Selamat Datang di Sabda Hairus Saleh

Tuesday, March 15, 2011

Karakteristik Para Sufi

Oleh Hairus Saleh
Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
 
Para sufi adalah orang yang sangat agung, karena ibadahnya dan segala sesuatu tentang ketundukannya terhadap Tuhan sangat lah tinggi. dengan hati yang bersih dari dosa, tentunya suasana hati mereka akan tercermin ke gerak gerik, dan tingkah laku keseharian mereka yang menunjukkan adanya perbedaan dengan orang lain yang suasana hatinya berbeda. Dengan demikian kita bisa membedakan antara sufi dengan yang lainnya yang nantinya akan penulis sampaikan dalam pembahsan ini.
Orang-orang yang mengikuti perjalanan ruhani menuju Allah berciri-ciri sebagai berikut:
1. Mereka Mematuhi Ajaran Al-Qur’an Dan Mematuhi Amalan Dan Peraturan Yang Dicontohkan Dari Perilaku Dan Kata-Kata Nabi Muharnmad Saw.
Dalam kehidupan kesehariannya mereka selalu mengingat apapun yang tercantum dalam bealqur’an baik dalam bentuk perintah dan larangan. Sehingga dalam kehidupan kesehariannya mereka selalu menjalankan seluruh yang dipeintahkan dalam alqur’an dan hadits dan menjauhi segala larangan keduanya.
Namun, dalam hal ini mereka tidak hanya mengaplikasikan dalam bentuk tingkah laku, tapi juga mempraktekkan dalam perkataan, tindakan, pemikiran, dan dalam perasaan.

2. Mereka Mengikuti Maksud Di Dalam Hati Atau Intisari Yang Tersirat Dan Yang Terpendam Dalam Ajaran Islam
Dalam kehidupan para sufi, yang menjadi pengendali utama kehidupan merekan adalah hati yang dilandaskan terhadap ajaran islam yang sudah tercantum dalam al qur’an dan sunnah. Dengan demikian jelas tingkah lakunya pasti dipengatuhi hatinya dan akan tercermin kebaikan-kebaikan yang terpancar dalam tingkah lakunya yang sesuai dangan ajaran al qur’an, tiada kesombongan yang melekat dalam hatinya, dan juga dalam tingkah lakunya.

3. Mereka Sangat Paham Dan Tidak Mengikuti Begitu Saja Ajaran-Ajaran Islam
Namun ketika mengikuti yang ada dalam al qur’an dan sunnah, mereka tidak sekedar mengikutinya tanpa pemahaman yang tidak jelas sehingga tingkah laku tersebut tidak benar. Mereka sangat memahami dengan jelas segala ajaran islam yang ia lakukan, dan jika belum memahaminya, mereka tidak langsung mengaplikan dalam kehidupan keseharian mereka, namun mereka masih menjari penjelasan yang pasti akan ajaran tersebut.

4. Mereka Mematuhi Ajaran Islam Sepenuhnya, Menghayati Dan Menikmati Manisnya Ajaran Dan Prinsip Agama.
Ketika melaksanakan ajaran islam, meraka tidak mengerjakan pada saat-saat tertentu yang mereka kehengaki sesuai dengan tuntutan dari luar dirinya yaitu lingkungan yang mempengaruhinya. Tidak mengerjakan ketika orang lain melihat apapun yang mereka kerjakan.
Namun mereka selalu megerjakan dimanapun, dan kapanpun mereka berada, baik ketika ada orang yang memperhatikannya, dan tidak pula ketika waktu tertentu ketika orang lain diperkirakan melihat mereka. Kerena mereka beribadah bukan karena makhluk Tuhan, tapi beribadah karena Tuhan yang sangat ia kagumi, sehingga ia merasa selalu melihat Tuhan kapan dan dimana pun mereka ada, dan mereka sangat senang ketika berinteraksi dengan Tuhan, sehingga dia tidak pernah tidak beribadah kepada Tuhan, karena itu adalah kebutuhan batin mereka yang harus dipenuhi setiap waktu.

