sebagai kota pendidikan demi kesibukan pribadi yang tidak jelas, atau pemerintah memang tidak mempunyai kemampuan cukup untuk mengelola perpustakaan sebagai batu lompatan untuk mengembangkan kwalitas pendidikan pemekasan.
Dan apa yang dikerjakan pihak perpustakaan kok sampek tidak pernah memprotes atas perlakuan pemerintah terhadap perpustakaan yang tidak wajar, ataukah pihak perpustakaan hanya ingin mengambil keuntungan gaji saja tanpa harus memikirkan bagaimana perpustakaan bisa lebih baik, dan bisa bersaing.
Body (penjabaran dari berbagai perspektif. Histori, Sosiologis, keagamaan, dan antropologi)
kesimpulans

0 comments:

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost Review