Selamat Datang di Sabda Hairus Saleh

Thursday, March 17, 2011

Agama Zoroaster


A. Sejarah
Nabi dari ajaran agama ini adalah seseorang bernama Zarathustra, yang mana dalam banyak literature lebih dikenal dengan nama Zoroaster, dari nama nabinya lah nama agama ini diambil. Terdapat beberapa versi tentang kapankah Zoroaster hidup, ada yang berpendapat pada tahun 660-583 SM , ada pula yang mengatakan dia hidup antara tahun 1700 dan 1500 SM . Sulit menyatakan satu pendapat tentang tahun kehidupan Zoroaster lebih mendekati kebenaran daripada yang lain.
Ajaran ini diperoleh Zoroaster di wilayah Azarbaijan, Persia bagian utara, ketika dia mengembara. Zoroaster banyak menyaksikan tindak kekerasan, dan karena menyadari dirinya yang lemah tak berdaya secara fisik, pikirannya sangat mendambakan keadilan dan perlunya ditegakkan hukum moral yang berlaku sama bagi yang kuat dan yang lemah demi terwujudnya kehidupan yang tertib dan tenang.
Pada usia tiga puluh tahun, Zoroaster menerima wahyu yang pertama. Pada suatu fajar ketika ia berada dalam satu perkumpulan yang sedang melaksanakan Haoma (perayaan musim semi), ia pergi ke sungai untuk mengambil air bagi keperluan upacara. Ia menyeberang masuk ke tengah sungai, dan setelah mendapatkan air secukupnya, ia kembali ke pinggir. Saat itulah ia merasakan dirinya berada dalam keadaan suci, ia merasa kesucian itu berasal dari unsur air yang murni dalam kesegaran fajar musim semi. Lalu di tepi sungai ia melihat suatu zat yang berkilauan yang menyebut diri sebagai Vohu Manah (artinya itikad baik), zat ini membawa Zoroaster ke hadapan Tuhan Ahura Mazda serta lima bentuk badan yang bersinar. Di hadapan mereka, Zoroaster tidak melihat bayangan dirinya karena mereka memancarkan cahaya yang terang benderang. Saat itulah Zoroaster menerima wahyu dari Ahura Mazda. Dari sanalah Zoroaster memulai menyebarkan ajarannya.
Di wilayah Azarbaijan, Zoroaster mendapat tentangan dari penduduknya, maka dari itu Zoroaster berangkat menuju Balkh, ibukota wilayah Baktria di Asia Tengah. Di sana Zoroaster menghadap Raja mereka yang bernama Kavi Vishtapa (dalam literature barat dikenal dengan King Hystaspes) dan mengalahkan pendeta-pendeta setempat yang dikenal dengan sebutan Majus (Magians) dalam dialog keagamaan. Akhirnya sang raja dan keluarganya memeluk agama Zoroaster dan mengumumkannya sebagai agama resmi negara.
Seiring ekspansi yang menaklukkan kerajaan-kerajaan kecil di seluruh wilayah Iran oleh salah seorang keturunan Kavi Vishtapa, Cyrus II (559-529 SM), agama Zoroaster pun terus berkembang. Perlu disebutkan bahwa Cyrus lalu mendirikan Imperium Persia yang dikenal dengan sebutan Dinasti Hakkham (di barat dikenal dengan Achaemenids). Pada masa dinasti ini, terjadi dua kali pemindahan ibukoa kerajaan, yaitu dari Balkh ke kota Sussa di sebelah timur sungai Tigris, lalu ke Persepolis.
Ketika kerajaan dipimpin oleh Raja Darius III (336-331 SM), dinasti Achaemenids di taklukkan oleh Iskandar Agung dari Macedonia, maka berlangsunglah Hellenisasi secara intensif di seluruh wilayah Persia. Hellenisasi yang bermuatan pemaksaan kebudayaan, mithologi dan filsafat Yunani berlangsung selama kurang lebih lima abad, yaitu di bawah kekuasaan dinasti Seleucids dan Arsacids (248 SM-226 M) yan dikendalikan oleh Yunani, pada masa ini pula bahasa Iran tua lenyap dan digantikan oleh bahasa Pahlavi tua yang merupakan perpaduan bahasa Yunani dan Iran.
