Selamat Datang di Sabda Hairus Saleh

Thursday, December 2, 2010

Perbandingan Pemikiran Mu'tazilah, Asy'ariyah, Imamah, dan Isma'iliah


Oleh Hairus Saleh
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Terdapat perbedaan yang sangat signifikan antara pemikiran Mu‘tazilah, Asy‘ariyyah, Imâmiyyah, dan Ismâ‘îliyyah menganai konsep dasar kalam yaitu, ketuhanan yang menjadikan islam sangat kaya akan pemikiran.
Mu‘tazilah muncul pada saat gencarnya perbedaan pendapat tentang pengkafiran antara Kwawarij, dan Murji’ah. Golongan ini dimulai dengan pandangan Wasil bin Atha tentang pelaku dosa besar yang tidak berada di neraka dan surga, melainkan berada diantara keduanya. Pendapat ini bercorak sangat rasional melontarkan argument, karena sangat berlandaskan akal.
Asy’ầriyah lahir diakibatkan adanya respon terhadap terlalu rasionalnya argument-argument yang diontarkan Mu‘tazilah dalam berfikir tentang sesuatu, yang pada waktu itu membicarakan tentang sesuatu yang berhubungan dengan ketuhanan, khususnya sifat-sifat Tuhan.
Sedangkan Imầmiah, dan Ismâ‘Îliyyah adanya perbedaan penetapan imam yang akan mereka jadikan pemimpin mereka. Dalam hal ini mereka lebih lebih mengarah pada keyaqinan bahwa Imam adalah mereka yang ditetapkan rasul, namun pada hal ini mereka masih terdapat perbedaan tentang para imam yang sudah ditetapkan Rasul.
Dalam pandangan tentang ketuhanan, mereka sepakat bahwa Tuhan adalah yang maha esa. Namun yang menjadi permasalahan, dan menjadi perdebatan adalah bagaimana manjelaskan tentang keberadaan atau ketiadaan sifat Tuhan.
Mu‘tazilah mengatakan bahwa Tuhan tidak mempunyai sifat seperti yang dikatakan Asy’ariyah. Mu‘tazilah mengatakan, jika Tuhan mempunyai sifat, hal itu menunjukkan bahwa sifat tersebut sama kekalnya dengan Tuhan. Nah, kekekalan sifat seperti itu akan membawa pada pemahaman tentang adanya kekekalan plural yang nantinya akan mengarah kepada syiri’ dan politheisme. Dan pula jika disebutkan Tuhan mempunyai sifat yang baik atau sifat wajib terhadap Tuhan (meminjam istilah Asy’ariyah), maka harus didisubutkan pula sifat-sifat buruk Tuhan atau sifat mustahil pada Tuhan (istilah Asy’ariyah). Dengan demikian sangat lebih relevan kita menyebutkan berkuasa, mengetahui, dan lainnya merupakan dzat Tuhan, bukan sifat Tuhan, demikianlah ungkapan salah satu tokoh Mu‘tazilah, an Nazhazham.
Pandangan Mu‘tazilah akan hal ini memang sangat rasisional yang jika difahami sekilas akan memunculkan pemahaman negative. Yang dinyatakan bahwa Tuhan tidak mempunyai pengetahun, tidak berkuasa, tidak hidup, tidak mendengar, tidak bergerak, dan sebagainya. Namun bukan berarti Tuhan bodoh, tidak berkuasa, dan seterusnya. Dalam hal ini Mu‘tazilah yang diwakili oleh abu huzail mengatakan bahwa Tuhan mengetahui, berkuasa bukan sifat dalam arti yang sebenarnya yang difahami sehari-hari, melainkan Tuhan mengetahui dengan perantara pengetahuan yang merupakan Tuhan itu sendiri, jika meminjam kata-kata Abu Hasyim Tuhan mengetahui dengan esensinya (Tologi Islam, Harun Nasution). Dan diperkuat lagi dengan pernyataan al Jube’i:
Sesungguhnya allah maha mengetahui dengan pengetahuan: maha kuasa dengan kekuasaan; maha hidup dengan kehidupan; dan pengetahuan, kekuasaan, dan kehidupanNya itu adalah dzatNya sendiri. (Ilmu Kalam. Dr. Abdurrozaq, dkk)
Namun, berbeda lagi dalam pandangan Asy’ariyah yang mengatakan Tuhan mempunyai sifat. Sifat tersebut timbul diakibatkan karena perbuatan-perbuatan Tuhan sendiri. Malah tidak hanya demikian, mereka juga mengatakan Tuhan mempunyai pengetahuan, kemauan, dan daya. Menurut al Ghazầlî sifat tersebut tidak berada diluar Tuhan, dan tidak sama dengan esensi melainkan menyatu dalam esensi Tuhan.
Dalam menulak serangan Mu‘tazilah tentang adanya kekekalan tidak tunggal jika ada sifat Tuhan yang kekal pula, mereka mengatakan sifat Tuhan bukanlah Tuhan itu sendiri, tapi bukan pula lain dari Tuhan. Seperti yang dikatakan al Ghazầlî:
