Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Tafsir Surat At Tiin Ayat 4-6

Oleh Hairus Saleh


A. At Tiin Ayat 4


لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
“Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”

Di sini penulis akan membahas tentang Tafsir Surat At Tiin Ayat 4. Dalam ayat tersebut disebutkan bahwa manusia bukanlah makhluk yang tercipta dengan sendirinya sebagaimana yang dikemukakan materialisme, tetapi manusia adalah makluk yang diciptakan oleh Tuhan (Allah). Di ayat ini Tuhan menggunakan kata kami, menunjukkan adanya keterlibatan pihak selain Tuhan dalam penciptaan ini, dalam hal ini yang terlibat adalah ibu, dan bapak manusia.

Sedangkan yang dimadsud dengan bentuk yang sebaik-baiknya adalah bahwa manusia diciptakan Tuhan dibekali keistimewaan yang tidak dimiliki makhluk lain berupa kesempurnaan yang melebihi makhluk lainya. Dalam pemahaman kesempurnaan disini meliputi kesempurnaan fisik ideal tegak lurus seperti yang kita ketahui dalam kehidupan sehari-hari, tangan yang memudahkan manusia mengambil sesuatu dengan mudah, dan kesempurnaan jiwa, dan akal yang digunakan untuk mengontrol segala perbuatan yang baik atau buruk, atau kita bisa meringkas kesempurnaan-kesempunaan manusia tersebut dengan kata kesempurnaan fisik, dan psikis.

Baca juga  : Tafsir Surat Al-A'raf Ayat 175-176

B. At Tiin Ayat 5


ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ
“Kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya.”

Sub ini membahas tentang Tafsir Surat At Tiin ayat 5. Dijelaskan bahwa manusia diciptakan Tuhan melalui dua tahap. Tahap pertama yaitu tahap pembentukan tubuh (fisik), kedua, tahap penghembusan Ruh Ilahiyah yang bersumber lagsung dari Tuhan.

Seperti diketahui, pada manusia diciptakan dengan menyempurnakan fisiknya terlebih dahulu melalui proses ilmiah, yaitu dimulai dengan sari pati bumi, kemnudian pertemuan antara ovum, dan sperma, kemudian berdempetnya zyghot kedinding rahim, kemudian segumpal daging, dan tulang, dan setelah fisiknya disempurnakan baru ditiupkanlah Ruh kepadanya.

Fisik beraktivitas untuk mempertahankan hidup jasmani, dan keturunan, sedangkan roh mengantarkan hubungan dengan penciptanya, dan inilah yang menunjukkan kebutuhan-kebutuhan jasmaninya sesaui dengan tuntunan Ilahi. Ruh Ilahi adalah daya tarik yang mengangkat manusia ke tingkat kesempurnaan. Manusia mencapai tingkat setinggi-tingginya apabila terjadi perpaduan antara kebutuhan jasmani, dan rohani, antara kebutuhan fisik, dan jiwa. Tetapi, apabila ia hanya memperhatikan, dan melayani kebutuhan-kebutuhan jasmaninya saja, ia akan kembali atau dikembalikan kepada proses awalnya, sebelum Ruh Ilahi itu menyentuh fisiknya, ia kembali ke asfala safilin.

Baca juga  : Al-Qur'an Qadim, Benarkah?

E. At Tiin Ayat 6


إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ
“Kecuali orang-orang yang beriman, dan mengerjakan amal saleh; Maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.”

Namun di pembahasan ayat ini dijelaskan bahwa orang-orang yang beriman, dan beramal shalehlah yang tidak dijatuhkan ketempat yang serendah-rendahnya tadi, karena ia mempertahankan kehadiran iman dalam kalbunya, dan beramal shaleh dalam kehidupan sehari-hari.

Maksud dari kata (ممنون) disini adalah terputusnya krisis atau kesulitan yang dihadapi sang penerima disebabkan adanya nikmat yang diberikan Tuhan kepadanya. Penjelasan ini bisa diambil dari pengembalian kata ممنون terambil dari kata منن yang mempunyai arti memutus atau memotong. Dengan demikian ghairu mamnun berarti tidak putus-putusnya. Kata منة yang mengandung makna nikmat/karunia juga berasal dari kata yang sama, sehingga dapat disimpulkan dengan penafsiran seperti yang sudah dipaparkan.

DAFTAR PUSTAKA


Ash Shiddieqy, Hasbi, Tafsir Al Qur’anul Majid An Nuur, jilid 2, Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2000
Shihab, M. Quraish, Tafsir Al Mishbah, jilid 5, Jakarta: Lentera Hati, Cet. IX, 2002
Asy-Syanqithi, Syaikh, Tafsir Adhwa’ul Bayan, jilid 2, diterjemahkan oleh Bari, dkk, Jakarta: Pustaka Azzzam, Cet I, 2007
Departemen Agama, Al Qur’an, dan Tafsirnya, Jakarta: PT., dana Bhakti Wakaf, 1990


Untuk mendapatkan file versi Ms. Word silahkan download di sini.


Hairus Saleh
Hairus Saleh Akademisi jadi blogger. Blogger menjadi tempat untuk tuangkan berbagai gagasan dan pemikiran.

4 comments for "Tafsir Surat At Tiin Ayat 4-6"

al-anshori June 27, 2010 at 10:38 AM Delete Comment
boleh dijelaskan dengan detail tidak???
Hairus Saleh March 12, 2011 at 12:17 PM Delete Comment
yang mana yang harus dijelaskan lebih detail kawan...
Rey's September 6, 2016 at 4:30 PM Delete Comment
terima kasih
Hairus Saleh September 30, 2016 at 8:44 AM Delete Comment
okk..sip..sama sama
close