Secara keagamaan, rakyat Persia pun mengalami perubahan, mereka secara tidak sadar menyerap mitologi Yunani tentang adanya Zeus dan dewa-dewa Yunani lainnya, juga tentang pemujaan terhadap dewa-dewa tersebut. Sehingga akhirnya agama Zoroaster yang sebenarnya monoteisme, beralih menjadi aliran-aliran seperti Mazdaisme, Mithraisme, dan Manichaenisme.
Aliran-aliran ini secara bersamaan berkembang dan dianut oleh rakyat sampai akhirnya kekuasaan atas Persia direbut oleh dinasti Sassanids (226-641 M) yang mana menjadi akhir dari kendali Yunani atas Persia. Aliran yang dianut oleh dinasti ini adalah Mazdaisme yang lambat laun juga disebut dengan Majusi karena ritual-ritual keagamaan yang dipraktekkan dipimpin oleh pendeta kuil yang disebut magus/majus.
Dalam masa dinasti Sassania, ajaran Zoroaster yang mulanya diwariskan turun temurun secara lisan, akhirnya dikodifikasi oleh Raja Khosrou (pemakalah belum menemukan sumber yang menerangkan Khosrou keberapakah yang dimaksud, Raja ini hidup tahun 531-578 M). Bahasa yang digunakan adalah bahasa Pahlevi.
Pada masa kekuasaan Khosrou III (634-641M), dinasti Sassanids ditumbangkan oleh serangan kaum Muslim yang dipimpin oleh Khalifah Umar bin Khatthab ra. Maka berakhirlah sejarah kerajaan Persia yang menganut agama Zoraoster setelah dua belas abad lamanya.
B. Ajaran
Ketuhanan
Teologi Zoroaster merupakan campuran menarik antara monotheisme dan dualisme . Menurut Zoroaster, hanya ada satu Tuhan sejati yang disebutnya Ahura Mazda (dalam sebutan Iran modern: Ormudz). Ahura Mazda ("Tuhan yang bijaksana") menganjurkan kejujuran dan kebenaran. TApi, penganut Zoroaster juga percaya adanya roh jahat, Angra Mainyu (dalam istilah Persia modern: Ahriman) yang mencerminkan kejahatan dan kepalsuan. Dalam dunia nyata, ini perlambang pertentangan abadi antara kekuatan Ahura Mazda di satu pihak dan Ahriman di lain pihak. Tiap individu bebas memilih kemana dia berpihak, ke Ahura Mazda atau ke Ahriman. Meskipun pertarungan kedua belah pihak mungkin dekat pada suatu saat, penganut Zoroaster percaya bahwa dalam jangka panjang kekuatan Ahura Mazda akan keluar sebagai pemenang. Teologi mereka juga termasuk keyakinan penuh adanya hidup sesudah mati.
Sedangkan peribatan pengikut agama ini terhadap Ahura Mazda dilaksanakan dikuil Api, suatu tempat suatu Api suci Api menyala terus menerus sebagai lambang dewa .
Akhirat
Kepercayaan agama Zoroaster tentang akhirat tidak jauh berbeda dengan Kristen, yahudi, dan Islam. Mereka sangat percaya terhadap adanya dua kehidupan yaitu kehidupan didunia, dan kehidupan setelah dunia, akhirat.
Dan kehidupan didunia adalah penentu mutlak bagi kehidupan kelak diakhirat (jika amal didunia baik, ia akan bahagia, dan jika ia tidak baik, ia akan celaka), karena amal mereka dicatat dibuku masing-masing yang mereka tidak menyebutkan nama buku tersebut .
Kiamat
Dalam agama ini dijelaskan bahwa akhir kehidupan dunia terdapat kiamat, yang merukan hari kehancuran dari semua tatanan. Setelah terjadinya kiamat tersebut akan terdapat perhitungan amal manusia secara individual. Meraka yang melakukan banyak dosa akan masuk keneraka jahannam, dan mereka yang yang melakukan pekerjaan yang baik ketika diunia mereka akan masuk surga .
Namun dalam hal ini mereka tidak langsung masuk begitu saja dalam kedua tempat tersebut. Namun masih melalui proses yang juga tidak jauh berbeda dengan islam ketika mereka menuju dua tempat setelah kiamat. Menurut mereka seluruh manusia setelah penghitungan amal mereka harus meniti sebuah jembatan menuju surge. Jika mereka berhasil meniti jembatan tersebut dengan selamat, dan mampu melintasinya, mereka akan masuk surge yang tentunya mereka merupakan orang-orang yang beramal baik. Namun bagi mereka yang bermal buruk tidak akan mampu melintasi tempat tersebut yang akhirnya jatuh keneraka jahannam.