5. Mereka Melakukan Ibadah Bukan Karena Paksaan, Tetapi Mereka Merasa Nikmat Melakukannya. Inilah Jalan Mistik (Keruhanian) Yang Mereka Patuhi.
Mereka adalah orang-orang sufi yang faham akan ajaran-ajaran islam, dan faham, dan juga sadar bahwa apa yang mereka lakukan adalah sesuatu yang sangat penting dalam berhubungan dengan Tuhan yang mereka cintai, dengan demikian mereka melakukan apapun dengan rela demi dekat, dan menyatu dengan kekasih hatinya yang sangat ia cintai yaitu Tuhan yang Meha Esa. Dengan demikian mereka tidak merasa berat beribadah, malah sangat senang, bahagia karena merasa nikmat bersama kekasih tercintanya. Ibaratkan kita sangat kangen, dan suatu saat bertemu dengan kekasih yang sangat kita kangenin. Maka berapa lamapun kita bersamanya, kita tetap akan merasa sangat nikmat sampai kita lupa akan segalannya, yang ada hanyalah satu (kekasih hati). Begitu pula para sufi yang sedang ekstasi akan cinta kepada Tuhan.
Karena sudah seperti itu berarti dia sudah lepaskan diri dari makhluk lainnya. Seperti yang dikatakan Syeikh Abdul Qadir al-Jailani:
“Sekiranya kita ikhlas dalam amalan, kita akan diceraikan dari kalangan makhluk, sehingga seolah-olahnya kita merasa jemu untuk duduk-duduk bersama mereka. Hanya dengan menceraikan diri dari makhluk, kita dapat ‘bersatu’ dengan Allah!”

6. Kejujuran Sejati
Tidak pernah bohong merupakan salah satu cirri para sufi. Tidak lah heran ketika sufi tidak pernah berbohong. Kerena ia adalah orang yang sangat dekat dengan Tuhan, dan sangat sayang terhadap Tuhan, sehingga untuk berbohong merupakan suatu hal yang sangat mustahil dilakukan karena kekwatiran mereka akan ditinggalkan kekasihnya, Tuhan. Dan jika ada seseorang yang mengaku dirinya adalah seorang sufi namun ia berbohong terhadap orang lain , diri sendiri, dan juga terhadap lingkungan, bererti ia bukan lah sufi tapi ia adalah orang munafik yang sangat dimurka Tuhan.

7. Keadilan
Kadilan merupakan suatu hal yang sangat sulit dilakukan oleh seseorang. Untuk adil terhadap diri sendiri pun sangat sulit, apalagi keadilan dalam ranag yang lebih luas, seperti dalam keluarga, dan lebih-lebih dalam suatu element kekuasaan yang menjanjikan sesuatu yang menggiurkan untuk tidak adil.
Namun bagi sufi keadilan merupakan hal yang sangat mungkin. Karena keadilan merupakan salah satu ajaran tuhan yang dengan senang hati mereka mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari mereka. Dan bentuk keadilan yang mereka laksanakan adalah keadilan yang sesuai dengan yang diajarkan al qur’an dan hadits.

8. Mengenal Diri Sendiri Mengenal Diri Sendiri
Ada kata yang yang sangat berhubungan dengan pembahasan ini yang menyatakan “kenalilah Dia agar faham diri, dan kenali diri agar Dia ada”.
Maksud dalam kata tersebut tidak jauh berbeda dengan “jika orang kenal dirinya, maka ia akan kenal Tuhannya”. Karena mereka sudah kenal Tuhannya, jelas mereka sudah kenal dirinya dalam artian mereka tahu dari mana asal mula dirinya, tugas apa saja yang harus mereka lakukan dalam kehidupan ini, dan kepada siapa mereka harus berterimakasih akan rahmat yang mereka dapatkan sehingga mereka bisa menghirup udara dan menikmati kehidupan ini dengan maksimal.

9. Spritualisme Non Dogmatis
Jelas dalam pemahaman terhadap ajaran landasan spiritual mereka bukan berasal dari warisan kepercayaan ayah ibu mereka, mereka islam, beriman, dan cinta kepada Tuhan bukan karena kedua orang tua mereka yang dulunya seperi yang sudah dijelaskan.
Namun hal tersebut karena pemahaman yang mucul dari kesadaran diri yang berujung pada jalan yang benar sesuai dengan petunjuk Tuhan.

10. Disiplin Diri yang Tinggi
Dalam kata lain disebutkan dengan kata keistiqomahan. Jika dilihat dari kegiatan sufi dalam kehidupan kesehariannya, mereka adalah orang yang sangat istiqomah dalam melaksanakan apapun terutama dalam hal beribadah terhadap Tuhan.
Dan ketika ia sudah sampai pada waktu yang mereka tentukan, missal waktu untuk beribadah, maka apapun yang mereka lakukan yang tidak berhubungan dengan ibadah yang mereka lakukan pada saat itu mereka tinggal kan semua itu. Mereka berani melangkah dan mengambil resiko demi keistiqomahan yang mereka jalankan

0 comments:

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost Review