Sifat Tuhan seperti daya, pengetahuan, hayat, kemauan, dan seterusnya tidaklah sama dengan esensi Tuhan, dan bahkan lain dari esensi Tuhan, tapi berwujud dalam esensi itu sendiri.
Artinya sifat merupakan sesuatu yang timbul dari Tuhan yang selama ada Tuhan sifatpun akan selalu ada bersamaan dengan Tuhan, sehingga tidak akan membawa pada Tuhan yang banyak seperti yang dikatakan Mu‘tazilah. Lebih lanjut Asy‘ariyyah menyatakan jika Tuhan tidak mempunyai sifat hal itu sangat bertetangan dengan kekuasaan, dan kehendak mutlak Tuhan, sehingga untuk mempertahankan kekuasaan, dan kehendak mutlak Tuhan harus ada sifat kekal Tuhan.
Mengenai sifat mustahil Tuhan (bodoh, buta, dan sifat lainya yang semuanya berjumalah 20 sifat) asy’ariyah mengatakan demikian karena tuhan maha sempurna, dan terlalu sempurna untuk melakukan sifat-sifat mustahil tersebut, tapi bukan berarti tuhan tidak mampu melakuannya.
Pandangan Imâmiyyah tentang ada tidaknya sifat tuhan dinyatakan dengan pernyataan bahwa tuhan mempunyai sifat. Jika difahami sebentar akan terjadi kesamaan dengan pandangan Asy‘ariyyah yang mengeluarkan statement “kejamakan eksistensi sifat-sifat itu menuntut sejumlah kekekalan yang sama banyaknya, tapi sebenarnya tidak sama. Alasan Imâmiyyah mengatakan demikian adalah bahwa wujudnya adalah dzatNya, yang merupakan penegasan dari sifat-sifat kesempurnaanNya, dan perwujudan dari sifat-sifat keindahan serta keagunganNya (Filsafat Islam, Tim Penerjemah Mizan).
Sifat Allah mempunyai sifat dasar yang sama dengan sebagaimana zatNya. Yang menurut ulama rasional terbagi menjadi dua jenis sifat: sifat positif, dan sifat negative. Sebagian dari sidfat positif allah ialah maha hidup, maha tahu, maha kuasa, maha kekal, dan maha maha mendengar. Sedangkan sifat negative Tuhan ialah Ia terhindar,dan jauh dari setiap sifat dari wujud yang relative. Dengan demikian sifat ini tetap juga disebut sifat keagungan yang memustahilkan tuhan diciptakan, dalam artian sifat ini membuktikan bahwa Ia berdiri sendiri, lepas dari keterbagi-bagian, kejasmanian, mengambil ruang, kelemahan dan kekurangan, dan mengalami inkarnasi.
Tidaklah sama pendapat Ismâ‘îliyyah dengan yang lainya. Dan hal inilah sebenarnya yang sangat menarik. Ismâ‘Îliyyah tidak sepakat dengan pendapat Mu‘tazilah yang mengatakan bahwa Tuhan tidak mempunyai sifat spesifik seperti pengetahuan, kekuatan, hidup, dan sebagainya. Dan juga membantah pernyataan Asy‘ariyyah yang cendrung memisahkan antara sifat, dan esensi Tuhan karena hal itu akan terjerumus pada Dualisme yaitu adanya dua kekekalan yang bersamaan dalam satu tatanan. Sedangkan yang ia utarakan adalah pernyataan yang meniadakan penisbahan sifat-sifat manusiawi Tuhan. Sedangkan konsekwuensi yang harus diterima bahwa Tuhan tidak bisa didefinikan, digambarkan, dicirikan, atau dimengerti, ataupun ada disuatu tempat sehingga tidak sesorangpun yang mampu menunaikan pengabdiannya terhadap tuhan sesuai dengan kehendakNya.
Dalam pembahasan diatas terdapat perbedaan yang sangat hebat dalam satu pembahasan. Hal ini sebenarnya yang dimaksud dengan kekayaan Islam akan pemikiran yang sangat komplit. Dan kita lihat ke empat golongan diatas sangat bersemangat berfikir mencari hakikat sesuatu dengan berbagai aspek yang cukup membanggakan. Mu‘tazilah dengan pendapatnya yang sangat rasional mampu mempengaruhi golongan lain meskipun konsepnya tidak diambli keseluruhan, dan dikritik juga. Dan semangat Asy‘ariyyah dalam membantah kerasionalan argument-argument Mu‘tazilah dengan pendapat yang juga bagus. Dan semangat kedua golongan lainnya yang juga mengkritik kedua golongan diatas (Mu‘tazilah, dan Asy‘ariyyah) dengan argumennya yang cukup kuat. Dan adanya perdebatan intelektual diatas bukan berarti akan melemahkan argument islam tentang konsep-konsep yang dianutnya, tapi malah sebaliknya, hal itu akan menambah kuatnya pendapat Islam tentang suatu konsep tertantu.

0 comments:

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost Review