Kebaikan
Dalam ajaran Zoroasrianime diterangkan bahwa yang masuk dalalm ranah kebaikan merupakan hal –hal yang dianggap menulong Ahuramazda menentang kejahatan untuk mengalahkan Ahriman. Diantaranya yang baik tersebut adalah kewajaran kehidupan yang dijalani seperti nikah, kawin, dan berketurunan, memelihara usaha penghidupan, pertanian dan peternakan, menjaga kesehatan dan menuatkan badan sehingga dalam agama ini tidak diperkenankan berpuasa . Intinya dari ajaran ini adalah Huhata (pikiran yang baik), Hakhata (perakataan yang baik), dan Huharsta (perbuatan yang baik).
Jenasah dan Pemakaman
Ruh dalam pandangan agama ini setelah manusia mati tidak lah pergi jauh dari jasadnya sehingga pada hari-hari dekat, mereka tidak melakukan apapun kecuali setelah tiga hari dari kematiannya mereka baru mengadakan acara sebagai ucapan selamat tingga kepada roh yang akan pergi itu.
Sedangkan janasah tidak perlu dimandikan karena manusia sudah suci, tidak boleh dihanyutkan, tidak boleh dibakar, dan tidak boleh diletakkan dilapangan terbuka yang berlandaskan atas terdapat empat unsur alam yang mereka anggap suci yaitu air, udara, tanah, dan Api (lambang Tuhan). Sehingga mereka membuat menara besar tinggi dan tidak beratap .
Catatan: hal inilah yang dicurugai sudah mempengaruh agama Yahudi, Kristen, Islam
C. Peribadatan
Agama Zoroaster mengenal beberapa peribadatan yang sangat terkenal seperti yang jelaskan oleh Mary Boyce bahwa agama Zoroaster melakukan lima kali ibadah dalam sehari semalam yang dilaksanakan pada terbitnya matahari, tengah hari, terbenamnya matahari, pertengahan antara tengah hari dan terbenamnya matahari (ashar), dan antara terbenamnya matahari sampai terbitnya matarahari . Dan jika dilihat dari ke tiga waktu (urutan sampai ke-3) perribadatan tersebut tampak diperuntukkan kepada ruh.yang telah meninggal dunia.
Sedangkan cara pelaksanaan peribadatannya adalah: pertama mereka membersihkan wajah, tangan, dan kaki dari debu, kemudian melepas kawat suci, dan berdiri dengan tali pegang dengan kedua tangannya dimuka, tegak lurus dihadapan penciptanya, dan matanya menatap symbol kebaikan yaitu Api. Kemudian dia memanjatkan doa-doa kepada yang mereka yakini yaituohrmazd, mengutuk ahriman, memasang tali kawat lagi sambil berdoa.
Namun tidak cukup sampai disitu, mereka masih mempunyai kewajiban lain yang bersifat social, yaitu merayakan peringantan hari besar tahunan yang mereka laksanakan pada musim semi, ada yang melaksanakan pada pertengahan musim panas, dan ada pula yang melaksanakan pada musim dingin. Sedangkan cara mereka merayakannya adalah dengan menghadiri peribadatan pagi hari, dan kemudian berkumpul bersama dalam kegembiraan dengan pesta bersama.
D. Kitab-kitab suci
Kitab suci agama-agama Zoroaster dikenal dengan nama Avesta. Ada tiga bagian di dalam kitab ini :
1. Gathas “nyanyian” atau “ode” yang secara umum dan tepat dinisbatkan pada Zoroaster sendiri.
2. Yashts atau himne korban yang ditunjukan kepada berbagai macam dewa
3. Vendidat atau Vedevdat, “aturan melawan syetan”. Berupa sebuah risalah yang terutama menyangkut ketidakmurnian ibadah dan prinsip dualisme yang diperkenalkan oleh Zoroaster dan diuraikan sangat panjang dalam bidang kehidupan praktis.
Gathas memuat ajaran-ajaran yang dikemukakan sendiri oleh Zoroaster. Sayangnya, bantuan ilmu bahasa hanya berhasil sebagian dalam menangkap makna teks-teksyang kabur ini. Isi bagian kitab ini bertentangan dengan Yashts ditemukan suatu konsep polyteisme yang mirip dengan konsep yang terdapat dalam kitab suci agama Hindu, Rig-Veda. Konsep polyteisme inilah yang ditentang oleh Zoroaster. Baik dalam Yashts maupun dalam Rig-Veda dijumpai sejumlah besar dewa dan setengah dewa.
Kitab suci Zoroastrian, Avesta (pengetahuan) ditulis dalam bahasa Avestan, sebuah bahasa yang serupa dengan bahasa Sansekerta. Sebuah komentari (Zend) ditulis pada abad ketiga A.D. dan gabungan antara kitab suci dan komentari (penguraian) itu dinamakan Zend-Avesta. Avesta dibagi dalam dua bagian: (1) Avesta Besar berisi Yasna (termasuk Gathas, puji-pujian yang ditulis Zoroaster), Visparad dan Verridad. (2) Avesta Kecil merupakan sebuah buku ritual dan doa.
Hal yang paling istimewa dari pengajaran Zoroastrian adalah dualismenya. Agama ini melukiskan sebuah gambaran pertarungan kekal antara dua roh utama, satu yang baik dan satu yang jahat. Ahura Mazda (atau Ormazd) dianggap dewa tertinggi, yang pada akhirnya akan mengalahkan Angra Mainyu (Ahriman), sang iblis. Sementara Ahura Mazda yang merupakan dewa tunggal digambarkan sebagai dewa yang memiliki tujuh sifat berbeda yang disebut Amesha-Spentas. Kemudian Zoroastrianisme mengubah sifat-sifat ini menjadi dewa-dewi yang lebih rendah atau pemimpin malaikat. Angra Mainyu juga memiliki tujuh sifat yang bertentangan dengan sifat-sifat Ahura Mazda:
Ahura Mazda Tujuh Sifat (Amesha-Spentas)
1. Ahura Mazda (Dewa Terang, Hikmat)
2. Asha (Benar, Adil)
3. Vohu Monah (Pikiran yang baik)
4. Kshathra (Kuasa, Kekuatan)
5. Armaiti (Kudus, Kasih, Iman)
6. Haurvatat (Sehat dan Kesempurnaan)
7. Ameretat (Kekekalan) Angra Mainyu
Tujuh sifat
1. Ahura Mazda (Dewa Terang, Hikmat)
2. Asha (Benar, Adil)
3. Vohu Monah (Pikiran yang baik)
4. Kshathra (Kuasa, Kekuatan)
5. Armaiti (Kudus, Kasih, Iman)
6. Haurvatat (Sehat dan Kesempurnaan)
7. Ameretat (Kekekalan)
Zoroastrianisme menawarkan keselamatan berdasarkan hasil usaha yang menekankan standarmoral yang tinggi. Tiga kebajikan besar yang harus dilakukan adalah pikiran, perkataan yang baik, dan perbuatan yang baik. Setiap orang bebas memilih kebenaran di atas kesesatan. Keselamatan hanya bisa dicapai jika seseorang memiliki kredit moral yang lebih tinggi, yaitu jika perbuatan baiknya melebihi perbuatan jahatnya.
Tubuh dari semua orang yang sudah mati akan dibangkitkan, dan ada hari penghakiman terakhir. Setiap jiwa akan melewati Jembatan Penampi atau Jembatan Penentu yang menuju ke surga (Rumah Puji-pujian). Orang yang jatuh di jembatan ini akan turun ke neraka. Pada akhir zaman semua yang jahat pada akhirnya akan dimusnahkan oleh sungai berApi dari baja yang meleleh. Angra Mainyu dan setan-setannya juga akan dimusnahkan. Avesta mengajarkan, bahwa sebelum penghakiman ini terjadi, seorang juruselamat atau pembebas (Soshyant) akan muncul.
Zoroastrianisme telah mengembangkan sebuah ritualisme yang ekstrim yang berpusat kuil-Api. Api suci memiliki peran yang sangat penting dalam agama ini, sehingga kadang-kadang orang Zoroastrian disebut penyembah Api. Orang Zoroastrian jelas menyangkal hal ini dengan menyatakan bahwa Api hanya merupakan sebuah simbol terang dan kemurnian Allah. Namun dalam prakteknya, orang Parsis memperlakukan Api lebih dari sekedar simbol.
Setiap kuil juga menempatkan seekor sapi putih khusus. Zoroastrian mengatakan bahwa sApi tersebut merupakan simbol yang lain (atas ciptaan dan penciptaan), tetapi sekali lagi, prakteknya kelihatan berbeda dengan teori.
Ritual dan mantera-mantera telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari agama ini, sehingga penganut Zoroastrian kelihatan lebih memperhatikan kemurnian seremonial daripada kemurnian etika. Ada penekanan untuk menghindari kenajisan yang disebabkan oleh hal-hal tertentu, terutama mayat. Ketika orang Parsis mati, mereka tidak dikuburkan atau dikremasi (dibakar), karena orang Zoroastrian tidak ingin mencemarkan bumi, air, atau Api suci. Oleh karena itu mereka meletakkan mayat di Menara Ketenangan (Tower of Silence) dimana tulang-belulang mayat akan dibersihkan oleh burung-burung pemakan bangkai.
Efek kaku yang diakibatkan oleh seremonialisme dan penyembahan yang seperti mesin telah melenyapkan Zoroastrianisme. Orang Parsis tetap membawakan doa dalam bahasa Avestan kuno, walaupun sedikit sekali dari mereka yang memahami arti dari doa-doa itu. Banyak praktek sederhana dan tidak bermakna merasuki Zoroastrianisme, sehingga menyebabkan mereka terbagi menjadi kelompok orang Parsis yang lebih orthodoks dan Parsis reformasi. Namun yang mayoritas jelas telah menjadi materialistis dan apatis.
Evaluasi Alkitabiah
(1) Pandangan Zoroastrian terhadap Allah lebih mendekati Allah Kristen dibandingkan dengan agama besar Timur manapun. Mereka monotheistik dan Ahura Mazda memiliki banyak sifat Yehovah. Namun Allah Zoroastrianisme mengecewakan setidak-tidaknya dalam
dua hal:
(a) Mainyu, roh yang jahat, tampil sama kuatnya dengan Ahura Mazda. Dualisme ini mengindikasikan bahwa Ahura Mazda sebenarnya tidak berdaulat dan mahakuasa. Sebenarnya ia tidak memiliki kekuatan untuk mengalahkan Angra Mainyu, meskipun kitab Avesta mengatakan pada akhirnya ia akan mengalahkannya
(b) Ahura Mazda bukan seorang Allah yang bersifat pribadi seperti Allah dalam Alkitab. Penyembahannya berpusat pada bentuk-bentuk ritual, bukan sebuah hubungan pribadi.
(2) Keselamatan dicapai melalui perbuatan, bukan oleh iman. Jika perbuatan baik seseorang melebihi perbuatan jahatnya, maka ia diperbolehkan masuk surga. Permasalahan manusia yang berdosa tidak diselesaikan, dan surga akan dipenuhi oleh orang-orang berdosa. Karena itu, Ahura Mazda tidak memiliki kebenaran Allah Alkitab yang menyala-nyala.
(3) Dalam agama ini, kebaikan menjadi musuh dari yang terbaik. Ada sejumlah kemiripan dengan Kekristenan, tetApi kemiripan tersebut sering mengaburkan perbedaan yang kritis.
(4) Dalam praktek yang sebenarnya, Zoroastrianisme meliputi tahyul dan okultisme. Hal ini terutama berkaitan dengan pemujaan Api suci dan sApi putih di dalam kuil-kuil.
(5) Zoroastrianisme modern mempunyai ciri-ciri ritual yang kosong, bentuk-bentuk upacara (seremoni) dan legalisme.

Daftar Pustaka
Agus Haki, Perbandingan Agama, Bandung, Bandung; C.V Dipenorogo, 1985),
Michael Keene, Agama-Agama Dunia, Yogyakarta; Kanisus, cet, 5, 2010
Haki, Agus, Perbandingan Agama, Bandung, Bandung; C.V Dipenorogo, 1985
Keene, Michael, Agama-Agama Dunia, Yogyakarta; Kanisus, cet, 5, 2010
Drs. Abdurrahman, dkk, Agama-Agama Dunia, Yogyakarta: IAIN Sunan Kali Jaga Press, 1988

0 comments:

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost Review